Loading Event

« All Event

  • This event has passed.

Festival Angklung Caruk Pelajar

Februari 25 @ 8:00 am - Februari 26 @ 5:00 pm

Angklung caruk adalah salah satu kesenian yang terkenal di kalangan masyarakat Banyuwangi. Dalam angklung caruk, angklung caruk yang dipakai tidak berbeda dengan angklung lainnya, jumlah bilahan juga sama antara 12-14 bilah. Laras yang dipaki juga sama yaitu laras slendro. Yang berbeda hanya rancakan (penyangga). Angklung caruk menggunakan rancakan dimana tempat dudukan dan rancakan menjadi satu. Angklung caruk juga dihisiasi dengan motif hia ular naga diatas angklungnya sehingga manampakkan keindahan dan kegagahannya. Angklung ditambahkan dengan kethuk, gong, slenthem, saron dan kluncing. Pemain angklung caruk antara 12-25 orang dalam satu kelompok.

“Caruk” dalam bahasa Using berarti “temu”. Kata dasar itu bisa diucapkan “kecaruk” atau “bertemu”. Kata “angklung caruk” maksudnya adalah dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan dalam satu panggung dan saling beradu tebak gendhing dan kepandaian memainkan alat musik berlaras pelog dengan iringan sejumlah tembang Banyuwangian. Tidak ada juri secara khusus dan penontonlah yang menentukan dan menilai kelompok mana yang lebih baik, namun tidak ada yang curang dan tidak ada yang marah walau kurang mendapat respon dari penonton.

Dalam angklung caruk, pertama-tama setiap kelompok masing-masing membawakan “larasan” yang menjadi andalan dengan seorang penari pria yang disebut Badut. Setelah selesai dan sesuai kesepakatan, maka kesempatan keslompok lain untuk melakukan hal yang sama. Pada sesi berikutnya adalah Adol Gending, yaitu saling tebak lagu misalnya kelompok A membawakan ketukan sebuah lagu dan ketukan lagu tersebut ditebak oleh kelompok B. Apabila kelompok B sudah tau, maka diberi kesempatan memotong dengan cara “ngosek” atau memukul gamelan secara tidak beraturan. Jika hal itu sudak terjadi, maka kelompok A harus menghentikan intrumennya dan memberikan kesempatan kepada kelompok B untuk meneruskan instrumennya. Jika masih salah maka kelompok A akan mengambil alih kembali dengan “ngosek” kemudian meneruskan hingga tuntas. Ini juga berlaku kepada sang badut, mereka juga beradu variasi tariannya dengan lagu-lagu andalan yang dimiliki kelompoknya.

Dalam tempo yang cepat, baik tarian maupun instrumennya tidak boleh ada yang salah. Dan masing-masing kelompok biasaanya membawa “suporter”, namun selalu ada penonton yang netral yang akan memberikan apresiasi yang baik bagi kelompok yang tampil bagus dan memukau.

Bagi yang kalah harus menerima kekalahan, tanpa hada kemarahan apalagi bersikap berlebihan. Semangat “caruk” inilah yang harus menjadi contoh semua masyarakat, sama layaknya para “panjak” angklung yang berlatih hampir setiap hari sehingga menjelang pentas mereka dapat berlaga di panggung tidak mengecewakan. Jika sudah berlatih maksimal namun tetap saja kalah, maka harus menerima. “Gojlokan” penonton bukan dijadikan sebagai hinaan, melainkan sebagai cambuk agar berusaha dan berlatih lebih keras dan lebih baik lagi.

Saat ini kelompok angklung caruk yang terkenal di Banyuwangi adalah Angklung Alasmalang, Angklung Bolot, Angklung Pasinan, Angklung Caruk Sumberwangi, dan Angklung Canthuk. Namun sebenarnya masih banyak lagi, kelompok angklung caruk yang tersebar di wilayah Banyuwangi.

Sumber : http://ensiklopedia.stikombanyuwangi.ac.id/utama/detail_content/15

Loading...

Agen Bukalapak BANYUWANGI

Agen Bukalapak BANYUWANGI

Agen Resmi Bukalapak Banyuwangi Melayani pembelian; - Pulsa All operator - Pulsa Listrik - Pulsa internet - Pembelian voucher Game…
09/11/2017
Banyuwangi

Kata kunci yang digunakan :

Detil

Mulai:
Februari 25 @ 8:00 am
End:
Februari 26 @ 5:00 pm