Warga Penasaran Lihat Harta Karun

0
422
Loading...

Serbu Rumah Rudi di Bangsring

WONGSOREJO – Kabar temuan benda mirip harta karun Sukarno oleh Rudiawal Harianto, 33, warga Dusun Paras Putih, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat. Kemarin (28/8) puluhan orang bergantian mendatangi rumah pria yang sehari-hari bekerja sebagai pencari timah tersebut.

Karena khawatir ada yang mencuri barang itu, Rudi pun terpaksa menyembunyikan benda tersebut. Hanya kepada beberapa orang yang dia percaya saja dia menunjukkan. Rudi tetap tidak mau sembarangan menempatkan barang antik tersebut.

Dia mengaku masih menunggu pihak pemerintah yng mau datang ke tempatnya.  “Banyak yang ingin lihat, masih warga desa-desa sekitar Wongsorejo. Tapi belum ada dari pemerintah. Saya takut ada yang mengambil,” kata Rudi dihubungi tadi malam.

Temuan logam mirip emas yang diyakini harta Bung Karno itu mengegerkan warga Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo. Harta karun tersebut ditemukan seorang nelayan bernama Rudiawal Harianto, 33, nelayan asal Dusun Paras Putih, Desa Bangsring.

Harta karun tersebut berupa sebatang logam berwarna keemasan dengan gambar presiden pertama RI, Sukarno. Barang antik seberat 500 gram itu ditemukan Rudi di dasar laut tak jauh dari patung gandrung Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro sebulan lalu.

Menurut beberapa sumber, harta karun Sukamo tersebut tergolong barang gaib yang sangat sulit diltemukan. Keberadaannya hanya bisa diketahui arang-orang yang secara garis keturunan diberi amanah menjaga harta tersebut.

Rudi menemukan benda tersebut saat hendak mencari timah sisa pancing yang nyantol di paritan Watudodol. Maklum, kawasan itu kerap dijadikan tempat memancing ikan. Tak sedikit pancing nelayan yang kecantol batu karang.

Nah, sisa- sisa timah itulah yang dilcari Rudi di perairan tersebut. Saat mencari timah itu Rudi dikejutkan seonggok benda aneh di tengah pasir dasar laut. Setelah diambil dan diamati ternyata benda aneh ini kepingan logam mirip emas bergambar Sukarno.

Ketika hendak mengambil benda tersebut, Rudi melihat ada batu empat warna dan keris disisinya.  Tetapi, pria berkulit gelap itu mengaku tidak berani mengambil benda yang lain. Sebelum menemukan batangan logam tersebut, dia mengaku bermimpi ditemui salah satu pamannya yang telah meninggal.

Di dalam mimpinya ini paman berpesan boleh mengambil batangan berwarna emas, tapi tidak boleh mengambil yang lain. Kabid Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi, Cboliqul Ridha mengaku belum melihat temuan milik Rudi secara langsung.

Jika memang berniat menyerahkan kepada negara, sebaiknya Rudi membawa benda tersebut ke Disbudpar Banyuwangi agar bisa diperiksa langsung oleh tim ahli. “Segera bisa dibawa ke sini, karena kami ada tim ahli yang bisa memeriksa keaslian benda tersebut, supaya tidak ada kesalahpahamam” ujarnya.

Seorang tim Ahli Cagar Budaya Banyuwangi, Bonavita Budi Wijayanto, kemarin langsung mendatangi kantor Dinas Budaya dan Pariwisata Banyuwangi begini mendengar kabar tersebut. Rupanya pria tersebut bermaksud mengklarifikasi kebenaran kabar temuan harta karun Sukarno oleh warga Desa Bangsring.

Pria yang biasa dipanggil Totok itu mengatakan dirinya menjamin 100 persen bahwa temuan di Pantai Watudodol itu bukan emas atau barang purbakala.  Sementara itu, lokasi penemuan harta laman berupa kepingan logam bergambar Sukarno itu tak jauh dari sumber air Watudodol.

Tempat tersebut ‘dikeramatlaan’ sebagian orang. Biasanya usai melakukan upacara Melasti, umat Hindu mengambil tirta di mata air Watudodol yang muncul dari batu. Pantai Watudodol dipercaya memiliki ikatan dengan Bali sejak zaman Majapahit.

Pengambilan air suci ini merupakan akhir dari rangkaian melasti. Selain umat Hindu, sumber air Watudodol juga diyakini bisa menolak bala dan menyucikan jiwa dan raga. Setiap tahun baru Hijriah (Suro), puluhan masyrakat dan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Yayasan AL Hikam Banyuwangi juga menggelar mandi di sumber air di sekitar Pantai Watudodol tersebut.

Peserta tidak hanya datang dari Banyuwangi, tapi juga dari luar kota. Pesertanya juga beragam latar belakang. Ada jaksa, pengusaha, birokrat, tentara dan guru. Mereka bertelanjang dada menunggu guyuran air dari pengasuh dan pembina ponpes tersebut. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :