Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Warga Ringinagung Tolak Tambang PT BSI, Gunung Kucur dan Gunung Gede Dinilai Tameng Alami Tsunami

warga-ringinagung-tolak-tambang-pt-bsi,-gunung-kucur-dan-gunung-gede-dinilai-tameng-alami-tsunami
Warga Ringinagung Tolak Tambang PT BSI, Gunung Kucur dan Gunung Gede Dinilai Tameng Alami Tsunami

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Penolakan warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, terhadap eksplorasi penambangan oleh PT BSI di Petak 56, Gunung Kucur dan Gunung Gede memang bukan tanpa alasan. 

Bukan hanya berpotensi merusak lahan garapan warga di hutan tersebut, adanya pegunungan yang jaraknya hanya satu kilometer dari permukiman itu juga jadi penahan alami air laut saat terjadi gelombang tinggi.

Selama ini, warga menyebut pegunungan yang jadi sumber penghasilan warga itu mengurangi dampak bencana yang terjadi di wilayahnya.

Warga setempat yang getol menolak tambang Lukman Budiono, 45, mengatakan dua gunung yang juga merupakan lokasi penambangan rakyat itu punya peran vital bagi masyarakat.

“Di sini ada banyak gugusan gunung. Selain dua gunung tersebut, juga ada Gunung Batok, Gunung Umpak Lego, dan Gunung Manis,” tandasnya.

Menurut kepercayaan warga, gugusan gunung yang terbentang membatasi laut selatan dengan pemukiman warga itu punya kandungan emas yang tinggi.

“Semuanya itu ada emasnya, alamnya memang kaya. Tapi kalau dikeruk tanpa kontrol akhirnya berbahaya bagi kami (warga),” katanya semabri menunjukkan pegunungan yang hendak dieksplorasi oleh PT BSI tersebut.

Hal itu diduga warga menjadi alasan PT BSI juga ingin melakukan eksplorasi mineral di Gunung Gede dan Gunung Kucur.

Padahal, menurut dia jauh sebelumnya eksplorasi sudah dilakukan di Gunung Manis dan Gunung Umpak Lego.

“Kami mintanya yang dua itu (Gunung Gede dan Kucur) jangan disentuh. Kalau ikut ditambang, namanya ingin membantai warga sini secara massal,” ucapnya.

Jika proses tambang open pit (tambang terbuka) benar-benar terlaksana, satu-satunya tameng laut yang dimiliki warga Dusun Ringinagung tersebut akan hilang.

“Itu sudah pasti, informasinya kalau jadi eksplorasi akan di-open pit. Berarti gunungnya dikikis sampai habis. Kalau ada tsunami, jelas warga sini yang terdampak. Pembantaian massal namanya,” katanya.

Apa yang disampaikan warga itu bukan sekadar khayalan. Menurut pria yang juga Ketua RT itu keberadaan pegunungan tersebut, terutama Gunung Gede dan Gunung Kucur mampu mengurangi dampak bencana tsunami yang menerjang wilayah Perairan Pancer dan Lampon pada 3 Juni 1994.

“Warga sini sudah tahu semua. Dulu saat tsunami tahun 1994, kalau tidak ada gunung tersebut air laut pasti masuk ke sini,” terangnya.


Page 2

Pasalnya, lanjut dia, di bagian lain kampung yang tidak mendapat tutupan tameng hutan itu, mengalami kerusakan yang masif akibat terjangan ombak lampon.

“Mayat-mayat dulu berserakan di lampon, itu karena tidak ada hutan penutupnya, sedangkan di wilayah ini kan ada Gunung Gede,” jelasnya ditemui saat sedang menuju hutan.

Karena perannya yang vital itu, warga membulatkan tekad untuk menolak aktivitas penambangan oleh PT BSI.

Mereka berharap agar eskpansi tidak merambah di dua gunung yang masih terjaga tersebut.

“Kami minta ada batas, batas yang mana ada kepastian perusahaan tidak bisa melakukan eksplorasi ke titik-titik yang disepakati,” kata perwakilan dan koordinator aksi penolakan, Katoyo, 54.

Menurut Katoyo permintaan tersebut sudah disampaikan di sejumlah forum. Termasuk hearing bersama DPRD Banyuwangi dan saat adanya mediasi di Polsek Pesanggaran beberapa waktu sebelumnya.

“Saat aksi pertengahan Desember lalu, saya itu bawa materai. Saya ingin ada kesepakatan dengan tambang agar ada kepastian dua gunung tersisa, tidak dieksekui juga, namun saat itu mereka tidak mau,” katanya.

Ditanya terkait Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT BSI, Katoyo tidak menampik. Ia mengakui sudah ada bantuan pavingisasi di jalan menuju Petak 56.

Namun, hal itu tidak membuat warga bisa legowo saat penambangan di dua area itu dilakukan.

“Kalau bicara jalan, yang rusak itu juga masih banyak. Di sana yang jalannya berlubang masih panjang. Jadi tentu bagi kami tidak sepadan dengan potensi kerusakannya,” tuturnya.

Kapolsek Pesanggaran AKP Maskur membenarkan jika ada tuntutan warga berupa pemberian batas area yang diizinkan untuk ditambang oleh PT BSI.

“Warga minta kami memberikan kepastian batas itu, ya kami tidak bisa. Kami sifatnya memasikan kemanan wilayah, untuk batas-batas itu bukan tupoksi kami,” katanya dikonfirmasi via telepon. (sas/aif)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Penolakan warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, terhadap eksplorasi penambangan oleh PT BSI di Petak 56, Gunung Kucur dan Gunung Gede memang bukan tanpa alasan. 

Bukan hanya berpotensi merusak lahan garapan warga di hutan tersebut, adanya pegunungan yang jaraknya hanya satu kilometer dari permukiman itu juga jadi penahan alami air laut saat terjadi gelombang tinggi.

Selama ini, warga menyebut pegunungan yang jadi sumber penghasilan warga itu mengurangi dampak bencana yang terjadi di wilayahnya.

Warga setempat yang getol menolak tambang Lukman Budiono, 45, mengatakan dua gunung yang juga merupakan lokasi penambangan rakyat itu punya peran vital bagi masyarakat.

“Di sini ada banyak gugusan gunung. Selain dua gunung tersebut, juga ada Gunung Batok, Gunung Umpak Lego, dan Gunung Manis,” tandasnya.

Menurut kepercayaan warga, gugusan gunung yang terbentang membatasi laut selatan dengan pemukiman warga itu punya kandungan emas yang tinggi.

“Semuanya itu ada emasnya, alamnya memang kaya. Tapi kalau dikeruk tanpa kontrol akhirnya berbahaya bagi kami (warga),” katanya semabri menunjukkan pegunungan yang hendak dieksplorasi oleh PT BSI tersebut.

Hal itu diduga warga menjadi alasan PT BSI juga ingin melakukan eksplorasi mineral di Gunung Gede dan Gunung Kucur.

Padahal, menurut dia jauh sebelumnya eksplorasi sudah dilakukan di Gunung Manis dan Gunung Umpak Lego.

“Kami mintanya yang dua itu (Gunung Gede dan Kucur) jangan disentuh. Kalau ikut ditambang, namanya ingin membantai warga sini secara massal,” ucapnya.

Jika proses tambang open pit (tambang terbuka) benar-benar terlaksana, satu-satunya tameng laut yang dimiliki warga Dusun Ringinagung tersebut akan hilang.

“Itu sudah pasti, informasinya kalau jadi eksplorasi akan di-open pit. Berarti gunungnya dikikis sampai habis. Kalau ada tsunami, jelas warga sini yang terdampak. Pembantaian massal namanya,” katanya.

Apa yang disampaikan warga itu bukan sekadar khayalan. Menurut pria yang juga Ketua RT itu keberadaan pegunungan tersebut, terutama Gunung Gede dan Gunung Kucur mampu mengurangi dampak bencana tsunami yang menerjang wilayah Perairan Pancer dan Lampon pada 3 Juni 1994.

“Warga sini sudah tahu semua. Dulu saat tsunami tahun 1994, kalau tidak ada gunung tersebut air laut pasti masuk ke sini,” terangnya.