Ular Masuk Rumah Jangan Dibunuh

0
1993

ular

Bagi sebagian warga, ular adalah binatang menakutkan yang harus segera dibunuh saat masuk rumah. Nah, anggota Banyuwangi Reptil Community (Bareco) kini tengah berupaya mengubah pandangan tersebut. JERIT histeris perempuan terdengar begitu melengking di antara kerumunan warga di Taman Blambangan pagi itu (20/1). Sekejap berselang, jeritan itu berubah menjadi suara tawa cekikikan.

Ada apa gerangan? Rasa penasaran itu berhasil merayu kami mendekati kerumunan warga tersebut. Setelah didekati, baru diketahui bahwa jeritan yang dalam sekejap berubah menjadi tawa itu berasal dari seorang remaja perempuan. Ular berukuran cukup besar tampak melingkar di leher remaja berkulit kuning langsat tersebut. Menakutkan memang. Tetapi gadis itu tampak begitu ceria bersama hewan melata yang melingkar di lehernya. Bahkan, gadis itu lantas meminta seorang rekannya memotret dirinya yang sedang bergaya bersama sang ular.

“Baru kali ini saya berani pegang ular. Baru saja saya diberi tahu, bahwa ular yang saya pegang ini tidak berbisa. Eh setelah saya coba, memang ularnya tidak galak, tidak menggigit, dan tidak meracuni saya dengan bisanya,” ujar gadis yang belakangan diketahui bernama Meliana, 16, warga Perum Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kalipuro tersebut Kawasan Taman Blambangan yang saat itu tengah ramai dikunjungi warga, rupanya menjadi pertimbangan tersendiri bagi sang pemilik ular untuk memamerkan binatang piaraannya. Tentu bukan tanpa pertimbangan, ternyata sang pemilik ular ingin mengedukasi warga, bahwa tidak semua jenis ular berbisa.

Sebaliknya, ada beberapa jenis ular yang jika dirawat dengan baik dan diajak berinteraksi dengan intens, bisa menjadi binatang piaraan yang bersahabat. Ya, pemilik ular tersebut adalah anggota komunitas pencinta reptil, yakni Banyuwangi Reptil Community. Komunitas yang terbentuk sejak pertengahan 2011 tersebut, kini sudah memiliki 25 anggota yang mayoritas memelihara ular. Irul, 21, ketua Bareco mengatakan, seluruh anggota komunitas yang dipimpinnmya harus benar-benar menyayangi reptil. Perawatan hewan piaraannyapun harus dilakukan dengan baik, sehingga satwa tidak sakit atau bahkan mati. “Tujuan kami melestarikan reptil, bukan untuk mempercepat kepunahan,” tegasnya.

Loading...

Nah, untuk merealisasikan cita-cita melestarikan reptil tersebut, tentu tidak hanya bisa dilakukan internal anggota Bareco. Karena itu, anggota komunitas yang satu ini gencar mengadakan sosialisasi tentang reptil kepada masyarakat. “Makanya kami datang ke Taman Blambangan, mumpung tempat ini ramai dikunjungi warga yang menikmati Car Free Day. Kita ingin mengklarifikasi pandangan masyarakat tentang ular. Selama ini masyarakat takut ular karena dianggap seram dan berbahaya. Tidak semua jenis ular berbahaya,” kata Irul. Irul mengungkapkan, ular piton (sanca), boa, dan anaconda, merupakan beberapajenis ular yang tidak berbisa.

Jika dirawat dengan baik dan diajak berinteraksi dengan intens, maka ular tersebut bisa jinak. “Sedangkan ular berbisa tidak bisa jinak. Tetapi bisa di-handle,” terang remaja asal Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi tersebut. Menurut Irul, masyarakat bisa mengenali ular berbisa dan tidak dengan melihat ciri-ciri fisik atau reaksi ular tersebut saat bertemu dengan manusia. Dikatakan, ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga sempurna, sedangkan bentuk kepala ular tak berbisa cenderung lonjong. Jika bertemu manusia, ular berbisa biasanya cenderung bertahan, sedangkan ular tidak berbisa akan langsung kabur saat bertemu manusia.

Mungkin karena ular berbisa merasa punya alat melindungi diri dengan racun. Makanya, saat bertemu manusia atau diusir saat memasuki area perumahan, ular berbisa cenderung bertahan,” paparnya. Dicky, anggota Bareco menambahkan, mereka rutin berkumpul sekali dalam sepekan. Pertemuan itu biasanya digelar di Taman Sritanjung setiap Minggu sore. “Saat berkumpul tersebut, kami manfaatkan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Contohnya, jika ada ular yang masuk ke rumah, jangan langsung dibunuh. Tetapi pindahkan ke lokasi sejauh mungkin dari perumahan dengan menggunakan tongkat panjang,” tuturnya.

Dikatakan, kelestarian ular diperlukan untuk menjaga rantai makanan tidak terputus. Sebab, jika rantai makanan terputus, keseimbangan ekosistem akan terganggu yang akan berdampak negatif bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya saja, saat jumlah ular di sawah semakin sedikit lantaran diburu manusia, maka jumlah tikus semakin bertambah. Jika jumlah tikus sudah tidak terkendali, tentu petani dirugikan lantaran tikus tersebut akan menyerang tanaman mereka. Selain ular, beberapa anggota Bareco juga memelihara aneka jenis reptil lain. Di antaranya, iguana, biawak, dan kura-kura. “Seorang anggota Bareco juga memelihara ular berbisa. Namun karena kami berbahaya, ular berbisa tersebut tidak dibawa ke tempat ini (Taman Blambangan),” pungkas Dicky. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :