Dendam, Motif Suwarni Membantai Bocah dan Kakek

0
584

Dendam,-Motif-Suwarni-Membantai-Bocah-dan-Kakek

Polisi Sebut Sidiq masih Hidup

MUNCAR – Penyidik Polsek Muncar masih terus memeriksa Suwarni alias Bancet, 68, warga Dusun Sidomulyo Barat, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, yang telah membabat Viky Ramadani, 10, tetangganya, dan Sidiq,  60, asal Desa Kedungringin (bukan Desa Kedungrejo seperti berita sebelumnya), Kecamatan Muncar, Banyuwangi,  kemarin (16/3).

Saat menjalani pemeriksaan di ruang Unit Reskrim Polsek Muncar, Suwarni alias Bancet menjawab pertanyaan penyidik dengan tenang. Semua pertanyaan polisi dijawab dengan baik. “Melihat perjalanan pemeriksaan, tersangka sehat dan normal,” cetus Kapolsek  Muncar, Kompol Agus  Dwi Jatmiko, melalui Kanitreskrim Ipda Karyadi.

Di hadapan polisi, Suwarni alias Bancet mengaku khilaf  saat membantai Viky dan Sidiq pada Selasa siang (15/3). Tersangka mengaku terlalu percaya mimpi yang baru dialami. “Saya baru bangun  tidur,” katanya kepada polisi.

Saat tidur siang itu, terang dia, Suwarni bermimpi ayah Viky, Koderi, 53, mencoba memisahkan dirinya dengan istri yang sangat dia cintai. Makanya, dia sangat dendam dan langsung mencari tetangganya itu setelah terbangun dari  tidur.

“Saya mengambil celurit dan mencari Koderi,” ujarnya. Karena Koderi tidak ada, Suwarni emosi saat melihat  Viky bermain sepeda di samping rumahnya. Bocah yang masih kelas III SD itu langsung didekati dan dibacok  dengan celurit hingga tewas.

“Setelah membacok Viky,  saya lari ke kantor desa (Desa Sumberberas),” ungkapnya. Saat berada di simpang empat dekat kantor Desa Sumberberas, tersangka mengaku seperti melihat Koderi sedang naik sepeda pancal. Makanya, orang yang ternyata Sidiq itu dihentikan dan langsung dibabat di bagian dada hingga luka parah.

“Saya salah sasaran. Saya khilaf. Tembak saja saya, Pak Polisi,” cetus pelaku kepada penyidik polsek penuh penyesalan. Kanitreskrim Ipda Karyadi menyebut, Sidiq yang dibacok Suwarni dan diberitakan mati ternyata masih hidup. Saat ini kakek yang tinggal di Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, itu menjalani perawatan di RSUD Genteng.  

“Sidiq ternyata masih hidup, kami mohon maaf,” ujarnya. Sementara itu, suasana duka terlihat menyelimuti keluarga Viky Ramadani. Kedua orang tuanya, Koderi dan Indrowati, tampak masih shock berat. Mata mereka masih sembab karena terus menangisi kepergian putra kesayangannya itu.

“Saya masih tidak percaya,” kata Koderi saat ditemui Jawa Pos Radar Genteng di rumahnya kemarin (16/3).
Koderi menyebut, Bancet sekitar sebulan lalu sempat cekcok dengan istrinya yang saat itu masih berada di rumah. Ketika itu istri Bancet sampai teriak-teriak minta tolong  karena dihajar pelaku.

“Saya dan warga melerai dan Bancet sempat mengancam akan membunuh orang yang melerai itu,” ungkapnya. Koderi yang baru enam bulan menetap di Dusun Sidomulyo Barat, Desa Sumberberas, belum mengenali betul tetangganya itu.  Beberapa hari sebelum kejadian, Bancet sering membuat ulah.

“Dapur rumahnya sering dilempari kucing. Saya hanya diam, karena saya ini orang baru,” ungkapnya. Meski Bancet sudah ditangkap polisi, Koderi dan Indrawati tidak terima dengan ulahnya yang telah membunuh anak bungsunya itu.

“Bancet harus dihukum mati.  Nyawa harus dibayar nyawa.  Pokoknya saya tidak terima,” timpal Indrowati. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :