Rifqoh El Hanifah, Siswi SDN yang Hafal 14 Juz Alquran

1
92

Semakin Terpacu Menghafal Alquran saat Sang Adik Lahir

SOSOK Rifqoh El Hanifah memang luar biasa. Di usianya yang masih belia, bocah yang karib disapa Ifah tersebut telah mampu menghafal 14 juz kitab suci Alquran. Kemampuan istimewa itu tentu saja tidak dia miliki secara instan. Ada banyak faktor yang berperan di sana.

Mulai ketelatenan orang tua, faktor pendidik, serta kemauan dan kerja keras Ifah sendiri.  Faktor didikan orang tua menjadi kunci utama kesuksesan Ifah menghafal 14 juz Alquran. Kedua orang tuanya,  yakni Abdul Basith dan Baiqoh Indayani mulai mengajari  buah hatinya mengaji sejak usia dini, tepatnya sejak Ifah  berusia 2,5 tahun.

Mengajari anak usia 2,5 tahun membaca Alquran bukan perkara mudah. Butuh kesabaran, ketelatenan, dan kesungguhan niat. Ya, namanya saja balita, kala itu Ifah sangat malas diajak belajar  mengaji, dia lebih suka main. Tak kalah akal, Basith maupun Baiqoh menyisipkan kegiatan belajar mengaji saat menemani  putri kesayangannya itu bermain.

“Kadang kami mengajari mengaji  sembari menemani Ifah bermain ayunan di Taman Sritanjung.  Kadang pula mengajari Ifah  belajar mengaji sambil bermain pasir di Pantai Boom,” kenang  Basith diiyakan Baiqoh saat keduanya menjemput putrinya sekolah di SDN 2 Tukangkayu, Banyuwangi, Minggu siang (1/4).

Saat Ifah berusia tiga tahun, Basith dan Baiqoh “menitipkan” gadis kecil itu di Rumah Tahfidz,  semacam pondok pesantren yang  berlokasi di jalan Mendut, Banyuwangi. Meski telah mondok, Ifah  kecil kerap pulang ke rumahnya lantaran tidak kerasan.

“Jadi, setelah selesai mengaji, Ifah pulang ke rumah. Esoknya kem bali  ke pondok untuk belajar ngaji  lagi. Begitu seterusnya. Baru beberapa tahun terakhir Ifah menginap di Rumah Tahfidz,” kata  Basith.  Singkat cerita, semangat Ifah belajar mengaji terlecut sejak adiknya lahir. Kala itu, usia Ifah  tiga tahun lebih.

“Saya bilang. Kalau Mbak Ifah malas belajar.  Nanti kalah pintar sama adik bayi,” cerita Baiqoh.  Kalimat itu rupanya sangat  ampuh melecut semangat Ifah untuk belajar mengaji. Bahkan bukan hanya ngaji, Ifah yang  sebelumnya juga malas belajar  pelajaran sekolah, juga berubah  menjadi sangat giat.

“Bahkan  saat sudah mengantuk pun, Ifah tidak mau saya suruh tidur. Dia minta izin menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) sari gurunya  di sekolah,” imbuh Baiqoh.  Baiqoh menambahkan, awal Ifah belajar mengaji di Rumah Tahfidz, putrinya itu belajar  menghafal Quran dengan metode  tutor. Namun setelah itu, tepatnya ketika kemampuan Ifah membaca  Alquran sudah dinilai mumpuni,  metode pelajaran diganti dengan sistem setor.

Loading...

“Jadi, Ifah belajarsendiri. Setelah itu, hasilnya  menghafal ditunjukkan pada sang ustadzah,” jelasnya. Sementara itu, Ifah mengaku tahap awal dia menghafal Alquran juz 30 atau juz terakhir alias Juz Amma. Setelah berhasil menghafal juz terakhir Alquran tersebut, dia lantas menghafal mulai  juz pertama hingga juz 13.

Artinya, saat ini dirinya telah hafal 14 juz  Alquran.  Ifah mengaku setiap hari dirinya  menghafal satu halaman Alquran.  Dia belajar menghafal kitab suci  umat Islam tersebut mulai bakda  Asar sampai menjelang Isyak.  Ifah menambahkan, saat terberat dalam menghafal Quran tersebut terjadi saat dirinya sedang  tidak mood. Jika moodnya sedang “rusak”, Ifa sangat kesulitan hingga  tidak berhasil menghafal sat  halaman Alquran.

“Misalnya saat merasa capai. Saya tidak mood  menghafal Alquran. Caranya agar  mood saya kembali, ya istirahat,” akunya polos. Di sisi lain, meski sedang mondok di Rumah Tahfidz, Ifah tetap melanjutkan pendidikan formal di SDN 2 Tukangkayu. Dia kini duduk di bangku kelas lima sekolah  yang berlokasi di jalan MT Haryono,  Banyuwangi tersebut.

“Setiap hari saya dijemput oleh ayah atau ibu  di Rumah Tahfidz. Setelah selesai   sekolah, saya diantar kembali ke pondok,” kata dia. Kemampuan Ifah menghafal Alquran telah mengantarkan   bocah yang satu ini menjuarai beberapa lomba. Dia menjadi juara III lomba tahfidz tingkat  kabupaten pada Festival Anak  Saleh Indonesia (FASI) ke 9 tahun 2015 lalu.

Sebelumnya, Ifah juga  menyabet juara pertama lomba   tartil tingkat kecamatan Banyu- wangi pada 2012. Padahal, usia para peserta dua perlombaan  itu rata-rata jauh di atas Ifah.  Hebatnya lagi, kemampuan Ifah membaca dan menghafal  Alquran mampu diimbangi  dengan prestasi akademik di  sekolah.

Dia merupakan langganan ranking satu di kelasnya.  Termasuk ranking satu pada semester pertama kelas 5 beberapa waktu lalu. Kemampuan super istimewa  yang dimiliki Ifah menuai apre siasi pihak sekolah dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Banyuwangi.

Kepala SDN 2 Tukangkayu,  Suci Nuryanti, mengaku siap  mendukung Ifah meraih prestasi  lebih tinggi lagi. Dia mengaku   sekolah siap memfasilitasi jika  Ifah kesulitan dana untuk mengikuti perlombaan.  Suci menambahkan, prestasi  Ifah tersebut diharapkan mampu memacu rekan-rekannya sesama siswa SDN 2 Tukangkayu untuk  meraih prestasi.

Baik prestasi  akademik maupun non akademik. “Diakui atau tidak, prestasi Ifah  pasti akan memotivasi teman- temannya untuk meraih prestasi pula,” kata dia. Senada dengan Suci, Kepala  UPTD Pendidikan Kecamatan Banyuwangi, Purwanto, mengaku  siap mendukung Ifah meningkatkan prestasinya.

Menurut dia,  itu sejalan dengan program Dinas  Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia  (SDM) masyarakat. “Maka, kami  siap mendukung penuh anak- anak untuk meraih prestasi  setinggi mungkin,” cetusnya. (radar)

loading...