Digelar di Banyuwangi, Liga Selancar Bergengsi Dunia Bakal Geliatkan Ekonomi Masyarakat

0
716
Foto: ilustrasi

BANYUWANGI – Banyuwangi telah dipilih menjadi tuan rumah seri ke-3 World Surf League (WSL) Championship Tour 2020, ajang selancar paling bergengsi di dunia.

Dilansir dari banyuwangikab.go.id, sebanyak 54 peselancar terbaik dunia akan mengikuti ajang yang bakal digelar di Pantai Plengkung (G-Land), Banyuwangi, 4 hingga 14 Juni 2020, tersebut.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengaku, ajang tersebut akan menjadi momentum untuk semakin mengungkit perekonomian daerah sekaligus sarana promosi gratis bagi pariwisata lokal.

“Para penggemar selancar dunia akan ke Banyuwangi, di samping liputan televisi luar negeri yang pada setiap ajang WSL Championship Tour menjangkau 643 juta penonton di seluruh dunia,” papar Bupati Anas.

“Kami segera laporkan ke Gubernur Jawa Timur dan Kementrian terkait, sehingga nantinya kolaborasi menyambut WSL Championship Tour sebagai ajang perkuat pariwisata Banyuwangi, Jawa Timur, dan Indonesia,” ujar Bupati Anas yang juga merupakan ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) tersebut.

Foto: banyuwangikab

Pada pekan lalu, Manajer WSL Asia Steven Robertson Steven Robertson telah berkunjung ke Banyuwangi untuk menyampaikan keterpilihan Banyuwangi sebagai lokasi WSL Championship Tour 2020.

WSL sendiri adalah badan pengelola ajang selancar dunia. Turut hadir dalam pertemuan itu Tim Hain dari WSL Indonesia dan Tipi Jabrik, Sekretaris Jenderal Persatuan Selancar Ombak Indonesia.

WSL Championship Tour adalah liga selancar paling bergengsi dunia. Tur ini berisi 11 ajang selancar yang digelar April-Desember setiap tahunnya di berbagai pantai di dunia.

Tahun ini, WSL Championship Tour digelar antara lain di Australia, AS, Brazil, Hawaii, Tahiti, Afrika Selatan, Portugal, hingga Prancis.

Ketika melakukan pertemuan dengan Pemkab Banyuwangi, Steven mengaku saat pertemuan di Amerika Serikat, pihaknya memilih G-Land sebagai satu dari 11 seri yang akan digelar di tahun 2020.

“Untuk kegiatan ini, kami siapkan dana USD 2,5 juta (sekitar Rp35 miliar). Saya melihat Banyuwangi adalah daerah yang tepat karena pemerintahnya sudah terbiasa menggelar event sport tourism,” ungkap Steven.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY Bramuda, mengatakan, penyelenggaraan surf tourism (pariwisata yang dikembangkan lewat olahraga selancar) berdampak positif ke ekonomi masyarakat.

“Data WSL, saat WSL Championship Tour digelar di Fiji, perputaran uangnya mencapai USD 4,27 juta selama jelang hingga saat event berlangsung,” tutur Bramuda.

“Adapun ketika rangkaian WSL di beberapa pantai di Australia, perputaran uangnya jauh lebih besar lagi, yaitu mencapai USD 20 juta,” imbuhnya.

Bramuda menjelaskan, event ini mampu menggerakkan ekonomi daerah. Sektor-sektor pariwisata bergeliat, mulai penerbangan, hotel, restoran maupun akomodasi. Event ini juga mempekerjakan ratusan warga lokal sehingga dampak ekonominya cukup besar.

“Ini sangat memungkinkan, karena saat berlangsungnya kejuaraan biasanya para peselancar dan penggemar selancar akan tinggal selama dua minggu di kawasan itu,” kata Bramuda

WSL juga sangat efektif menarik wisatawan mancanegara. Menurut Bramuda, 87 persen penggemar WSL berpendapatan di atas rata-rata, dan lebih dari separuhnya melakuan perjalan wisata ke negara lain setiap tahunnya.

“Maka tak heran jika kompetisi ini mampu mendatangkan wisatawan pasca event. Seperti yang dialami Peniche, Portugal, usai menggelar WSL, wisata selancarnya meningkat 20 persen,” pungkasnya.