Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Jagung Roboh, Harga Murah! Petani Wongsorejo Menjerit di Tengah Panen Musim Hujan

jagung-roboh,-harga-murah!-petani-wongsorejo-menjerit-di-tengah-panen-musim-hujan
Jagung Roboh, Harga Murah! Petani Wongsorejo Menjerit di Tengah Panen Musim Hujan

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Derita petani di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, seakan tak pernah menemukan ujung. Setelah dihantam kelangkaan pupuk, diterpa angin kencang hingga jagung roboh berulang kali, kini mereka kembali dipukul kenyataan pahit: harga panen anjlok di saat musim hujan memaksa mereka menjual hasil bumi dalam kondisi basah.

Panen yang semestinya menjadi momen kebahagiaan berubah menjadi babak penuh kepasrahan. Jagung yang dipetik di tengah cuaca tak menentu terpaksa dijual dalam kondisi basah atau turun selep, dengan harga jauh dari harapan.

Hariyadi (42), warga Dusun Krajan, Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, hanya bisa menghela napas panjang saat menunjukkan sebagian jagung hasil panennya.

“Ini sebagian yang dipanen mas, yang lain belum. Dan ini baru selep dihargai Rp3.500 per kilo. Sedangkan kalau mau jual kering memang agak mahal, Rp5.700, tapi tidak ada tempat untuk jemur dan terus hujan,” keluhnya.

Kondisi serupa juga dialami Mohar (60), petani asal Dusun Maelang. Dengan wajah penuh kelelahan, ia mengaku tak punya pilihan selain menjual jagung dalam kondisi basah karena keterbatasan lahan penjemuran di rumahnya.

“Ini juga terpaksa kita jual basahnya, turun selep. Karena di rumah tidak ada lokasi untuk menjemurnya,” ujarnya kepada Jurnalnews di lahan miliknya, Kamis (26/2/2026).

Mohar bahkan harus menghadapi kenyataan lebih pahit. Jagung miliknya roboh hingga tiga kali akibat terjangan angin kencang yang datang berturut-turut.

“Waktu lalu, angin pertama, jagung roboh tapi hanya sedikit. Lalu angin lagi, roboh sebagian. Dan ketiga kali angin menerjang, semuanya rata. Untungnya jagung saya sudah tua,” imbuhnya lirih.

Tak hanya harga yang rendah, biaya panen pun kian mencekik. Untuk lahan seluas satu hektar, Mohar harus mengerahkan 22 tenaga kerja di hari pertama panen, dan 18 orang di hari berikutnya. Biaya operasional membengkak, sementara harga jual tak sebanding dengan jerih payah yang dikeluarkan.

Situasi ini menjadi potret nyata betapa rentannya nasib petani saat cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pasar datang bersamaan. Di tengah ladang yang basah dan jagung yang roboh, para petani hanya bisa berharap ada perhatian dan solusi nyata agar keringat mereka tak terus tergerus keadaan. (Venus Hadi)