Agro Expo Resmi Dibuka

0
215

BANYUWANGI – Even akbar bertajuk Banyuwangi Agro Expo 2017 di buka secara resmi oleh wakil Bupati Yusuf Widyatmoko sore kemarin (13/5). Beragam potensi pertanian unggulan, mulai aneka varietas buah dan sayur, bunga, hinga aneka ragam ternak plus hasil produksi peternakan ditampilkan di ajang yang dipusatkan di kawasan persawahan, tepatnya depan kantor Sistem Admimstrasi Manunggal satu Atap (Samsat), jalan Brawijaya, Banyuwangi, tersebut.

Ratusan orang asal berbagai latar belakang mulai para anggota Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD), maupun politisi hadir menyaksikan momen pembukaan Banyuwangi Agro Expo.

Bahkan, sebelum lokasi expo dibuka pun, masyarakat telah berbondong-bondong datang ke lokasi even yang mengombinasikan pertanian, edukasi, dan pariwisata tersebut. Berbeda dengan expo bidang pertanian yang lazim digelar di berbagai daerah di tanah air, Agro Expo yang dihelat Pemkab Banyuwangi kali ini, tidak hanya  produk hasil pertanian dan peternakan.

Lebih dari itu, masyarakat bisa melihat langsung tanaman penghasil buah, sayur, maupun bunga-bunga ‘cantik’ di lokasi tersebut. Menariknya lagi, ada beberapa jenis tanaman yang cenderung belum terlalu dikenal masyarakat umum ikut ditampilkan pada ajang yang satu ini.

Beberapa di antaranya adalah, jagung manis yang bisa langsung dimakan tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Lantaran bisa langsung dimakan, jenis jagung tersebut dinamakan “buah jagung”.

Selain itu, ada pula beberapa jenis melon dengan daging buah berwarna beragam, mulai melon dengan daging buah warna putih, oranye, serta melon dengan daging buah warna hijau. Tidak ketinggalan ditampilkan pula aneka jenis tanaman pertanian andalan Banyuwangi, seperti cabai, buah naga, dan durian.

Tak pelak, Direktur Pembenihan pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suparman, yang hadir di lokasi acara, langsung menyatakan apresiasi terhadap ajang yang mengintegrasikan pertanian, edukasi, dan pariwisata tersebut.

“Selain menjadi ajang pameran potensi pertanian unggulan, ajang ini bisa menjadi agro tourism. Selain itu, yang tidak kalah penting, ajang ini bisa menjadi sarana edukasi,” ujarnya.

Dijelaskan, selama ini kalangan pemuda cenderung enggan terjun di sektor pertanian lantaran sektor yang satu ini kurang menjanjikan. Padahal, potensi ekonomi pertanian sangat besar dan sangat menguntungkan.

“Misalnya cabai rawit sudah bisa panen dalam tempo tujuh bulan setelah tanam. Bawang merah juga sangat menguntungkan. Dalam dua bulan kita bisa untung Rp 50 juta per hektare. Pun demikian dengan buah naga. Tiga kali panen sudah balik modal, panen selanjutnya menjadi keuntungan kita,” bebernya.

Sementara itu, sesaat sebelum acara dibuka, Bupati Abdullah Azwar Anas menyapa para hadirin melalui video call dari tanah suci. Anas menyampaikan terima kasih kepada jajaran Disperta serta semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Agro Expo.

Pada kesempatan itu Anas juga meminta Dinas Pendidikan (Dispendik) menginsmiksikan sekolah- sekolah memanfaatkan Agro Expo untuk media belajar siswa. “Pelajar dari sekolah-sekolah di Banyuwangi bisa datang bergiliran untuk mengetahui secara langsung sekaligus belajar di lokasi Agro Expo ini,” serunya.

Wabup Yusuf mengatakan, Banyuwangi Agro Expo merupakan rangkaian Banyuwangi Festival (B-Fest) 2017. Dia berharap, setiap tahun agro expo bisa dilakukan secara outdoor seperti halnya pelaksanan tahun ini.

“Kalau bisa lahannya lebih luas. Sehingga bisa mencakup atau menampilkan semua potensi peranian unggulan Banyuwangi,” ujarnya. Wabup Yusuf mengimbau, kalangan siswa mendatangi lokasi Agro Expo agar mereka bisa belajar langsung di lapangan.

“Tidak hanya belajar teori di kelas. Dengan belajar di lapangan, pelajar bsa lebih menangkap apa yang mereka pelajari,” serunya. Kepala Disperta Banyuwangi, Arief Setiawan, Banyuwangi Agro Expo memiliki manfaat 3 E, yakni Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi.

Secara ekologi, masyarakat bisa melihat apa yang kita tanam di lokasi ini dan bisa diterapkan di lahan milik masing-masing. Sedangkan aspek edukasi, masyarakat bisa melihat berbagai jenis tanaman.

“Secara ekonomi, jika masyarakat menanam tanaman, contohnya bunga marrygold alias kenikir yang berbunga, nilai ekonomisnya luar biasa. Masyarakat  membeli bibitnya dengan harga sangat terjangkau. Sedangkan saat sudah berbunga, nilai ekonomisnya sangat tinggi,” kata dia.(radar)

Loading...