Saatnya Memikirkan Janda Muda

0
1791

DI Indonesia jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Jumlah duda lebih sedikit dibanding jumlah para janda. Banyaknya janda seharusnya mendapat perhatian tersendiri. Jadi, bukan hanya lelaki pencari jodoh yang harus melirik para janda muda, pun pemerintah harus meliriknya.

Memikirkan janda muda tidak harus mencarikan suami baru. Yang lebih penting, karena janda muda juga sebagai kepala keluarga dan menanggung beban ekonomi sendiri, maka yang harus dipikirkan adalah pendidikan anak-anaknya. Dari faktor usia, janda muda memang masih produktif.

Oleh karena itu, pemerintah harus lebih serius memberdayakannya. Kasus kenakalan remaja yang akhir-akhir ini semakin marak, sebagian besar karena mereka kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua. Biasanya salah satu atau kedua orang tua mereka bekerja keluar negeri, sehingga mereka kurang perhatian. Yang menarik lagi, Kepala Keluarga Janda lebih banyak daripada Kepala Keluarga Duda.

Hal yang menarik dikaji dari seorang janda bukan hanya kehidupan seksnya. Yang lebih penting adalah kehidupannya sehari-hari, terutama yang berperan sebagai kepala keluarga dan mempunyai anak kecil. Ada beberapa janda yang benar-benar mandiri dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, tidak sedikit janda yang menjadi beban keluarga lain (keluarga asal).

Tahun 2010, Biro Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa di Indonesia terdapat 65 juta keluarga. Nah , 14% (9 juta)-nya dikepalai oleh perempuan. Padahal, data SUSENAS tahun 2007 menunjukkan jumlah perempuan yang (terpaksa) menjadi kepala keluarga hanya 13,60% dari populasi keluarga.

Dengan demikian, rumah tangga yang dikepalai perempuan ada kecenderungan peningkatan, yaitu rata-rata 0,1% per tahun. Berdasar data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi 1,613,786 jiwa; laki-laki 799,214 jiwa dan perempuan 814,572 jiwa. Dengan jumlah jiwa sebanyak itu, jumlah kepala keluarga tercatat 603,382. Oleh karena itu, di Kabupaten Banyuwangi diperkirakan ada sekitar 84.473 kepala keluarga perempuan.

Hingga ini belum ada langkah konkret dari pemerintah dalam menangani permasalahan keluarga yang dikepalai seorang perempuan; baik yang karena tidak ada suami maupun karena suami tidak mampu menjadi kepala keluarga atas suatu sebab. Padahal, 14% bukanlah angka yang sedikit. Menjadikan para janda sebagai istri kedua atau ketiga bukanlah penyelesaian yang baik. Sebab, tidak jarang keluarga yang memiliki istri lebih dari satu melahirkan problem yang tidak kalah rumit.

Para janda muda kadang (terutama yang ditinggal mati suami) memang mempunyai rumah tinggalkan mantan suaminya. Namun demikian, meskipun dia tidak punya penghasilan-pasti dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, tapi dia tidak dicatat sebagai keluarga miskin. Jadi, tidak pernah mendapat bantuan, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat.

Perkembangan perempuan sebagai kepala keluarga lebih sering terjadi akibat perceraian. Di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2010 terdapat 5.505 kasus perceraian. Dari jumlah tersebut, 3.423 adalah gugatan perceraian, yaitu yang mengajukan perceraian adalah pihak istri. Setelah perceraian tersebut, sebagian mantan istri belum menikah lagi. Maka dia harus menanggung beban hidup diri dan anak. Sebab, kebanyakan anak ikut ibu.

Problem lain yang sering timbul dalam keluarga yang dikepalai seorang perempuan adalah anak-anak kurang kasih sayang. Sebab, sang kepala keluarga, yakni ibu, selalu bekerja. Sehingga, waktu yang tercurah untuk anak anaknya berkurang, apalagi ada (yang terpaksa) bekerja keluar negeri dan sang anak diasuh sang nenek.

Meskipun biaya pendidikan dan kesehatan tercukupi, tapi kurang kasih sayang berdampak serius terhadap perkembangan psikologis anak. Tentu itu akan berakibat pada perkembangan sumber daya manusia yang tidak mungkin dapat diperbarui. Meskipun masyarakat dapat menerima sebuah keluarga dikepalai seorang perempuan, tapi jika sang kepala keluarga itu membutuhkan bantuan, maka akan timbul masalah sosial yang kadang berujung kepada masalah moral bagi yang membantu. Apalagi, yang membantu adalah seorang laki-laki, walaupun sebenarnya tujuannya baik.

Beberapa pengajuan pernikahan melalui Kantor Urusan Agama, tren pernikahan di usia muda (bahkan di bawah umur yang harus mendapatkan Dispensasi dari Pengadilan Agama) cenderung meningkat. Begitu juga dengan pasangan yang menikah karena keterpaksaan (hamil duluan). Hal itu akan berdampak pada kualitas rumah tangga. Dari beberapa kasus pernikahan di bawah umur, banyak yang mengalami kegagalan, bahkan ada yang cerai sesaat setelah anak pertama lahir.

Barang kali pihak laki-laki dapat melanjutkan study. Namun, pihak perempuan akan sangat riskan bila setelah rumah tangganya gagal dia kembali ke bangku sekolah. Apalagi, dia juga harus merawat anaknya yang masih balita. Penanggulangan kemiskinan sepertinya belum secara spesifik menyentuh persoalan keluarga yang dikepalai perempuan. Terutama, janda-janda yang masih muda yang masih mempunyai anak kecil.

Meskipun saat ini ada koperasi khusus perempuan, tapi masih bersifat perempuan secara umum dan belum mengkhusus kepada perempuan yang bertindak sebagai kepala keluarga. Padahal, keluarga yang dikepalai perempuan (terutama yang miskin) dan mempunyai anak usia sekolah lebih membutuhkan perhatian daripada janda-janda tua. Persoalan yang sering muncul adalah janda-janda muda sebagai kepala keluarga sebagian besar masih mempunyai tempat tinggal yang layak, sehingga dianggap tidak memenuhi kriteria sebagai warga miskin.

Meskipun sebetulnya tempat tinggal tersebut adalah peninggalan mantan suaminya. Tempat tinggal yang layak tersebut mengakibatkan janda-janda muda tersebut tidak dianggap warga miskin, sehingga banyak janda muda yang luput dari bantuan pemerintah. Padahal, mereka sangat membutuhkan bantuan untuk anak-anaknya, terutama bantuan biaya pendidikan.(O l e h|SYAFA’AT, SH, MHI @ radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :