Memetik 5 Kg, Buruh Dibayar Rp 20 Ribu

0
691

memetik

Saat kalangan konsumen menjerit gara-gara harga cabai rawit melejit, para petani komoditas yang satu ini malah tengah semringah. Lonjakan harga cabai rawit tersebut mengentas mereka dari ambang kerugian.Dari kejauhan, hamparan tanaman cabai rawit di persawahan Dusun Pelinggihan, Desa Grogol, Kecamatan Giri, Banyuwangi, tampak hijau kekuningan siang kemarin (31/3). Awalnya kami menduga bahwa pemandangan itu terjadi karena buah tanaman cabai tersebut tengah ranum. Namun setelah didekati, ternyata hal itu terjadi akibat daun-daun tanaman yang ditanam di lahan tak jauh dari permukiman warga itu, ternyata sudah banyak yang layu.

Semakin mendekat, sebagian kecil di antara tanaman bumbu berasa pedas menyengat itu terlihat sudah mulai mengering. Batang dan daunnya tak lagi berwarna hijau, melainkan cokelat kehitaman. Pemandangan tersebut memantik keingintahuan kami untuk mengetahui penyebab pasti, apakah tanaman cabai rawit tersebut memang sudah saatnya mati, ataukah karena ada faktor lain. Penelusuran pun dilakukan. Tanpa tedeng aling-aling, kami menanyakan siapa pemilik tanaman cabai tersebut.

Kebetulan yang indah! Pria tersebut mengatakan kepada kami bahwa sang empunya tanaman cabai itu adalah warga sekitar Dasar sedang hoki, petani cabai yang saya cari dapat dengan mudah kami temukan. Siang itu, petani bernama Abdul Ghofur, 45, itu tengah berada di rumah rekannya sesama petani cabai. Rumah itu berlokasi tak jauh dari lahan tanaman cabai tersebut. Gofur mengaku kalau tanaman cabai miliknya yang sudah mulai menguning tersebut baru berusia sekitar setahun. Padahal menurutnya, tanaman cabai dalam kondisi normal bisa bertahan hidup dan berproduksi dengan baik hingga usia dua tahun.

Menurut Gofur, umur tanaman cabai yang dia tanam di lahan seluas seperempat hektare (Ha) itu tidak sepanjang umur tanaman cabai normal, lantaran akarnya mulai diserang jamur. “Itu terjadi karena cuaca kerap berubah secara tiba-tiba. Sebentar panas, sebentar hujan. Cuaca seperti itu sudah terjadi sejak sekitar sebulan terakhir,” jelasnya. Dikatakan, fenomena cuaca semacam itu mengakibatkan produktivitas tanaman cabai miliknya turun drastis. Dalam kondisi normal, jumlah panen tanaman cabai rawit seluas seperempat Ha mencapai 50 kilogram (Kg).

Loading...

Namun karena tanaman cabai rawit tersebut sudah mulai layu dan sebagian sudah mati, dalam sekali panen Gofur hanya bisa mendapat maksimal sebanyak 15 Kg. Meski demikian, Gofur tak lekas mencabut seluruh tanaman cabai rawit miliknya dan menggantinya dengan tanaman baru. Pilihan tersebut bisa dimaklumi, lantaran akhir-akhir ini harga cabai semakin melejit. “Eman-eman kalau sisa buah tanaman cabai tersebut tidak dipanen. Mumpung harganya sedang tinggi,” katanya. Sejak sepekan terakhir, harga jual satu Kg cabai sebesar Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu di tingkat petani.

“Kalau saja harga cabai rawit murah, misalnya hanya sebesar Rp 5 ribu per Kg, pasti tanaman cabai rawit itu sudah saya cabut, dan saya ganti dengan tanaman lain, misalnya padi atau kacang tanah. Sebab kalau dibiarkan, saya justru akan rugi. Rugi biaya perawatan dan rugi waktu,” jlentrehnya. Samsi, 46, petani cabai yang lain mengakui, tanaman cabai rawit saat ini banyak yang rusak akibat cuaca tidak kondusif. Karena itu, dia hanya membiarkan begitu saja tanaman cabai tersebut sambil menunggu habis dipanen. “Kalau terus-menerus disemprot dan dipupuk, kami malah rugi.

Sebab kecil kemungkinan tanaman cabai rawit yang sudah nyaris mati itu bisa kembali normal,” tuturnya. Sementara itu, harga cabai rawit yang lumayan tinggi itu tidak hanya dinikmati para petani. Lebih dari itu, para buruh petik komoditas pertanian yang satu ini pun kecipratan untung. Sebab, di Desa Grogol, ongkos buruh pemetik cabai besarnya sepuluh persen dari harga jual cabai  awit di tingkat petani. Misalnya saja, saat harga cabai rawit dari petani ke pengepul Rp 15 ribu per Kg, maka buruh petik hanya akan memperoleh upah sebesar Rp 1.500 per Kg.

Jika harga cabai di tingkat petani mencapai Rp 40 ribu seperti kemarin, maka para buruh akan mendapat upah sebesar Rp 4 ribu untuk setiap Kg cabai rawit yang dia petik. Seperti diutarakan Khotimah, 35, juga warga Dusun Pelinggihan, Desa Grogol, Kecamatan Giri. Perempuan itu mengatakan, meskipun jumlah cabai rawit yang dia panen akhir-akhir ini tidak sebanyak biasanya, namun upah yang dia terima lebih besar dibandingkan sebelumnya. “Kalau dalam setengah hari saya bisa memetik lima Kg cabai rawit, upah yang saya terima sudah mencapai Rp 20 ribu. Namun saat harga cabai murah, walaupun cabai rawit yang saya petik jumlahnya banyak, upah yang saya terima biasanya hanya berkisar belasan ribu,” jelasnya. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :