GP Ansor Gelar Tabur Bunga di Lubang Buaya

0
151
Anggota Banser mengamati relief di Monumen Pancasila Sakti Cemetuk, Desa Cluring, kemarin (1/10).

CLURING – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan dengan menggelar khataman Alquran, tahlil, dan doa bersama oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Cluring di Monumen Pancasila Jaya, di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring kemarin (1/10).

Dalam acara yang juga diikuti oleh anggota dari ma-koramil Cluring, Polsek Cluring, MWC NU Cluring, IPNU Cluring, dan warga sekitar itu juga untuk napak tilas. Sebab, di lokasi yang juga dikenal Monumen Lubang Buaya itu tempat dikubumya 62 kader GP Ansor oleh PKI.

“Ini kita bersama-sama mendoakan arwah 62 syuhada Ansor yang menjadi korban kebiadaban PKl,” ujar Kepala Desa Cluring, Sunarto Eka Sismoyo.

Dalam acara yang digelar sederhana itu, terang dia, diawali khataman alquran, tahlil, dan doa bersama. Di akhir kegiatan, para tokoh muda NU bersama warga melakukan tabur bunga di lubang buaya, tempat dikuburkannya 62 orang yang dibantai PKI pada 18 Oktober 1965.

“Tabur bunga itu simbol penghormatan kami kepada para syuhada yang gugur membela Pancasila,” jelas kepala desa yang juga tokoh NU di Kecamatan Cluring itu. Menurut Sunarto, acara doa bersama itu juga memberi pelajaran bagi masyarakat bahwa peristiwa G.30.S/PKI tidak boleh terulang.

Keberadaan monumen Pancasila jaya di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, itu salah satu bukti sejarah dan harus menjadi teladan bagi generasi muda saat ini. “Khusus untuk warga sekitar, kita berharap kejadian ini bukan hanya untuk dikenang, tapi harus dijadikan motivasi,” katanya.

Loading...

Juru kunci Lubang Buaya, Supringi, mengatakan pada tahun 1965 lalu ada 62 orang dibantai habis oleh PKI. Mayat para syuhada yang tercecer, kemudian dikuburkan di tiga lubang yang ada di Dusun Cemetuk, Desa Cluring ini.

Ketiga lubang yang berada tepat di belakang patung burung garuda itu berukuran tiga meter kali tiga meter, tiga meter kali empat meter, dan tiga meter kali 5,5 meter. “Bisa dibayangkan puluhan orang dikubur bersama,” ujarnya.

Para korban yang dikubur di Lubang Buaya itu, lanjut dia, tidak semua dibantai atau dibunuh di lokasi itu. Sebagian besar, dibawa ke Lubang Buaya setelah meninggal atau tidak berdaya.

Aksi pembantaian dan pemakaman masal oleh PKI ini, tidak dilakukan pada 30 September 1965 seperti yang terjadi di Jakarta, tapi pada 18 Oktober 1965. “Puluhan orang yang dikuburkan di lubang tersebut tidak ada yang tahu berapa orang setiap lubangnya,” cetusnya.

Mengenai nama-nama Pemuda Ansor yang menjadi korban, Supringi mengaku tidak tahu. Ketiga lubang itu dibongkar tiga hari setelah kejadian, dan mayatnya dikembalikan pada keluarganya. “Para korban itu anggota Ansor dari Muncar,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Cluring, lskandar, mengatakan Monumen Pancasila Jaya di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring itu dianggap bersejarah. Hingga kini, tempat itu banyak dikunjungi warga untuk mengenang sejarah para pejuang.

“Tempat ini penuh sejarah, kita harus mendoakan para pejuang tersebut,” katanya. Iskandar menyebut tabur bunga dan doa bersama ini akan terus dilaksanakan setiap tahun. Itu semua agar warga dan semua elemen masyarakat bisa mengenang jasa para pejuang. Dengan digelarnya doa bersama ini juga untuk mempererat dan mempersatukan warga.

“Kita bersama warga setempat bersatu untuk menghargai tempat bersejarah seperti ini,” katanya. Menurut lskandar, dalam tabur bunga dan doa bersama ini, GP Ansor Cluring juga melakukan kegiatan social dengan membagikan paket sembako pada warga yang tinggal di sekitar monument Lubang Buaya.

“Kita ingin mengajakan untuk peduli sesama, merajut kebersamaan dengan tanpa ada dendam,” ujarnya. (radar)

loading...