Mumpung Masih Hidup, Saya Bisa Cerita Sebenarnya

0
1370

Tiba-tiba, di tengah malam tanggal 30 September sekitar pukul 23.00, Vence mendapat laporan dari salah satu rekannya jika ada banyak Angkatan Darat yang menggunakan seragam berseliweran. Mereka pun heran dengan situasi itu, karena kala itu jika pasukan menggunakan seragam lengkap maka sedang ada operasi militer atau peristiwa penting.

“Saya sempat bertanya-tanya, apa yang terjadi sampai tentara Angkatan Darat berseragam dan bersenjata,” ujarnya. Namun, teka-teki itu ternyata baru terjawab keesokan paginya.

Sekitar pukul 06.00 pagi melalui siaran RRI, Vence mendengar adanya sebuah gerakan yang disebut Gestapu. Dalam siaran itu disebutkan, bagi mereka yang mau bergabung dalanm gerakan itu terutama tentara, akan dinaikkan pangkatnya dua tingkat. Sedangkan bagi yang mau menjadi simpatisan, akan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Meski menggiurkan, namun tawaran itu membuat Vence dan kawan-kawannya semakin bingung. Karena mereka berpikir pasti ada sesuatu yang besar sedang terjadi. Dua hari kemudian, sekitar tanggal 3 oktober 1965, tiba-tiba turun perintah dari Letnan Satu KKO Mispan yang meminta bantuan Vence untuk mengumpulkan rekan-rekannya.

Saat ditanya untuk apa, atasan Vence saat itu hanya mengatakan, mereka diminta mengambil jenazah para jenderal dari Lubang Buaya. “Lettu Mispan dimintai tolong Kapten Suhendar dari Kostrad. Katanya perintah langsung dari Pak Harto untuk mengambil jenazah jenderal dari Lubang Buaya, jadi dimintai menyiapkan penyelam. Saya juga bingung waktu itu, akhirnya siapa pun yang saya temui saya ajak untuk ke Lubang Buaya,” terangnya.

Lanjutkan Membaca : First | ← Previous | ... | 2 |3 | 4 | ... | Next → | Last

Baca :
BMKG Banyuwangi Keluarkan Peringatan Dini Ombak Laut Selatan