Festival Petik Kopi Banyuwangi Hadirkan Sensasi Bangunan Kolonial Belanda

0
147
Foto: banyuwangikab

BANYUWANGI – Warga Banyuwangi bangga dengan potensi kopinya. Seperti yang terlihat pada warga Gombengsari yang merayakan musim panen kopinya dengan menggelar sebuah festival.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Menariknya, festival ini di gelar di salah satu sumber mata air terbesar di Banyuwangi, yakni di kawasan Sumbergedor, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (18/8/2019) yang berada di kawasan perbukitan yang sejuk.

Dilansir dari banyuwangikab, di sekelilingnya terdapat perkebunan kopi, sehingga menambah keindahan kawasan ini. Aroma kopi pun menguap di sepanjang jalan menuju lokasi.

Camat Kalipuro Henry Suhartono mengatakan, festival kopi Gombengsari yang biasanya digelar di lingkungan Lerek, pada tahun ini dipindahkan ke Sumbergedor.

“Ini karena warga ingin menjadikan Sumbergedor sebagai lokasi wisata,” ungkap Camat Henry.

Selain lokasinya yang sejuk, tempat tersebut juga dikenal ada bangunan bersejarah, yakni tempat penyimpanan airnya adalah bangunan peninggalan Belanda. Dan warga ingin mengangkat kawasan ini sebagai destinasi dan dikenal lebih luas.

Sumber mata air Sumbergedor memasok 80 persen kebutuhan air bersih Banyuwangi. Sumber air ini telah dikenal sejak jaman kolonial. Hal ini dibuktikan dengan bangunan tempat penyimpanan airnya yang dibangun Belanda sejak 1927. Saat ini, kawasan yang seluas 12 hektar tersebut dikelola oleh PDAM Banyuwangi.

Festival yang dihadiri ratusan pengunjung ini berlangsung meriah. Para pengunjung menyaksikan proses pengolahan kopi rakyat secara manual. Mulai dari petik kopi, roasting manual, hingga pemisahan biji kopi dengan kulitnya. Hal ini justru menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan.

Seperti yang diungkapkan oleh Emilio dari Utrecht, Belanda. Meski dia penikmat kopi, ternyata baru mengetahui bentuk pohon kopi setelah plesir ke Banyuwangi kali ini.

“Kalau di Belanda saya memakai mesin roasting, tapi di Banyuwangi saya mencoba secara manual tanpa mesin,” ungkap Emilio.

Tidak hanya itu, dia juga menikmati proses pengolahan kopi tradisional yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Pria ini juga mengaku senang dengan lokasi Sumbergedor.

“Selain mengandung nilai sejarah, bukit yang dikelilingi kebun kopi ini sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktu,” kata Emilio.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir dalam festival tersebut mengaku sangat mengapresiasi inisiatif warga Gombengsari yang menggelar festival untuk mempromosikan wisatanya.

“Prakarsa ini menunjukkan semangat warga dalam menjadikan tempat itu sebagai tempat wisata. Pemkab akan mendukung ide ini,” ujar Bupati Anas.

“Apalagi ada bangunan bersejarah yang berdiri di dalamnya. Ini merupakan potensi destinasi baru yang besar. Tidak hanya agro wisata, namun ada wisata heritage di dalamnya,” pungkasnya.

Loading...

[AWPCPRANDOMLISTINGS limit=1]