Perajin Precet Kebanjiran Order

0
313
Mahwah, 57. mengerjakan pesanan patola dan precet di dapur rumahnya Dusun Gumukrejo, Desa Gitik, Rogojampi, kemarin.

ROGOJAMPI – Menu kudapan berbuka puasa yang paling khas dan banyak diburu pembeli selama bulan Ramadan di Banyuwangi, adalah kue precet dan patola. Jajanan satu ini hanya diproduksi selama bulan Ramadan saja. Selama Ramadan ini, para perajln jajanan itu kebanjiran order.

Salah satu pembuat kue khas Ramadan adalah Mahwah, 56, Dusun Gumukrejo, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi. Perempuan paruh baya itu setiap hari selama Ramadan membuat jajanan patola dan precet pisang.

Cara membuat kudapan itu hanya dengan sebuah papan kayu diletakkan miring. Tepat di atas papan kayu itu terdapat sebuah adonan berwama putih dan hijau yang terus digilas menggunakan cetakan yang erat dipegang dengan sedikit ditekan.

Dengan cetakan itulah terbentuk adonan keriting mirip kerupuk. Jika adonan dalam cetakan itu telah penuh, barulah diangkat dan dipindahkan ke atas daun pisang yang terletak di sebelah kanan tempatnya berdiri.

Jika jumlah lembar daun sudah terkumpul sebanyak sepuluh buah adonan precet, barulah dipindahkan dan ditutup menggunakan plastik. Lembar daun yang sudah tertata precet, satu persatu dimasukkan ke dalam dandang (alat dapur khas suku usung) beberapa menit hingga permukaan adonan benar-benar masak.

Bertempat di dapur berukuran 2,5×4 meter, beratap asbes dan berdinding anyaman bambu (gedhek). Di sebelah kiri pintu masuk dapur itu, ada sebuah meja dari potongan bilah bambu dengan ukuran 200 cmx75 cm.

Pada meja mirip ranjang inilah, Mawah meletakkan adonan precet yang sudah selesai dicetak sebelum dikukus.  Sebuah tungku tradisional dari susunan batu bata dan tanah liat berenda di sudut dapur sebelah timur.

Loading...

Tungku tradisional itu mampu menampung dua dandang sekaligus. Bahan bakar yang digunakan juga masih menggunakan kayu bakar. “Kalau pakai gas takut meledak, adanya tungku ini saja mudah dan murah,” ujar Mawah.

Membuat kudapan precet atau patola bukan pekerjaan baru bagi ibu dua anak ini, sejak berumur 20 tahun, dia sudah mewarisi keahlian Ibu kandungnya, (Alm) Mahanah dalam membuat sejumlah jajanan tradisional khas Banyuwangi, mulai dari precet, orog-orog, puli, puthu, dan sejumlah jajanan khas lainnya.

Dari sejumlah cetakkan jajanan yang dimilikinya, cetakan kue pmcet atau patola yang paling istimewa dan dianggap paling berharga. Hal itu karena bahan cetakkan terbuat dari kuningan dan kini sudah langka di pasaran.

“Kalau sekarang paling hanya dari bahan besi atau alumunium bisa,” terangnya. Bahan yang digunakan untuk membuat precet atau patola ada dua macam, yakni pisang dan tepung beras.

Jika precet pisang, dia memilih jenis pisang gepok. Sementara jika precet tepung beras, agar biaya pengeluaran lebih sedikit, dia membeli beras dengan kualitas super untuk dijadikan tepung beras, dengan cara direndam, ditiriskan lalu diselep menggunakan mesin penggilingan.

“Kalau beras jatah (raskin) dijadikan tepung beras, baunya apek, hasil precetnya juga bau dan tidak enak,” jelasnya. Selama sehari, mulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00, Mawah mampu memproduksi hingga tujuh kilogram tepung beras precet dengan tiga jenis pilihan warna, yakni putih, merah dan hijau. Itu dilakukan untuk menggugah selera para penikmat kudapan menu berbuka puasa.

Satu lembar daun pisang berisi 10 biji kue precet dijualnya seharga Rp 5 ribu. Untuk menjual kudapan menu berbuka puasa itu, dia tidak terlalu kerepotan. Pasalnya, sudah ada pedagang yang siap mengambil dan menjualnya kepada pembeli di pasar.

Selama seharian memproduksi  kudapan berbuka puasa itu, tak banyak laba yang diperoleh Mawah, dia hanya mendapatkan hasil sekitar Rp. 60 ribu. Uang sebanyak itu, baginya sudah lebih dari cukup  sekadar makan  dan minum menyambung hidup bersama suaminya selama sehari.

“Yang penting bisa untuk makan hari ini, besok cari lagi,” pungkas wanita yangs sehari-hari berjualan jajanan khas Banyuwangi ini. (radar)

loading...

Kata kunci yang digunakan :