https://banyuwangihits.id/

BANYUWANGIHITS.ID – Tembok lembaga pemasyarakatan tidak menjadi penghalang bagi warga binaan untuk menghasilkan karya bernilai tinggi. Hal ini ditegaskan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Timur, Kadiyono, saat meresmikan Al-Qur’an raksasa karya warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Senin (16/3/2026).
Peresmian tersebut berlangsung di sela kegiatan Safari Ramadhan Kakanwil Ditjenpas Jatim pada Koordinator Wilayah (Korwil) Jember yang dipusatkan di Lapas Banyuwangi. Dalam kesempatan itu, Kadiyono memberikan apresiasi atas dedikasi warga binaan yang mampu menyelesaikan penulisan Al-Qur’an berukuran besar dengan tingkat ketelitian dan nilai estetika tinggi.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan program pembinaan di Lapas Banyuwangi dalam mengembangkan kreativitas warga binaan, khususnya di bidang seni religius.
“Ini adalah bukti konkret bahwa pembinaan di Lapas Banyuwangi mampu mengubah keterbatasan menjadi karya yang luar biasa. Warga binaan diberikan ruang untuk menggali potensi diri mereka, bahkan dalam bidang seni religius yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi,” ujarnya.
Keberhasilan ini terbilang istimewa karena dikerjakan oleh tiga warga binaan yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang kaligrafi. Mereka mempelajari teknik penulisan Al-Qur’an secara bertahap di dalam lapas melalui pendampingan intensif dari praktisi profesional.
“Tanpa dorongan semangat dan tekad yang kuat, tentunya hal ini akan sulit untuk dilakukan. Namun warga binaan Lapas Banyuwangi mampu melakukan hal tersebut dengan sangat baik meskipun tidak memiliki bakat kaligrafi sebelumnya,” terangnya.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menjelaskan bahwa Al-Qur’an raksasa tersebut tidak hanya menjadi simbol karya, tetapi juga telah dimanfaatkan secara rutin untuk kegiatan tadarus warga binaan setelah shalat Tarawih di masjid lapas.
Ia menegaskan bahwa proses penulisan dilakukan dengan sangat teliti, termasuk melalui tahap taskhih atau pemeriksaan ulang guna memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan ayat maupun tanda baca.
“Prosesnya sangat teliti. Setelah dinyatakan valid melalui tahap pemeriksaan, barulah Al-Qur’an ini kami gunakan untuk kegiatan ibadah warga binaan,” terang Wayan.
Keberhasilan tersebut turut memacu semangat warga binaan untuk terus berkarya. Saat ini, tim penulis tengah memulai pengerjaan Al-Qur’an kedua dengan ukuran serupa sebagai bagian dari keberlanjutan program pembinaan kemandirian dan kerohanian.
Salah satu penulis utama, Moch Chanafi, mengaku bangga atas pencapaian tersebut. Ia tidak menyangka dapat menghasilkan karya besar yang kini diresmikan oleh pimpinan wilayah.
“Awalnya saya hanya belajar dari nol di sini. Sekarang, ada rasa bangga yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ini memberikan saya semangat baru untuk segera menyelesaikan Al-Qur’an yang kedua bersama teman-teman yang lain,” ungkap Chanafi dengan nada optimis. (Redaksi)








