Tiga Jam Menari Seraya Terpejam

0
1083
Seblang menari dalam kondisi tak sadarkan diri didampingi tetua adat di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, sore kemarin.

GLAGAH – Tradisi Seblang tahun dimulai dipentas terbuka Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, siang kemarin (30/6). Tontonan yang menampilkan penari Seblang berlenggok-lenggok selama beberapa jam dalam kondisi tak sadarkan diri itu menarik perhatian ratusan pengunjung.

Acara tahunan ini digelar pada tanggal 6 Syawal dan akan berlangsung selama sepekan. Kabid Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi, Choliqul Ridho menjelaskan kerasukan penari Seblang biasanya berlangsung pada enam hari sebelum Lebaran.

Akhirnya, penari Seblang tahun ini dilakoni oleh Fadiah Yulianti yang masih berusia 11 tahun. Fadiah masih duduk di kelas 4 SDN 1 Glagah. Anak kedua pasangan Misati dan Juli itu sudah terpilih menjadi penari Seblang selama dua tahun berturut-turut.

Loading...

Tahun sebelumnya, dia terpilih sebagai penari Seblang menggantikan sepupunya, Suidah yang telah menikah. Masyarakat setempat mempercayai bahwa penari Seblang harus seorang gadis dan masih memiliki garis keturunan Seblang.

Sementara itu, persiapan tradisi Seblang dimulai pukul 13.00 kemarin. Fadiah berdandan di rumah ketua adat dan menjalani Atal (lulur warna kuning). Dia hanya berias bedak tipis, pesona mata, dan lipstik.

Setelah mengenakan kain panjang dan kemben, Fadiah menutupi kepala dengan kain panjang. Selanjutnya, semua bersiap di jalan desa untuk mengiringi penari Seblang. Seorang tetua adat membakar dupa dan seorang perempuan tua membawa nampan berisi omprong (mahkota). Seblang yang terbuat dari pupus daun pisang.

Selanjutnya, rombongan I berjalan menuju pentas Seblang. Ratusan orang telah menunggu kedatangan penari. Di bawah payung agung, ritual tari tradisi Seblang dimulai. Penari memegang nampan lalu doa-doa dirapalkan.

Jika nampan yang di pegang jauh, berarti penari sudah kerasukan dan akan menari selama tiga jam diiringi Sinden dan pemain musik. Seblang menari mengelilingi payung Agung diiringi sekitar 45 gending (lagu).

Penari juga melempar sampur (selendang) untuk mengajak penonton untuk menari. Siapa yang terkena selendang wajib naik pentas dan ikut menari. Seblang juga mengedarkan kembang dermo (rangkaian bambu berisi tiga kuntum bunga).

Masyarakat percaya bahwa bunga tersebut bagus untuk keselamatan, keberuntungan, rezeki, dan tolak bala. Warga yang dapat kembang dermo akan memberikan dermo Rp 5.000.

“Masyarakat sini percaya kalau minum rendaman bunga ini agar terjaga keselamatannya, banyak rezekinya, dan juga enteng jodoh,” jelas Ridho. (radar)

loading...