Jejak Penyebaran Islam di Blambangan

0
1103

Anggap Sesama Umat Sama, Tidak Boleh Menyakiti

MBAH Unus meninggal pada 8 Pebruari 1994, dan dimakamkan di salah satu bukit yang ada di Desa Tamansari. Seperti makam para auliya, makam mbah Unus tergolong cukup luas dan terawat dengan baik. Pada hari-hari tertentu, makam itu banyak didatangi oleh warga.

Mereka, itu banyak yang dari Surabaya, Jember, dan daerah lain. Sebagian besar, warga yang datang ke makam itu justru warga keturunan. Meski hidup pada tahun 1900-an, tidak ada yang tahu sejarah Mbah Unus. Malahan, nama lengkapnya juga tidak ada yang paham.

“Saya tidak tahu nama lengkap bapak, setahuku ya mbah Unus,” cetus Mohammad Yunus, 60,  putra mbah Unus. Putra kedua dari enam saudara ini, juga mengaku tidak tahu silsilah ayahnya. Yang diketahui, dari garis ibu berasal Sayid Umar As Syakron atau buyut Perang Amuk dari Madura.

“Dari garis ayah tidak pernah mau cerita,” ungkapnya. Saat mbah Unus masih ada, banyak kejadian yang dianggap aneh. Pernah ada dua utusan guru besar dari Arab, Sayid Muhammad Al Maliki, datang ke rumahnya untuk bertemu  dengan ayahnya.

“Ke rumah di suruh oleh gurunya itu, saya heran karena bapak tidak pernah ke mana-mana,” terangnya. Mbah Unus menginjakkan kakinya di bumi Blambangan pada tahun 1921. Saat itu, belajar di Kiai Kholil Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Selain itu, juga pernah belajar di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo. “Pernah ada orang yang mengaku utusan Ra Kholil (KH. R Kholil As’ad Syamsul Arifin) datang untuk minta foto,” ungkapnya. Semasa hidup, Mbah Unus tidak beda dengan warga pada umumnya, seperti ke sawah dan kegiatan gotong royong.

“Bapak itu selalu minta pada kita, apa yang kamu makan, tanam di lahan mu,” kenangnya. Muhammad Yunus mengaku saat masih kecil, sering mengajak warga yang kerja di perkebunan untuk meningkatkan ibadah. Untuk kegiatan keagamaan itu, mendirikan musala di kawasan Perkebunan Trebasala, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore.

Selain itu, juga banyak warga perkebunan yang datang ke tempatnya untuk belajar agama.  “Di musala yang dibangun itu, dibuat untuk salat dan belajar agama,” terangnya. Para pengusaha non muslim yang mengalami perkembangan pesat setelah menerima nasihatnya, sebenarnya akan masuk Islam jika  diminta oleh Mbah Yunus.

Tapi, Mbah Unus tidak pernah meminta. “Kalau mau masuk Islam itu tidak usah karena saya minta, kalau belum mantap ya tidak usah, masuk Islam itu karena kehendakmu,” kata Muhamad Yunus menirukan ucapan bapaknya. Kejadian yang pernah diingat saat meletus peristiwa G.30/S/PKI.

Saat itu, Mbah Unus secara tegas melarang warga yang ikut pengajian di tempatnya melakukan penganiayaan atau pembunuhan terhadap anggota PKI. “Kamu jangan ikut memukul, itu semua tunggal urip (saudara sebangsa),” terangnya.

Larangan itu sempat membuat warga bingung. Karena saat itu, para gembong saat itu sedang menjadi buruan tentara dan polisi, secara nyata pernah melakukan pencurian dan pengambilan aset milik keluarganya. “Ada orang yang sedang diburu tentara, datang ke rumah, oleh bapak diminta membaca syahadat  dan disuruh pergi,” ungkapnya. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :