Flash News
Home / Sosial / Pemuda Harapan Agama dan Bangsa
  

Pemuda Harapan Agama dan Bangsa

PEMUDA merupakan barometer sebuah agama dan negara. Jika pemudanya baik maka baik pula agama dan negara. Tapi, jika pemudanya rusak, maka rusak pula agama dan negara. Sebab, pemuda sebagai penerus yang akan mengisi dan melanjutkan estafet pembangunan bangsa, maka potensinya sangat krusial dan strategis bagi perkembangan sebuah bangsa.

Di tangan pemuda pula bangsa bergantung, baik kemajuan maupun kemundurannya. Pemuda tidak bisa di pandang hanya sebelahmata. Banyak sejarah membuktikan peran penting pemuda. Sebagaimana di masa Rosulullah banyak sahabat yang tergolong pemuda yang membantu perjuangan Rosulullah, di antaranya Ali bin Abi Tholib, Aisyah R.A, dan Umar bin Khottob.

Bahkan, kemerdekaan Indonesiapun ada di tangan para pemuda hingga lahir sebuah sejarah “Sumpah Pemuda” . Adapun kriteria pemuda dari segi agama adalah mulai dari akil baligh sampai usia 40 Tahun. Hal ini, meninjau kajian fkih, karena manusia akan mendapat sanksi hukum mulai akil baligh. Usia 40 tahun, meninjau sejarah Nabi Muhammad, dia diangkat menjadi Rosul yang menunjukkan bahwa usia 40 merupakan usia kemapanan mental dan berpikir.

Dari segi biologis, kategori pemuda adalah mulai usia 15 tahun sampai 30 tahun. Masa muda adalah masa penuh semangat, gairah, dan cemerlang. Sebagaimana menurut Dr. Yusuf Qordhowi, ibarat matahari maka usia muda ibarat jam 12 ketika matahari paling bersinar terang dan paling panas. Di samping itu, pemuda merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa pencarian jati diri.

Oleh karena itu, masa muda merupakan masa produktif yang memberi peluang cukup besar untuk melakukan karya-karya yang bermanfaat sebesar-besarnya. Semangat yang masih membara dan stamina Masih fit harus dijadikan modal untuk berkreasi dan melangkah ke hal yang positif. Adapun pemuda yang dibutuhkan agama dan bangsa harus memenuhi empat hal. Pertama ilmu.

Segala sesuatu butuh ilmu dan peran ilmu sangat penting dalam segala aspek kehidupan serta menjadi tolak ukur dari keberhasilan dalam mengerjakan segala bidang baik sesuatu yang berhubungan dengan Agama maupun sesuatu yang sifatnya universal. Sebab, tanpa ilmu, tak mungkin segala sesuatunya bisa dikerjakan dengan baik dan tepat. Hal itu disebabkan karena hasil dari segala sesuatu yang dikerjakan tergantung ilmu yang dimiliki.

Semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin tinggi pula tingkat kesempurnaannya. Ilmu yang di maksud di sini adalah ilmu yang meliputi 2 perkara, yaitu ilmu agama dan ilmu uni versal.Ilmu agama berperan untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah (vertikal) yang di sebut dengan ibadah mahdhoh meliputi Iman, takwa, salat, puasa, zakat, dan haji. Berfungsi sebagai penentu sah dan tidaknya suatu ibadah serta berpotensi menenteramkan hati.

Karena segala apa yang di perintah agama pasti ada manfaat yang kembali pada si pelaku dan segala apa yang di larang oleh agama pasti ada akibat yang kurang baik yang kembali pada si pelaku. Hal ini, di sebabkan segala yang terjadi atas kehendak Tuhan sebagai zat yang telah menciptakandunia seisinya sekaligus zat yang telah memberi petunjuk dengan aturan-aturan main dan larangannya yang manfaat dan efeknya kembali pada si pelaku. bahkan hati bisa bahagia dan susah karena Tuhanlah yang menggerakkan.

