Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Suara Gen Z di Tengah Polarisasi Media Sosial – TIMES Banyuwangi

suara-gen-z-di-tengah-polarisasi-media-sosial-–-times-banyuwangi
Suara Gen Z di Tengah Polarisasi Media Sosial – TIMES Banyuwangi

TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Di tengah hiruk-pikuk media sosial yang tak pernah benar-benar tidur, suara Generasi Z sesungguhnya hadir dengan lantang. Mereka memenuhi linimasa, meramaikan kolom komentar, menghidupkan tagar, dan merespons hampir setiap isu yang bergulir dari politik, agama, hingga persoalan sosial paling mutakhir. 

Di balik keramaian itu, suara Gen Z kerap kehilangan gema. Ia terdengar ramai, tetapi sering kali tak sampai pada makna. Tenggelam oleh polarisasi, adu opini, dan emosi yang saling berkelindan tanpa jeda nalar.

Media sosial hari ini menyerupai pasar malam digital: riuh, gemerlap, penuh teriakan, namun miskin perenungan. Di ruang inilah banyak Gen Z merasa telah berpartisipasi hanya dengan menekan tombol suka, membagikan ulang potongan informasi, atau menulis komentar singkat yang lebih mencerminkan reaksi ketimbang refleksi. 

Kepedulian direduksi menjadi gestur instan, sementara pemahaman mendalam sering ditinggalkan. Akibatnya, diskursus publik tak jarang berubah menjadi gelanggang saling serang, penuh pelabelan, dan miskin solusi.

Fenomena ini membuat perbedaan pendapat yang sejatinya wajar dan sehat mudah beralih rupa menjadi konflik terbuka. Emosi melesat lebih cepat daripada logika. Siapa yang berbeda dianggap lawan, siapa yang tak sejalan dicap musuh. 

Echo chamber pun terbentuk, memperkuat keyakinan sendiri sambil menutup telinga dari pandangan lain. Dalam situasi seperti ini, ide-ide kritis yang seharusnya menjadi bahan bakar perubahan justru kalah oleh konten provokatif yang lebih mudah viral.

Jika ditelusuri lebih jauh, pola ini sering bermula dari isu-isu sensitif yang diproduksi secara instan di media sosial. Potongan video tanpa konteks, narasi yang dibumbui emosi, atau judul yang sengaja dipelintir demi klik dan engagement. 

Gen Z, sebagai generasi yang hidup dalam kecepatan informasi, kerap bereaksi spontan sebelum sempat berhenti sejenak untuk memeriksa sumber dan konteks. Komentar pun berderet, kubu terbentuk, algoritma bekerja mempersempit pandangan, dan polarisasi mengeras tanpa disadari.

Pemandangan semacam ini mudah ditemukan dalam keseharian digital. Setiap isu viral, kolom komentar mendadak panas. Sindiran berseliweran, debat membara, bahkan ujaran kebencian muncul tanpa rem. 

Ironisnya, banyak yang terlibat belum tentu membaca informasi secara utuh. Klarifikasi sering kalah pamor dibanding provokasi. Konten kreator yang memancing emosi demi trafik pun turut menyiram bensin ke api. Media sosial akhirnya menjadi ruang gaduh yang riuh, tetapi hampa arah.

Padahal, secara demografis, Gen Z merupakan kelompok paling dominan di media sosial. Dominasi ini memberi mereka daya pengaruh besar dalam membentuk opini publik, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi. 

Banyak dari mereka aktif berdiskusi daring, menyebarkan informasi, hingga bergabung dalam komunitas isu tertentu. Ini menandakan satu hal penting: Gen Z sejatinya peduli, bukan apatis. Namun, kepedulian tanpa literasi kritis ibarat kendaraan tanpa rem—melaju kencang, tetapi rawan celaka.

Pengalaman politik nasional, termasuk dinamika pemilu beberapa tahun terakhir, menunjukkan betapa derasnya arus hoaks dan disinformasi di media sosial. Gen Z menjadi sasaran sekaligus penyebar, sering kali tanpa kesadaran penuh. 

Polarisasi yang mengeras bukan hanya membelah ruang digital, tetapi juga merembes ke ruang sosial nyata. Di titik ini, suara Gen Z yang seharusnya menjadi penyeimbang justru berpotensi memperkeruh keadaan jika tidak disertai tanggung jawab intelektual.

Di sinilah Gen Z berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka memiliki energi, kreativitas, dan keberanian untuk bersuara. Di sisi lain, mereka hidup dalam pusaran algoritma yang kerap memelihara emosi ketimbang akal sehat. Pilihannya jelas: menjadi agen perubahan yang sadar dan kritis, atau sekadar menjadi gema dari riuhnya linimasa.

Suara Gen Z akan memiliki arti jika disertai keberanian untuk berpikir jernih di tengah banjir informasi. Berani berhenti sejenak sebelum membagikan, berani membaca lebih dalam sebelum menghakimi, dan berani berdialog tanpa merasa paling benar. Media sosial seharusnya menjadi ruang belajar bersama, bukan medan tempur yang menghabiskan energi muda dalam konflik tak berujung.

Keramaian digital bukanlah tujuan. Yang lebih penting adalah arah dan dampaknya. Gen Z memiliki peluang besar untuk menjadikan media sosial sebagai alat perubahan sosial dan demokrasi yang lebih sehat. 

Namun, itu hanya mungkin jika suara yang mereka hasilkan tidak sekadar ramai, melainkan bernalar, beretika, dan berpijak pada pencarian kebenaran. Di tengah riuh yang memekakkan, justru suara yang tenang dan berpikir itulah yang paling dibutuhkan.

***

*) Oleh : Dwi Almah, Mahasiswi, Universitas KH. Mukhtar Syafaat.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman