Belajar Otodidak, Properti dan Alat Musik Hasil Urunan

0
158
Grup Seni Barong Cilik Pupus Arum Brawijaya latihan di Perumahan Kebalenan Baru II Banyuwangi kemarin.

SELURUH personel Grup Barong  Cilik Pupus Arum, Lingkungan Brawijaya, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi ini, seluruhnya masih belia. Tidak hanya  penarinya yang masih kecil. Pemain panjak (gamelan) grup barong cilik  ini juga masih usia anak-anak.

Meski tampil menari dan bermusik masih sedikit belepotan, namun  semangat anak-anak ini patut diapresiasi dalam hal pelestarian budaya. Ada sekitar 15 anak yang tergabung  dalam grup barong cilik Pupus Arum.  Mereka adalah teman sepermainan di kampung Lingkungan Brawijaya, Kelurahan Bakungan.

Awalnya, mereka ini adalah para penggemar seni jaranan dan barong di Banyuwangi. Gara-gara sering menonton seni  jaranan, akhirnya mereka juga  ingin memiliki properti kesenian barong. Ada yang membeli barong prejeng, barong kucing, barong celeng-celengan, ada pula yang membeli alat musiknya.

Mereka  membeli kendang, kempul, gong, hingga angklung.  Tidak hanya membeli properti  dan alat musik, anak-anak ini juga memanfaatkan barang bekas  menjadi alat musik dan properti. Mereka memanfaatkan kempyeng (tutup botol berbahan logam) untuk dijadikan alat musik kecrek.

Nah, setelah properti dari kesenian barong itu lengkap, sekelompok bocah ini akhirnya sering berkumpul untuk memainkan  alat musik dan properti barong. Tanpa dilatih, anak-anak ini tampak bermain seperti seniman  barong profesional. Mereka  tampak piawai memainkan barong dan alat musiknya.

Semua berawal karena mereka sering melihat seni barong. Secara otodidak mereka meniru pemain barong profesional. Akhirnya, mereka bisa memainkan seni barong dan berikut musik tradisional pengiringnya.  Koordinator Seni Barong Cilik  Pupus Arum, Rizal Aditama mengatakan, grup barong cilik ini terbentuk sejak akhir 2016  lalu.

Loading...

Rizal merasa perlu merangkul anak-anak tersebut, agar grup seni barong itu tidak hanya  sebagai ajang kesenangan sesaat.  Akan tetapi, mereka diharapkan bisa seterusnya eksis melestarikan seni budaya tradisional.  Awal-awal dulu, grup barong  cilik ini sering diminta tampil dari rumah ke rumah. Karena semakin banyak yang mengundang, anak-anak ini semakin  semangat saja untuk berlatih. Setiap pulang sekolah atau di  waktu senggang, mereka rutin berkumpul untuk berlatih.

”Karena sering tanggapan, grup ini latihan rutin dua kali dalam  sepekan agar tampilannya semakin bagus,” jelas Rizal. Karena tidak ada pelatih tari khusus, sebelum latihan dilaksanakan, anak-anak ini terlebih dahulu menonton VCD pertunjukan seni  barong atau jaranan di Banyuwangi.

Mereka pun mencontoh gerak tarian dari  para pemain barong dan jaranan yang sudah profesional.  Bahkan, para pemain cilik ini  juga ikut meniru gerakan kesurupan layaknya pemain jaranan  profesional. ”Kalau yang kesurupan itu bohong-bohongan. Kita fokus menampilkan tariannya saja,” terang Rizal lantas terkekeh.

Meski tidak sungguhan, namun  akting dari anak-anak ini sangat  memukau. Mereka berlagak seperti  orang sudah kesurupan. Dengan mata melotot, anak-anak ini terus  menari dan tak jarang minta  dicambuk badannya selayaknya  pemain jaranan yang kesurupan.

”Kadang aksi dari anak-anak ini juga membuat penonton yang melihat tertawa karena lucu. Kita harus mengapresiasi karena mereka adalah generasi penerus seni  budaya daerah,” tandasnya.  Lambat laun, grup seni barong anak-anak ini semakin eksis.

Mereka pun dengan inisiatif  sendiri beserta dukungan dari orang tua, dengan suka rela juga iuran Rp 5 ribu setiap pekan. Uang kas grup itu dikumpulkan  untuk keperluan operasional  grup barong tersebut. ”Uang itu ya kembali untuk anak-anak itu  sendiri. Untuk keperluan servis  barong atau alat musik yang rusak. Orang tua mereka mendukung,  kadang mereka juga diantar orang tua saat latihan,” ujar pria yang  tinggal di Perumahan Kebalenan Baru II Banyuwangi itu.

Saat ini, kata Rizal, penampilan  mereka hanya digunakan sebagai ajang penyaluran bakat. Namun, Rizal bercita-cita agar anak-anak   itu terus melestarikan seni barong dan jaranan hingga dewasa nanti.  Dengan catatan, mereka tetap harus sekolah dan terus menuntut  ilmu agama.

”Kita mau diundang kalau hari Sabtu atau Minggu. Selain hari itu kita menolak tanggapan, karena pemainnya masih sekolah semua, ” pungkasnya.(radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :