TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Upaya menjaga kemurnian dan kualitas durian merah khas Banyuwangi terus dilakukan melalui teknik pembibitan yang terukur dan bertanggung jawab. Metode sambung pucuk dinilai menjadi cara paling ideal untuk menghasilkan bibit durian merah unggulan, terutama di kawasan sentra Durian Merah Songgon Banyuwangi, Jawa Timur.
Pengelola Pusat Pembibitan Durian Merah Songgon Banyuwangi, Hariyanto, menjelaskan bahwa perbanyakan bibit durian merah dilakukan dengan beberapa metode vegetatif, yakni sambung pucuk dan mata tempel. Metode ini dipilih untuk memastikan kesesuaian genetik dengan pohon induk durian merah yang telah terbukti kualitasnya.
“Untuk memperbanyak durian merah Songgon, kita menggunakan sistem sambung pucuk dan juga tempel tunas. Batang bawahnya berasal dari biji durian lokal Songgon, sedangkan entres atau batang atas diambil dari pohon induk yang sudah berbuah dan terbukti sebagai durian merah,” ujar pria yang akrab disapa Hari, Jumat, (30/1/2026).
Menurutnya, proses penyambungan membutuhkan waktu 30 sampai 45 hari hingga tunas baru muncul dan daun mulai berkembang. Setelah itu, bibit dirawat hingga siap edar dalam rentang waktu enam bulan sampai satu tahun.
Meski terlihat sederhana, proses pembibitan durian merah memiliki tantangan tersendiri. Salah satu kesulitan utama adalah mendapatkan entres yang benar-benar valid. Pohon induk durian merah umumnya berukuran besar sehingga pengambilan entres harus dilakukan dengan cara memanjat pohon.
“Faktor cuaca saat musim hujan dengan kelembapan tinggi, tingkat keberhasilannya cenderung menurun. Jadi, waktu penyambungan harus benar-benar menyesuaikan kondisi cuaca,” katanya.
Hari yang juga sebagai anggota Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG), juga menyinggung status Indikasi Geografis (IG) durian merah Banyuwangi yang kini telah terdaftar. Dalam konteks tersebut, MPIG memiliki tanggung jawab besar terhadap validitas bibit yang diedarkan ke masyarakat.
“Pengambilan entres benar-benar kami lakukan dari pohon induk yang sudah terbukti dan bersertifikat. Bibit yang kami keluarkan menjamin keturunan dari pohon induknya. Bibit yang beredar di luar pengawasan MPIG, kami tidak bisa menjamin kualitasnya,” tegasnya.
Dia menyebut, banyak bibit durian merah yang beredar di pasaran berasal dari pohon anakan atau durian lokal yang warnanya mendekati merah, namun bukan durian merah asli. Akibatnya, ketika ditanam dan berbuah, hasilnya kerap mengecewakan.
Ke depan, MPIG Durian Merah Banyuwangi berencana memberikan label resmi pada bibit yang dikeluarkan. Label tersebut akan diterbitkan melalui mekanisme perizinan dan kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi, sehingga pembibit mitra memiliki legalitas dalam perbanyakan bibit durian merah.
Selain sambung pucuk dan mata tempel, metode lain yang juga digunakan adalah top working, yakni memotong pohon durian yang sudah besar lalu menyisipkan entres durian merah. Metode ini dinilai lebih cepat berbuah karena memanfaatkan batang bawah yang telah mapan, meski tingkat keberhasilannya masih di bawah 70 persen.
Hariyanto menambahkan, penanaman durian dari biji memiliki risiko variasi genetik yang tinggi. “Kalau dari biji, ada tiga kemungkinan. Bisa jadi sama dengan induknya, lebih baik, atau justru lebih jelek. Karena itu, untuk menjamin genetik yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan, solusinya adalah sambung pucuk mata tempel,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua MPIG Durian Merah Banyuwangi, Slamet Baktiman, menekankan bahwa keunikan durian merah tidak hanya ditentukan oleh bibit, tapi juga oleh faktor lingkungan.
“Durian merah ini sangat dipengaruhi oleh faktor tanah, cuaca, dan iklim. Dulu BRIN pernah melakukan pengujian tanah di beberapa titik di Banyuwangi, dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungan tanah di tiap wilayah berbeda-beda. Kandungan itulah yang mempengaruhi munculnya warna merah pada durian,” ungkap Baktiman.
Dengan penerapan teknik pembibitan yang tepat serta pengawasan ketat dari MPIG, durian merah Banyuwangi diharapkan tetap terjaga kualitas dan keasliannya, sekaligus mampu bersaing sebagai komoditas unggulan bernilai tinggi di tingkat nasional. (*)
| Pewarta | : Fazar Dimas Priyatna |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |








