Bisnis Manis Pentol Krikil ala Eko Setia Budi

0
2008

Pekerjakan 12 Karyawan, Punya Empat Murid

TANGAN Eko tak henti-hentinya mengaduk bulatan-bulatan kecil pentol krikil dari tempatnya pagi itu. Beberapa pembeli dengan penuh kesabaran menunggu pentol krikil yang diberikan Eko. Mereka yang sudah dapat jatah langsung mencampur bulatan daging beukuran kelereng tersebut dengan  kecap, saus, dan sambal yang sudah disediakan di gerobak milik pria beruaia 41 tahun tersebut.

Sudah tujuh tahun lebih Eko membuka usaha pentol krikil di  depan kampus Stikes Banyuwangi. Nyaris semua angkatan bidan atau perawat yang berkuliah di  Stikes bisa dipastikan mengenal  pria yang selalu menggunakan blangkon saat berjualan pentol  krikil tersebut.

“Kalau ditotal sudah 10 tahun jadi penjual pentol krikil. Saya jualan mulai kampusnya masih bernama Akper di Timur Dinas kesehatan sana,” ujar Eko.  Sebelum berjualan pentol krikil, pria yang tidak tuntas menyelesaikan pendidikan SMK-nya itu mengaku berjualan bakso di depan  SD Al-Khairiyah.

Namun, setelah melihat banyaknya mahasiswa Akper yang berkuliah, Eko mulai berpikir untuk berjualan di dekat kampus Stikes. Dia pun merubah dagangannya yang sebelumnya pentol bakso menjadi pentol  berukuran kecil-kecil yang kemudian dikenal dengan pentol krikil.

“Daya beli mahasiswa berbeda. Lagi pula mereka ini maunya yang lebih praktis, jadi saya buat bakso yang ekonomis, ya pentol  krikil ini,” jelas Eko. Dimulai dari situ, Eko pun tekun menjalani bisnisnya. Meski  awalnya kecil, tetapi lama  kelamaan pembelinya semakin banyak.

Selain mahasiswa Akper, beberapa pegawai RSUD, Dinkes, guru-guru dan warga yang ada di sekitar tempatnya berjualan mulai ikut menjadi pelanggannya. Mereka, bahkan tetap menjadi pembeli setia setelah Eko  memindahkan rombong pentol krikilnya ke kampus Stikes yang berada di sebelah barat kantor  BPJS Kesehatan. Bahkan, tak jarang mereka mengeluh jika Eko libur berjualan.

“Kalau ditanya untung, ya lumayan. Dulu  ketika berjualan bakso daging sapinya jauh lebih banyak. Sekarang kalau bakso kerikil porsinya lebih sedikit. 70 persen daging  ayam, 30 persen daging sapi,”  bebernya. Selain pentol krikil yang menjadi menu utama, Eko juga menyiapkan beberapa menu  seperti  siomay basah, siomay kering,  tahu basah, tahu kering, dan  pentol berukuran sedang.

Seiring semakin banyaknya pembeli  yang menyerbu rombongnya,  Eko pun mengaku mulai kerepotan. Sampai akhirnya kemudian Eko mempekerjakan sekitar 12 orang tetangganya untuk membantu memproduksi pentol krikil. Setiap hari usai dirinya berbelanja daging sapi dan daging  ayam di pasar, belasan orang itu akan datang untuk membantu membuat pentol krikil.

Di rumahnya yang berada di Jalan Teratai  Kelurahan Singomayan, tetangganya itu membantu membuat  pentol-pentol krikil. Selain itu,  dalam sebulan terakhir Eko mengaku mulai merambah bisnis sempol. Tetangga-tetangganya juga ikut  membantu membuat sempol.  Mereka mendapat bayaran Rp 50 per tusuk untuk sempol dan Rp  20 ribu untuk tiap ember pentol krikil.

“Rata-rata tetangga saya  yang kurang mampu ikut  bekerja  membuat pentol krikil dan sempol. Ini juga siomay kering barang  titipan dari anak yatim. Saya tidak ambil untung sama sekali dari  barang-barang titipan. Saya senang sudah bisa membantu,” kata bapak satu anak itu.

Setiap harinya Eko mengaku  bisa menjual ratusan butir pentol  krikil yang dibuat dari 70 kilogram daging ayam dan 10 kilogram  daging sapi. Totalnya ada 80   kilogram daging untuk setiap  hari. “Saya jualan dari pukul 08.00 sampai jam 12.00. Nanti kalau  habis istri saya mengantar dari   rumah pentol krikil hasil yang dikerjakan tetangga-tetangga  saya. Kalau membuat sendiri sekarang tidak sanggup,” ujar  alumni SMPN 1 Giri itu.

Meski pentol krikil yang dijualnya boleh dibilang cukup ramai karena pembeli tak kunjung  berhenti datang ke rombong milik Eko, namun pria murah senyum itu mengaku tak membuka cabang. Hanya saja, ada beberapa orang yang datang  kepadanya untuk berguru dan  meminta resep cara membuat  pentol krikil. Jadilah kemudian Eko mengajari orang-orang itu  untuk membuat pentol krikil seperti yang dibuatnya.

Mereka yang sudah belajar  kepada Eko kemudian membuka  usaha serupa di beberapa tempat  seperti Timur Hotel Warata, Kampus Universitas Banyuwangi,  dekat Supermarket Mitra Rogojampi dan depan SDN AL-Khairiyah. “Mereka datang ke saya  minta di ajari. Ya saya ajari saja,  syukur-syukur jadi rejeki mereka.  Menurut saya rejeki ini sudah ada yang mengatur. Buktinya  mereka berjualan pembeli saya  tetap seperti biasanya,” kata Eko sambil tersenyum.

Penjual pentol krikil yang  terkenal dengan pentol Stikes  itu tampak cukup disukai oleh para pembelinya. Selama 30 menit Jawa Pos Radar Banyuwangi  menemani Eko berjualan, sudah  ada lebih dari 40 orang yang datang dan pergi untuk membeli  pentol krikil.

“Tidak ada duanya kalau Pak Eko ini. Meskipun ada orang lain yang jualan pentol krikil, rasanya jauh. Jadi mending saya nunggu Pak Eko saja,” ujar  Eli, salah seorang perawat yang membeli pentol krikil. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :