Dicurigai Mirip Teroris, Tertahan di Bandara Changi

0
27

HARI masih sangat gelap, sinar lampu juga masih belum redup menyinari. Waktu menunjukkan pukul 02.30. Udara malam masih  dingin hingga menembus pori-pori  kulit. Di tengah gelap dan dinginnya malam, para santri sudah bangun  dari tidurnya.

Sebagian di antara mereka bahkan  sudah mulai berkemas dan bersiap menuju bandara Juanda Surabaya. Bangun di sepertiga malam bagi para  santri bukan hal baru. Terlebih bagi asatid (panggilan ustadz dan ustadzah).  Karena hampir setiap malam,  para santri dan asatid terbangun untuk mengerjakan salat malam.

Kedisplinan para santri dalam  mengerjakan salat malam, seolah sudah menjadi budaya yang mengakar sangat kuat. Tanpa  dikomando, ketika terbangun  di sepertiga malam, mereka  langsung membersihkan diri, mandi dan mengerjakan salat  qiyamul lail.

Bersama dengan kokokan ayam  dan dinginnya pagi kota Pahlawan, kami yang sudah mulai sibuk berkemas dan bersiap-siap,  langsung diantar menuju bandara Juanda Surabaya dari hotel tempat  kami menginap. Jaraknya juga tak terlalu jauh, hanya lima menit  perjalanan menuju bandara.

Untuk memudahkan selama perjalanan, semua santri dan asatid juga kompak mengenakan  seragam yang telah ditentukan.  Kami harus datang pagi-pagi  sekali ke bandara. Sebab, take  off dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Changi Singapura  dijadwalkan pukul 06.05.

Pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan C1752 yang  akan kami tumpangi sudah menunggu di apron Bandara Juanda. Semua penumpang pun bergegas memasuki pesawat dan take off meninggalkan Bandara Juanda Surabaya, menuju Bandara Changi Singapura.

Dari Surabaya menuju Bandara  Changi hanya ditempuh dua jam perjalanan. Rombongan pun turun dari pesawat, persyaratan masuk negara lain seperti paspor  sudah disiapkan jauh sebelumnya. Satu persatu dokumen para rombongan santri Al-Kautsar diperiksa petugas keimigrasian Singapura.

Di tengah kesibukan dan ketatnya pemeriksaan, rombongan kami sempat tertahan sekitar 30  menit di bandara. Bukan karena gurauan bom atau karena tidak  membawa paspor, melainkan  salah satu ustad dalam rombongan kami wajahnya mirip seperti  terduga teroris.

Dia adalah Ustadz Ali Mansur. Dia harus menjalani sejumlah pemeriksaan tambahan dari  petugas keimigrasian Singapura. Padahal, segala prosedur dan ketentuan sudah dilalui, mulai dari menyerahkan paspor dan mengisi lembar formulir tentang tujuan, lama tinggal selama di Singapura.

Jalannya pemeriksaan cukup ketat dan melelahkan. Tak ayal, seluruh rombongan yang sudah lolos harus rela menunggu tuntasnya pemeriksaan Ustadz Ali  Mansur yang tak lain adalah Ketua rombongan Ponpes Modern Al-Kautsar. Ustadz Ali Mansur diminta  untuk ikut dengan petugas keimigrasian.

Pemeriksaan dilakukan secara terpisah. Selain memeriksa  berkas dokumen, sejumlah barang bawaannya juga turut dibongkar untuk digeledah petugas imigrasi  di bandara Changi Singapura.  Prosedur dan permintaan pun dilakukan dan dihadapi dengan  penuh kesabaran.

Sekitar 25 menit menjalani  pemeriksaan, Ustadz Ali Mansur pun dinyatakan lolos dan bisa masuk ke Singapura. Kami pun  turut senang dan bersyukur bisa kembali melanjutkan perjalanan.  Pemeriksaan ekstra ketat tersebut bukan kali pertama ini dialami oleh Ustadz Ali Mansur.

Pada kunjungan sebelumnya, yakni pada tahun 2016 lalu,  kejadian serupa dialaminya. Bahkan, ketika itu pemeriksaan memakan waktu lebih lama, sekitar satu jam. Dia harus bolak-balik menjalani sejumlah pemeriksaan petugas imigrasi di  Bandara Changi Singapura.

“Kata  petugas imigrasi hanya sekadar  penulisan nama Ali Mansur gandeng atau tidak. Saya juga tidak tahu kenapa. Apa karena  wajah saya ini mirip terduga  teroris begitu,” ucapnya sambil terkekeh-kekeh. Jika dilihat sepintas dari ciri  fisik, wajah Ustad Ali Mansur  memang sedikit ada kemiripan  dengan wajah terduga teroris Ali Imron.

Tak heran, jika petugas  imigrasi memeriksanya dengan ketat dan jeli. Bus penjemput juga sudah stand by di area parkir bandara. Rom- bongan santri bergabung dengan puluhan santri lainnya dari Ponpes Modern Al-Kautsar Tanjung Pinang, Kepulauan Riau  (Kepri).

Suasana pun riuh, meski  tak saling kenal satu sama lain. Para santri yang dari Banyuwangi  dan Tanjung Pinang seolah sudah  menjadi satu dan keluarga sendiri. Puluhan santri dari Ponpes  Modern Al-Kautsar Tanjung Pinang sudah melakukan perjalanan dengan jalur laut dan darat menggunakan armada bus.

Perjalanannya memakan waktu dua  jam, dari pelabuhan Tanjung Pinang menuju Pelabuhan Tanah Merah di Singapura.  Perjalanan kami lanjutkan dari  Bandara Changi menuju salah satu sekolah yang akan dikunjungi  kali pertama, yakni sekolah Bedok Green Secondary School Singapura. (radar)

Kata kunci yang digunakan :