Rumah Pribadi Dipoles Menjadi Museum Indie

  • Bagikan

rumahRatusan orang menyemut di bibir pantai Pelabuhan Boom, Banyuwangi pada tahun 1924. Mereka adalah para calon jamaah haji asal Bumi Blambangan yang hendak menuju Makkah, menggunakan kapal SS Rotti. Momen tersebut terekam dalam foto di Museum Sukowidi.

DILIHAT dari luar, memang tak ada yang istimewa dari sebuah rumah yang berlokasi di jalan Yos Sudarso Nomor 15, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi itu. Namun ternyata, pintu rumah tersebut tak ubahnya lorong waktu yang akan mengajak kita mengunjungi Banyuwangi tempo dulu. Betapa tidak, kali pertama menjejakkan kaki di ruang tamu rumah yang berdiri tepat di tepi jalan poros jurusan Banyuwangi-Situbondo, itu kami langsung disuguhi puluhan foto Bumi Blambangan masa lalu .

Salah satunya adalah foto kapal berukuran besar yang menambatkan jangkar tak jauh dari bibir Pantai Boom, Banyuwangi. Dalam foto itu terlihat jelas ratusan warga yang mengenakan pakaian warna putih menyemut di kawasan Pantai Boom. Beberapa di antaranya tampak berdiri di tepi pantai, sedangkan puluhan warga yang lain terlihat menunggang perahu kecil menuju kapal lain yang ukurannya jauh lebih besar.

Di saat bersamaan, beberapa warga lain terlihat sudah berada di atas kapal berukuran besar tersebut. Belakangan diketahui, momen dalam foto itu adalah pemberangkatan jamaah haji Banyuwangi yang hendak diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah tahun 1924 silam. Pemandangan yang terekam dalam salah satu foto lain tidak kalah mencengangkan.

Dalam foto tersebut tampak kawasan Simpang Lima Banyuwangi. Tidak seperti saat ini, dalam foto yang diambil tahun 1920-an itu tampak kawasan Simpang Lima masih lengang dari lalu-lintas kendaraan bermotor. Itulah sekilas gambaran Banyuwangi tempo dulu yang kami dapati di dalam rumah sederhana yang kini dijadikan Museum Sukowidi tersebut. Museum yang didirikan dan dikelola secara swadaya oleh Komunitas Pencinta Sejarah Blambangan (Koseba) itu, ternyata sudah dibuka sejak 18 Mei 2013.

“Museum ini kami buka bertepatan dengan Hari Museum Internasional yang jatuh setiap tanggal 18 Mei,” ujar Ira Rahmawati, pemilik rumah yang sekaligus anggota Koseba. Ira terang-terangan mengaku, museum yang dikelola itu belum memenuhi standar museum. Namun demikian, perempuan berjilbab ini tetap berusaha mempertahankan museum kebanggaan komunitasnya.

Baca :
Longsor Timbun Tiga Rumah di Banyuwangi, Satu Orang Meninggal Dunia

“Intinya kami ingin berbuat. Sayang kalau koleksi foto sejarah Banyuwangi yang kami punya hanya disimpan. Dengan dipajang di museum ini, orang lain yang ingin tahu sejarah Banyuwangi bisa mendapat referensi,” kata dia. Uniknya, selain memajang foto, pengelola Museum Sukowidi juga memiliki sejumlah foto lain yang disimpan dalam bentuk soft copy.

Pengunjung bisa melihat fi le foto yang belum dicetak tersebut melalui layar laptop. Tidak hanya itu, buku-buku sejarah dan budaya Banyuwangi juga bisa kita jumpai dan dibaca di museum tersebut. “Sebagian foto dan buku kami peroleh dari sumbangan warga yang peduli. Pada umumnya, foto yang disumbangkan adalah foto-foto reproduksi.

Sebagian foto yang usianya di atas 50 tahun, kami peroleh dengan cara menjelajah internet. Foto yang usianya 50 tahun lebih, hak patennya sudah tidak berlaku. Jadi bisa kami unduh,” bebernya. Selain foto dan buku, Museum Sukowidi juga memajang reproduksi empat lukisan Candi Macan Putih karya Johannes Muller. Reproduksi lukisan tahun 1859, itu merupakan sumbangan seorang pakar sejarah, yakni Dr Sri Margana.

Margana mengirimkan reproduksi lukisan tersebut saat dia berkunjung ke negeri Kincir Angin, Belanda, beberapa waktu yang lalu. Meski dikelola tanpa anggaran pemerintah, Koseba tidak memasang tarif untuk warga yang mengunjungi Museum Sukowidi. Artinya, pengunjung tidak perlu membayar tiket masuk ke museum tersebut. “Warga bisa mengunjungi Museum Sukowidi secara gratis.

Namun untuk sementara, museum ini kami buka secara on call. Sebelum datang, calon pengunjung harus mengontak kami melalui akun facebook Koseba atau di nomor telepon seluler 081330106304,” cetus Ira. Masih menurut Ira, konsep museum yang didirikan di rumah keluarga besarnya itu adalah museum ramah. Museum yang memberikan kenyamanan kepada pengunjung.

“Museum ini bisa dikategorikan museum indie. Museum yang dikelola secara swadaya, tetapi kami harapkan memberikan manfaat bagi orang banyak. Kalau ada grup band indie, kenapa tidak ada museum indie,” jlentrehnya seraya tersenyum. Nah, keberadaan Museum Sukowidi perlahan namun pasti mulai menarik atensi masyarakat Banyuwangi. Tidak sedikit kalangan siswa, mahasiswa, bahkan masyarakat umum yang ingin tahu sejarah Banyuwangi memanfaatkan museum tersebut.

Bahkan, beberapa hari yang lalu para fi nalis Pemilihan Jebeng Th ulik Banyuwangi 2013, juga berkunjung ke museum tersebut. Seorang anggota Koseba, Taufik RB menambahkan, pihaknya berencana mengumpulkan koleksi lagu-lagu Banyuwangi tempo dulu untuk dijadikan koleksi Museum Sukowidi. “Kami berencana mengumpulkan lagu-lagu Banyuwangi untuk dijadikan koleksi museum ini,” pungkasnya.  (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: