Laros Jogja Sukses Gelar Mahakarya Bumi Blambangan

0
103

Tampilkan Kesenian Khas Oseng hingga Macan-macanan

SEBAGAI bentuk cinta akan kesenian daerah, sejumlah pemuda, mahasiswa, dan seniman asli Banyuwangi di Jogjakarta menggelar seni pertunjukan  asli Banyuwangi di Kota Gudeg.  Bertempat di TBY, dari kesenian gandrung, kuntulan, seni lukis, drama  kolosal, sastra, barong dan lain sebagainya ditampilkna lima hari berturut-turut sejak tanggal 5–9 April  2017 kemarin.

Ada sekitar 400 orang yang terlibat dalam acara Mahakarya Bumi Blambangan di Jogjakarta  ini. Mereka berasal dari unsur  pemuda, mahasiswa dan para seniman Banyuwangi yang pernah merantau di Jogjakarta. Pergelaran  ini memiliki latar belakang agar kesenian Banyuwangi bisa dirasakan juga oleh lare-lare oseng  yang ada di Jogjakarta.

Tentunya, dengan pergelaranini, diharapkan kesenian Banyuwangi bisa tetap eksis dan lebih dikenal oleh masyarakat luas dimana pun berada. Dengan didukung Sanggar Sritanjung dan juga Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, acara yang digelar para pemuda ini bisa dibilang sukses dan mungkin bisa ditiru oleh lare-lare oseng di kota-kota lainnya.

Ketua Panitia MBB, Awan Khotimullatif mengatakan, pergelaran yang dilaksanakan ini merupakan bukti nyata bahwa pemuda  Banyuwangi yang ada di Jogjakarta tidak berdiam diri. Pergelaran seni dan budaya yang dikemas sedemikian rupa ini benar-benar  mampu mengobati rasa rindu  masyarakat Banyuwangi di  Jogjakarta yang ingin merasakan suasana Banyuwangi.

Loading...

”Ini bukti nyata bahwa kami di Yogyakarta  juga ikut melestarikan budaya Banyuwangi,” kata Awan.  Sementara itu, di hari terakhir  kemarin ada beberapa sesi pertunjukan yang disajikan. Selain drama kolosal, pada sore harinya pertunjukan Barong Using lengkap dengan  sesi macan-macanan dan pithik-  pithikan.

Khusus untuk sesi barong panitia mengundang komunitas  pencinta barong dan jaranan yang ada di Banyuwangi, yakni Barong  Family Banyuwangi (BFB). Mendapat tantangan dari panitia untuk menyajikan tarian barong, ternyata juga bisa tampil dengan baik layaknya grup kesenian barong Banyuwangi yang sudah profesional.

”Kita persiapan selama kurang lebih lima bulan  untuk acara di Jogjakarta. Alhamdulillah kami mampu,” ujar Ketua BFB, Linggar Barlianta. Tidak hanya persiapan tariandan tabuh saja. Pendukung lain juga harus dipersiapkan dari Banyuwangi. Seperti peras (sesajen) khusus seperti buah kelapa, tembakau, kemenyan, pisang, janur, garam, gula, ayam hidup warna hitam, kopi dan lain sebagainya.

Bahkan, anggota BFB juga menyediakan daun santen yang digunakan untuk makanan macan-macanan saat kesurupan juga dibawa langsung dari Banyuwangi. Nah, untuk alat musik (panjak) dan properti barong, Linggar menjelaskan bahwa semua  peralatan ada yang milik pribadi ada juga yang meminjam dari  grup kesenian barong yang ada  di Banyuwangi.

Untuk pemain barong juga pemain profesional  barong dari grup Barong Muncul  Budoyo-Beran Lor dan Sayu Wiwit – Watu Ulo, yang kebetulan juga anggota dari komunitas BFB. ”Terima kasih kami ucapkan  untuk Barong Joyo Kusumo Boyolangu yang sudah sedia meminjamkan barong dan kostumnya untuk kami tampil di  Jogjakarta. Kita juga berterima kasih kepada panitia dan seluruh  anggota BFB serta Disbudpar  yang telah mendukung kami  sampai ke Jogjakarta ini” timpal Andrew, anggota BFB lainnya.

Pada sesi pertunjukan barong Banyuwangi yang dimulai sekitar pukul 15.00 kemarin, awalnya  barong prejeng dulu yang tampil. Sajian ini benar-benar mampu mengobati rindu laros Jogjakarta di Banyuwangi. Duet tarian  gandrung dan barong juga disajikan kepada pengunjung di Taman Budaya Jogjakarta sore kemarin.

Nah, di acara yang terakhir dan yang paling ditunggu-tungu yakni sesi macan-macanan lengkap dengan pihtik-pithikan akhirnya tampil juga. Suara siulan menggoda macan-macanan langsung terdengar saat alunan lagu keblak-keblak kukuruyuk dikumandangkan.

Bau kemenyan langsung semerbak menambah kesan sakral sesi macan-macanan dan pithik-pithikan ini.  Seperti diketahui, sesi macan- macanan ini merupakan sesi terakhir dalam pertunjukan barong  Using di Banyuwangi. Pada acara terakhir ini, pemain macan-macanan juga langsung kesurupan layaknya seorang harimau yang sedang mengamuk.

Tidak segan-segan, jika suara siulan menggoda dari penonton berbunyi, macan-macanan lang sung berlari mengejar penonton tersebut.  ”Baru kali ini ada live barong plus macan-macanan Banyuwangi  di Jogjakarta. Serasa ada di Banyuwangi,” seru Anjar, salah  satu mahasiswa Jogjakarta asli  Banyuwangi yang menyak ikan  penampilan BFB. (radar)

loading...

Kata kunci yang digunakan :