detik.com
Setelah melalui proses panjang sejak 2023, Durian Merah Banyuwangi resmi ditetapkan sebagai produk bersertifikat Indikasi Geografis (IG). Sertifikat tersebut diterbitkan Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Direktorat Merek dan Indikasi Geografis.
Dengan terbitnya sertifikat IG ini, Durian Merah Banyuwangi menjadi durian merah pertama sekaligus satu-satunya di Indonesia yang mendapat perlindungan negara.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan rasa syukur sekaligus memberikan apresiasi dan kebanggaan pada seluruh warga Banyuwangi yang turut menjaga komoditas holtikultura unik tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Alhamdulilah, sertifikat IG Durian Merah Banyuwangi sudah terbit. Dan ini pertama yang ada di Indonesia IG untuk durian merah,” ucap Ipuk, Jumat (23/1/2026).
Rasa bangga dan ungkapan terimakasih juga disampaikan oleh Ipuk kepada pemerintah pusat yang telah memberikan perhatian khusus pada durian merah Banyuwangi hingga menerbitkan sertifikat IG pada salah satu produk unggulan Banyuwangi tersebut.
Ia berharap pengakuan IG ini bisa menjadi penguat media promosi, meningkatkan produktifitas petani terutama di wilayah Kecamatan Songgon sebagai sentra durian merah, sekaligus mendorong kunjungan wisata ke Banyuwangi.
“Ayo datang ke Banyuwangi, nikmati durian merahnya. Karena durian merah Banyuwangi sangat unik yang tak dimiliki daerah lain,” ajak Ipuk.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi Ilham Juanda menambahkan, Durian Merah atau dalam Bahasa latinnya disebut Durio Zibethinus L ini memiliki keunikan warna daging buah merah, cita rasa khas, serta aroma yang kuat. Kekhasan ini terbentuk dari kombinasi faktor alam seperti tanah, iklim, dan ketinggian wilayah, serta pengetahuan lokal dan praktik budidaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Durian merah ini dikelompokkan dalam beberapa gradasi warna daging di antaranya merah, merah pelangi, dan merah semburat. Karakteristik fisiknya meliputi bentuk buah bulat hingga lonjong, warna kulit kuning-hijau, jumlah juring 4-7, ketebalan daging 4,2-18,5 milimeter, serta porsi daging mencapai 41,7 persen.
“Dari sisi organoleptik, durian ini memiliki aroma kuat, rasa manis-pahit seimbang, tekstur lembut dan pulen, serta kandungan gizi tinggi seperti antioksidan, vitamin C, dan lemak yang relatif rendah,”jelas Ilham.
Ia mengatakan, durian merah Banyuwangi tergolong jenis durian langka. Tercatat baru 6 pohon induk yang sudah didaftarkan IG dengan perkiraan produksi rata-rata 4 ton per pohon.
Durian Merah Banyuwangi ini berasal dari 6 varietas unggul nasional. Di antaranya ada Balqis, SOJ, Gandrung, Sayu Wiwit, Tawangalun, dan Madu Blambangan. Keenam varietas tersebut ditanam di wilayah Kecamatan Songgon, Rogojampi, Singojuruh, Glagah, Licin, dan Srono.
“Sejak tahun 2015 tercatat sudah 12 jenis durian lokal Banyuwangi yang didaftarkan sebagai varietas unggul. Dari 12 jenis durian unggul lokal tersebut, 6 jenis adalah durian merah,” terangnya.
Secara keseluruhan, luas panen durian di Banyuwangi mencapai 3.262 hektare dengan produksi buah durian mencapai 27.890 ton. Tersebar di Kecamatan Songgon, Licin, Glenmore, Kalibaru, Rogojampi, Singojuruh, Glagah dan Srono.
Ilham menambahkan, pihaknya mewakili Bupati Banyuwangi telah menyerahkan sertifikat IG Durian Merah Banyuwangi kepada Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Durian Merah Banyuwangi di Songgon. Ilham menegaskan, dengan perlindungan dari negara tersebut, kekayaan geneik lokal Banyuwangi tidak bisa dicuri, diklaim dan disalahgunakan.
(auh/abq)








