KH Abdullah Fakih, Sang Pelopor Endhog-endhogan

0
179
Loading...
Gus Reza di depan makam almarhum KH Abdullah Fakih di Ponpes Alkaf Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon.

Tradisi endhog-endhogan saat peringatan Maulid Nabi hanya ada di Banyuwangi. Tak banyak yang tahu, tradisi endhog-endhogan ini ternyata dimunculkan oleh Kiai Haji Abdullah Fakih dari Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon. Siapakah dia?

KRIDA HERBAYU, Songgon

KIAI Haji Abdullah Fakih atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Fakih Cemoro. Namanya sudah tidak asing di kalangan masyarakat Banyuwangi. Ulama ini wafat pada tahun 1953 silam.

Kiai Fakih mendirikan pondok pesantren (ponpes) yang diberi nama Ponpes Alkaf Cemoro yang terletak di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Dulu, ponpes tersebut memiliki banyak santri yang kental akan budaya Oseng.

Sosok Kiai Abdullah Fakih dikenal sebagai ulama kharismatik. Selain pintar berdakwah di masa penjajahan Belanda, Kiai yang lahir pada tahun 1911 itu juga telah berhasil menciptakan tradisi kembang endhog atau endhog-endhogan.

Hingga saat ini, tradisi kembang endhog telah menyebar ke seluruh wilayah Bumi Blambangan. Bahkan, peringatan endhog-endhogan juga dirayakan komunitas warga Banyuwangi di daerah lain.

Ini tak lepas dari kepiawaian Kiai Fakih mendidik para santri. Para santri akhirnya melanjutkan tradisi tersebut hingga dibawa pulang ke kampung halaman masing-masing.

Kini, Ponpes Alkaf Cemoro masih aktif di bidang pendidikan. Ponpes tersebut diasuh oleh generasi ketiga keturunan Kiai Abdullah Fakih yaitu Gus Fat Reza Abdullah.

Gus Reza merupakan cucu Kiai Fakih. Gus reza putra dari Kiai Sholeh Abdullah yang merupakan anak Kiai Faqih. Di kompleks Ponpes tersebut, makam para pendiri pondok Alkaf, persisnya di sebelah masjid dalam Ponpes Alkaf. ”Makam Mbah Kiai sering dikunjungi peziarah yang merupakan alumni santri Ponpes Alkaf,” ujar Gus Reza.

Saat berada di sebelah makam, Gus Reza juga bercerita bagaimana asal muasal menyebarnya kembang endhog serta filosofi yang terkandung dalam kembang endhog.

Awalnya, kembang endhog hanya digunakan saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di dalam kawasan ponpes. Akan tetapi, setelah alumni santri pulang ke kampung halaman masing-masing, tradisi tersebut masih terus berlangsung hingga kini.

Kembang endhog terbuat dari batang pohon bambu. Itu pun memiliki arti tersendiri, karena tumbuhan bambu tidak berbunga dan berbuah. Oleh karena itu, dipilih bambu sebagai tangkai kembang endhog. Kemudian diberi hiasan daun yang terbuat dari kertas warna warni dan di tengahnya diberi endhog (telur).

Endhog yang ada di tengah batang itu, memiliki filosofi. Karena telur merupakan embrio kehidupan yang merupakan cikal bakal makhluk hidup. ”Kembang endhog sendiri bertujuan supaya semua santri bergembira dengan menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, dan semua umat serta alam bisa ikut bergembira yang diibaratkan dengan bunga dan tumbuhan berbuah telur,” jelas Gus Reza.

Untuk telur buah kembang endhog memiliki arti tersendiri. Mulai dari kuning telur, merupakan sumber keimanan umat Islam kepada Allah. Kemudian lapisan pertama dibungkus putih telur yang berarti ihsan, yang selalu memberikan ibadah yang terbaik. Dan cangkang telur yang berarti Islam yang kuat. Dalam arti keislaman seorang muslim yang kuat serta menumbuhkan nilai-nilai Islam ke seluruh lapisan masyarakat. ”Dulu hanya telur bebek yang digunakan sebagai kembang endhog. Karena bebek memiliki kebiasaan yang tertib saat berjalan supaya dapat ditiru oleh para santri. Kini telur bebek sudah jarang oleh karena itu, kini digunakan telur ayam,” papar pria kelahiran 21 Oktober 1984 itu.

Dan hingga kini, arak-arakan endhog-endhogan adalah salah satu budaya yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi yang tidak ada di tempat lain. Tidak hanya bisa dinikmati bagi seluruh kalangan, kembang endhog juga merupakan ungkapan kebahagiaan masyarakat Banyuwangi menyambut Bulan Maulid.

Santri Ponpes Alkaf Cemoro juga media penyalur yang luar biasa. Karena berkat mereka, kini masyarakat Banyuwangi bisa menikmati kembang endhog setiap Bulan Maulid dan merayakan Festival Endhog-Endhogan di Banyuwangi. ”Saya merasa bangga hingga saat ini perayaan endhog-endhogan dan kembang endhog masih melekat di masyarakat. Serta tidak lupa dengan filosofi yang terkandung dalam kembang endhog itu sendiri,” tandas cucu Kiai Fakih Abdulah itu.

Loading...