Di sinilah pentingnya kita memperdalam dan meningkatkankualitas ilmu agama agar hidup di masa modern ini, bisa mencapai pada tingkatan: tenteram, damai dan sejahtera. Karena tingkat ke tenteraman hidup seseorang tergantung dari ku alitas ilmu agamanya. Sebagaimana iman ada 5 tingkatan. Pertama, imanu taqlidin, yaitu iman yang hanya ikutikutan. Kedua, imanu ilmin, yaitu iman yang mengetahui dalil-dalilnya.

Ketiga, imanu ‘iyanin, yaitu iman yang dapat merasakan keagungan Allah selalu ada dalam perasaan. Ke empat, imanu haqqin, yaitu iman yang dapat melihat Allah dalam hati sebagaimana pepatah; orang yang makrifat kepada Allah, maka akan melihat Allah dalam segala sesuatu. Kelima, imanu haqiqotin, yaitu iman yang dapat merasakan fana dengan Allah dan lebur dengan Allah.

Apabila iman seseorang bisa mencapai pada tingkatan tiga sampai lima, maka dalam beribadah akan terasa nikmat yang dapat memberi pengaruh sangat besar terhadap orang tersebut dan sekitarnya. Ini hanya melihat dari sisi kacamata iman dan belum dari kacamata salat.Maka perlu kita meneliti kekurangan ibadah yang kita lakukan.

Bisa jadi, ibadah yang kita lakukan tidak membawa manfaat dan hidup tanpa arah selalu dirundung susah dan bingung di sebabkan kurangnya pengetahuan tentang agama. Oleh karena itu, sangat keliru apabila kebahagiaan hidup hanya diukur dengan materi. Karena hanya Tuhan yang memberi dan Tuhan tidak sulit untuk mencabutnya kembali.

Ilmu universal penting untuk meningkatkan hubungan antar sesama manusia (horizontal) terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan vital, sosiokultur, religi atau yang di sebut ibadah ghoiru mahdhoh yang meliputi muamalat, munakahah, politik, sains dan lain-lain. Sebagai standar dan ukuran dalam pelaksanaannya merujuk Al–Ahkam Al-Khomsah: wajib, haram, mubah, mandub, dan makruh.

Penerapan kelima hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari memiliki variasi dan pelaksanaannya bersifat fleksibel melalui ijtihad yang disesuaikan denganperubahan dan perkembangan zaman. Kedua ilmu tersebut (agama dan universal) harus imbang. kalau kita mengutamakan ilmu agama saja maka akan ketinggalan zaman. Kalau kita mengutamakan ilmu universal saja maka sulit untuk mencapai tingkat keabsahan dalam beribadah dan sulit untuk mencapai hidup yang tenteram, damai dan sejahtera serta sulit membedakan antara hak dan batil.

Mandiri sangat penting untuk menghilangkan ketergantungan pada orang lain dan membentuk kepribadian yang bercita-cita tinggi, kerja keras, pantang menyerah dan optimistis. Karena orang yang menyandarkan urusannya pada orang lain maka akan lemah keyakinan, jiwa dan kemauannya yang menyebabkan malas bekerja karena sudah terbiasa hidup manja dan serba instan. Pemuda yang hebat bukanlah pemuda yang mengatakan, “Ayahku kaya dan ayahku pejabat” .

Akan tetapi, pemuda yang hebat adalah pemuda yang mengatakan, “Inilah aku, inilah kerjaku dengan segala kekurangan yang ada”. Sebab, apabila orang yang diandalkan telah tiada maka akan malas dalam mengarungi perjuangan hidup yang menyebabkan putus asa dalam menerima kenyataan hidup karena merasa sulit untuk melepaskan ikatan ketergantungan pada orang lain. Selalu mengharap belas kasih dari orang lain.

Agama pun mengancam pada orang-orang yang tidak mandiri yang selalu bergantung pada orang lain dengan cara meminta minta atau mengemis. Dengan sebuah ancaman bahwa besok di akhirat badannya hanya tinggal tulang belulang. Agama justru menganjurkan kerja keras sebagaimana sabda nabi, “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok”. Bahkan, agama memberi ultimatum kepada para pemuda bahwa anak yang menginjak masa remaja, orang tua tidak wajib lagi memberi nafkah kepadanya. (@radar) Pengurus PAC Anshor Glenmore )

Komentar Anda

About eduo

Comments are closed.

Scroll To Top