Mahasiswa Bajak Tangki BBM

0
108
Loading...
DEMO: Massa sandera truk tangki BBM dari Jl. Brawijaya hingga Karangente, kemarin (atas). Mahasiswa berdemo di Karangente.

Demonstrasi Massa PMII Sempat Ricuh

BANYUWANGI – Sedikitnya 100 aktivis mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Banyuwangi menggelar aksi turun ke jalan kemarin pagi (15/3). Mereka menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dalam aksi tersebut, para mahasiswa sempat menyandera mobil truk tangki yang memuat BBM .

Polisi yang berupaya membebaskan truk tangki sempat bentrok dengan para mahasiswa yang menyandera mobil pengangkut BBM premium tersebut. Petugas sempat mendorong para mahasiswa agar menjauh dari truk tangki besar itu. Namun, sejumlah aktivis PMII melawan dengan cara menendang polisi.

“Jangan biarkan truk tangki berjalan,” teriak salah satu mahasiswa. Aksi yang dilakukan aktivis PMII Cabang Banyuwangi itu berlangsung mulai pukul 09.00. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka meluncur ke Mapolres Banyuwangi. Pada saat itu, di kantor polisi sedang ada pertemuan Forum Pimpinan Daerah (Forpinda) Kabupaten Banyuwangi.

“Menaikkan BBM hanya menyengsarakan rakyat,” teriak seorang mahasiswa melalui alat pengeras suara. Saat berada di mapolres, Bupati Abdullah Azwar Anas yang kebetulan ikut dalam pertemuan Forpinda menemui mahasiswa. Sayangnya, Bupati Anas tak mau menjawab ketika ditanya mahasiswa terkait sikap terhadap rencana kenaikan harga BBM.

“Akan kami sampaikan penolakan ini kepada pemerintah pusat,” jawab Anas singkat. Tidak puas dengan jawaban yang diberikan bupati, mahasiswa melanjutkan aksinya menuju monumen patung kuda di simpang empat Karangente. Saat massa akan berjalan, tiba-tiba meluncur truk tangki BBM dari arah utara.

Tidak mau kehilangan momen, mahasiswa langsung menyandera satu dari tiga truk tronton yang sedang mengangkut BBM tersebut. Dengan membawa bendera PMII dan poster, puluhan mahasiswa itu langsung naik ke atas kepala truk dan tangkinya.

Mereka berteriak menolak kenaikan harga BBM. “Tolak kenaikan BBM!” teriak sejumlah mahasiswa di atas tangki. Dengan pengawalan polisi, aksi mahasiswa itu mulanya berlangsung tertib. Mereka hanya meneriakkan yel-yel menolak kenaikan harga BBM. Tetapi, kondisi itu berubah saat truk tangki dan mahasiswa berada di simpang empat Karangente. Mahasiswa tidak menggubris polisi yang meminta mahasiswa melepas truk tangki tersebut.

Mungkin karena kesabaran mereka habis, anggota polisi lengkap dengan tameng itu mengusir mahasiswa yang menghalang-halangi aju truk. Aksi dorong dan tendang pun terjadi. Upaya represif polisi untuk membebaskan truk tangki yang disandera, itu langsung direaksi keras oleh mahasiswa. “Katanya, polisi sebagai pengayom masyarakat. Katanya, polisi pelindung masyarakat, tapi nyatanya melindungi kapitalis,” protes seorang mahasiswa perempuan saat berorasi.

Sebagai bentuk protes atas kekerasan yang dilakukan polisi dan rencana kenaikan BBM, mahasiswa melanjutkan aksinya dengan tidur di jalan. “Sebagai bentuk matinya perekonomian dan hati nurani pejabat, mari kita tidur di jalan raya,” ajak Andika, salah satu mahasiswa itu.

Ketua PMII Cabang Banyuwangi Dalail Choirot menilai, kebijakan pemerintah akan menaikkan harga BBM, itu tidak berpihak pada masyarakat. Sebab, saat ini banyak warga masih kesusahan. “Harusnya pemerintah bisa mencari solusi, bukan menaikkan harga BBM,” tukasnya.

Menurut Dalail, kenaikan BBM itu merupakan awal dari serangkaian siklus kesengsaraan dan penindasan terhadap masyarakat kecil. Karena bila BBM naik, maka semua harga bahan pokok dipastikan juga ikut merangkak naik. “Kenaikan BBM harus ditolak, karena tidak mencerminkan asas keadilan dan keberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil,” tegasnya. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :