Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Dari Pesantren ke Ruang Digital, Ini Pesan KH Masykur Ali di Konfercab PCNU Banyuwangi

dari-pesantren-ke-ruang-digital,-ini-pesan-kh-masykur-ali-di-konfercab-pcnu-banyuwangi
Dari Pesantren ke Ruang Digital, Ini Pesan KH Masykur Ali di Konfercab PCNU Banyuwangi

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Konferensi Cabang (Konfercab) XIV Nahdlatul Ulama (NU) Banyuwangi yang digelar Rabu, 7 Januari 2026, menjadi momentum refleksi sekaligus penegasan arah kebangkitan NU ke depan. 

Agenda tersebut berlangsung di Kampus Universitas KH Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Darussalam, Blokagung, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi.

Dalam forum tersebut, KH Masykur Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina sekaligus mantan Ketua PCNU Banyuwangi menyampaikan pidato yang menyoroti makna An-Nahdlah Ats-Tsaniyah atau kebangkitan kedua NU.

Ia mengingatkan bahwa kebangkitan pertama NU adalah fase mempertahankan akidah, tradisi, dan negara dari gempuran ideologi serta kolonialisme. 

Sementara kebangkitan kedua, menurutnya, merupakan fase membangun peradaban dan kemandirian umat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

KH Masykur Ali menegaskan bahwa NU tidak boleh berjalan di tempat. Pesantren dan pengajian kitab kuning tetap menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

Namun NU juga dituntut mampu hadir di ruang publik, ruang digital, dunia pendidikan, dan sektor ekonomi umat.

“NU tidak cukup hanya hadir di masjid dan pesantren, tapi juga harus mampu menguasai ruang digital, sains, dan mewarnai kebijakan publik,” ujarnya.

IMG_20260107_174631-1594326702.jpg

KH Masykur Ali saat menyampaikan sambutan di Konfercab XIV PCNU Banyuwangi di Kampus Uimsya Blokagung. (Salis Ali/ Jawa Pos Radar Banyuwangi)

Ia juga menekankan pentingnya pembaruan gerakan dengan tetap berpegang pada kaidah memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih maslahat.

Bagi KH Masykur Ali, inovasi tidak boleh ditakuti, tetapi harus diarahkan agar tidak tercerabut dari nilai dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam aspek organisasi, KH Masykur Ali mengingatkan pentingnya koherensi dan kedisiplinan struktural. Ia menolak pola kerja sektoral dan gerakan yang berjalan sendiri-sendiri. 

Menurutnya, Syuriyah dan Tanfidziyah harus berjalan selaras sebagai satu kesatuan, saling menguatkan, bukan saling menjauhkan.

“Keteraturan dan satu komando adalah kunci kekuatan organisasi. Dari tingkat pusat hingga ranting, NU harus bergerak dalam satu irama,” tegasnya.