BANYUWANGI — Yayasan Aura Lentera Indonesia (YALI)menggelar pertemuan tahunan bertajuk Refleksi Aura Lentera di Akhir Tahun 2025 di Ajeg Resto, Dusun Watu Ulo, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Selasa (31/12/25).
Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi atas seluruh aktivitas advokasi, pendampingan, dan pemberdayaan yang telah dilakukan sepanjang tahun 2025.
Acara dibuka oleh M. Safarudi yang akrab disapa Cik Nang, selaku wakil ketua. Sambutan awal disampaikan oleh Bung Aguk Darsono, sesepuh sekaligus pengawas YALI.
Dalam paparannya, Aguk menekankan pentingnya konsistensi perjuangan dalam mengangkat harkat dan martabat penyandang disabilitas serta memperjuangkan kesetaraan hak di masyarakat. Ia juga menyampaikan berbagai refleksi personal selama mendampingi Aura Lentera, termasuk peran jurnalisme medsos serta kolaborasi dengan organisasi penyandang disabilitas dan SKPD Pemda dalam mengawal isu inklusivitas.
Ketua Yayasan Aura Lentera Indonesia, Nurhadi Windoyo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa meski aktivitas yang dilakukan terlihat sederhana, dampaknya mampu mengajak masyarakat Banyuwangi, bahkan Indonesia secara luas, untuk mulai membangun kehidupan yang inklusif, dimulai dari lingkup keluarga dan pendidikan.
Windoyo juga menandai tahun 2025 sebagai tonggak penting bagi Aura Lentera. Setelah berjuang sejak 2006 sebagai komunitas relawan tanpa badan hukum, Aura Lentera resmi berbadan hukum sebagai Yayasan Aura Lentera Indonesia pada 7 Februari 2025.
“Selama bertahun-tahun kita bergerak tanpa legalitas karena tidak merasa membutuhkannya. Namun ternyata, ketiadaan legalitas membuat gerak advokasi dan pemberdayaan kita berjalan di tempat, terutama ketika ingin menggandeng lebih banyak mitra,” ujarnya.
Ke depan, Aura Lentera berkomitmen untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan secara sistematis dan menyusun SOP kelembagaan guna meningkatkan profesionalisme, termasuk untuk memenuhi standar kerja sama dengan lembaga pendanaan internasional NLR Foundation yang menuntut kinerja profesional sesuai standart mereka.
Setelah sambutan ketua, laporan kegiatan tahun 2025 dibacakan oleh Febrianto Sekretaris YALI. Dalam laporannya, Robin menyampaikan bahwa sepanjang 2025, Yayasan Aura Lentera Indonesia aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan di Kabupaten Banyuwangi, baik sebagai pelaksana program masyarakat maupun mitra strategis pemerintah daerah dan BPVP Kemenaker dan BPJS Kesehatan maupun ketenagakerjaan.
Beberapa kegiatan utama yang dilaporkan antara lain: pengesahan Aura Lentera sebagai yayasan berbadan hukum; partisipasi dalam Jambore Nasional Penanggulangan Risiko Bencana Alam pada September 2025 di Green Watudodol; menjadi fasilitator Rembug Disabilitas Kabupaten Banyuwangi; koordinasi dengan Rumah Literasi Indonesia, Liliane Foundation, dan NLR Indonesia dalam pemetaan strategi pemberdayaan anak disabilitas dan penyintas kusta; serta sinergi dengan Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan Dinas Kesehatan dalam perumusan layanan inklusi yang aksesibel.
Selain itu, Aura Lentera juga aktif dalam forum pemangku kepentingan jaringan inklusi Banyuwangi dan turut serta dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional yang digelar pada 1 Desember 2025.
Dari sisi keuangan, bendahara yayasan, Titis Anganten melaporkan bahwa pada tahun 2025 Aura Lentera mencatat pemasukan dari donatur maupun iuran serta pengeluaran operasional maupun donasi. Dengan nada ringan diselingi tawa, Titis menyebutkan “Untuk pertama kalinya Aura Lentera memiliki kas lembaga, “tuturnya yang disambut tepuk tangan dan tawa peserta.
Diskusi reflektif kemudian dilanjutkan oleh Indah Catur Cahyaningtas, relawan senior Aura Lentera yang memiliki kiprah di tingkat internasional. Ia menegaskan bahwa kekuatan Aura Lentera bukan terletak pada besarnya kas, melainkan pada semangat kerelawanan, jejaring solidaritas, dan banyaknya kontribusi yang sering kali tidak tercatat secara administratif.
Menurutnya, keberhasilan program-program Aura Lentera juga tidak lepas dari hubungan baik dengan para pemangku kepentingan, khususnya di tingkat pelaksana kebijakan. Ia menambahkan bahwa ke depan, Aura Lentera tengah bersiap meningkatkan profesionalisme kelembagaan, terutama dalam manajemen keuangan dan safeguarding, seiring proses kerja sama dengan NLR dan Liliane Foundation yang dijadwalkan berlanjut hingga 2028.
Menutup refleksi akhir tahun, para relawan sepakat bahwa tahun 2025 menjadi fase penting penguatan fondasi organisasi.
“Dengan kebersamaan dan dukungan lintas sektor, Yayasan Aura Lentera Indonesia optimistis dapat terus memperluas dampak perjuangan menuju Banyuwangi yang semakin inklusif pada tahun-tahun mendatang, ” tutur Direktur Program YALI 2025-2030 ini yang juga Humas Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI)Setnas Pusat ini. (ARW/AWN/JN-SW)







