Selamatkan Anak, Nelayan Hilang Terseret Arus

0
848
Seorang nelayan menghindari kepungan ombak di pantai Bulusan, Kalipuro siang kemarin.

Waspadai Tingginya Ombak Selat Bali

WONGSOREJO – lni peringatan bagi operator kapal dan nelayan yang biasa melintas di selat Bali. Selama tiga hari ke depan, tinggi gelombang air laut di perairan selat Bali dan Banyuwangi Selatan masih cukup tinggi.

Usai hujan deras yang terjadi di Banyuwangi tiga hari lalu, kondisi gelombang di dua wilayah perairan itu masih belum mengalami penurunan. Berdasarkan data dari satelit cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, tinggi gelombang di perairan selat Bali masih berkutat di 0,5 hingga 1,3 meter.

Dengan tinggi puncak gelombang meningkat dari pukul 09.00 hingga pukul 16.00. Sedangkan di wilayah Banyuwangi Selatan, tinggi gelombang yang ada bisa mencapai 3 meter. Tinggi gelombang tersebut, menurut Prakirawan BMKG Banyuwangi, Dita Purnamasari, tergolong cukup tinggi.

Apalagi dengan awan columnimbus yang muncul akibat masih hangatnya permukaan air laut kerap menciptakan perubahan cuaca dan tingginya embusan angin. Termasuk juga mempengaruhi tinggi rendahnya gelombang di wilayah perairan.

“Kategorinya masih cukup tinggi. Apalagi di wilayah perairan selatan. Berkisar antara 2-3 meter. Karena itu kita himbau nelayan maupun pengguna jasa penyeberangan laut untuk berhati-hati,” ujarnya.

Dita menambahkan, jika hujan ringan dan sedang masih bisa terjadi secara merata di Banyuwangi. Untuk hari ini (12/6) dari wilayah Wongsorejo hingga Tegalsari diprediksi mengalami hujan sedang di malam hari. Bahkan untuk wilayah Kabat hingga Sempu diprediksi sudah turun hujan sejak sore hari.

Loading...

Sementara, tingginya ombak di selat Bali memakan korban. Suryadi, 38, warga Dusun Krajan, RT 01/RW 02, Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo terseret arus saat hendak menyelamatkan anaknya.

Saat musibah terjadi, Suryadi bersama kedua anaknya sedang mencari kerang di pantai Bimo, Desa Bimorejo, Kecamatan Wongsorejo, Sabtu lalu (10/6). Pukul 16.45 Suryadi sedang mencari kerang di pinggir pantai ketika laut sedang surut sejauh 10 meter dari bibir pantai.

Sementara kedua anaknya asyik bermain di pinggiran pantai sambil melihat aktivitas ayahnya tersebut. Ketika sedang asyik bermain pasir, kedua anak itu lari menuju ke lokasi Suryadi mencari kerang.

Bocah tersebut takut ada orang gila yang sedang berjalan ke arahnya. Karena ketakutan, kedua bocah itu lari dan berteriak menuju ayahnya. Mereka tidak tahu kalau pinggiran pantai tersebut terdapat palung yang dalam serta berarus besar.

Kedua anak itu langsung tenggelam karena tidak bisa berenang. Keduanya hanya bisa berteriak dan meminta tolong. Mendengar suara teriakan, Suryadi berlari menuju ke tempat tenggelamnya kedua anak itu.

Seorang nelayan yang melihat kejadian itu juga ikut menyelamatkan kedua anak tersebut. Akhirnya kedua anak suryadi pun dapat diselamatkan oleh nelayan tersebut. Nasib Suryadi justru bertolak belakang. Dia malah terseret derasnya arus pantai Bimo.

“Kedua anaknya bisa diselamatkan, Suryadi justru terseret aru,” ujar Supri, warga Desa Bimorejo. Nelayan pantai Bimorejo langsung menyisir lokasi kejadian dengan mengunakan perahu tradisional.

Hingga Minggu pagi kemarin (11/6), pencarian belum membuahkan hasil. Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) beserta beberapa personel Satpolair terus berupaya melakukan pencarian.

“Sampai pukul 12.00 masih belum ditemukan tanda-tanda korban,” ujar Aipda Hardi, anggota satpolair Banyuwangi. Kegiatan penyisiran korban masih terus dilanjutkan sampai pukul 16.00 kemarin. Hasilnya tetap nihil. Kondisi air laut yang keruh dan ombak yang tidak bersahabat, memaksa petugas gabungan menghentikan pencarian.

“Kami dan Basarnas, Polaair, dan TNl AL masih akan terus mencari korban yang hilang,” tandas Brigadir Roni, anggota Polsek Wongsorejo. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :