Banyuwangi, Jurnalnews.com – Suasana berbeda tampak di pasar kambing yang berada di area Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, setiap hari Rabu. Di tengah lesunya daya beli, harga kambing justru mengalami penurunan drastis, jauh dari harga normal seperti biasanya.
Abdur Rohman (42), salah satu pedagang kambing asal Desa Watukebo, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini cukup memprihatinkan. Harga kambing yang biasanya stabil, kini terjun bebas. “Harga kambing sekarang turun, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Pembeli juga sepi,” ujarnya saat ditemui di lokasi pasar.
Namun, di balik lesunya transaksi, muncul strategi unik dari para pedagang agar tetap bertahan. Salah satunya dilakukan oleh Nisam (50), pedagang asal Desa Bangsring. Ia tidak hanya menjual kambing dalam kondisi hidup, tetapi juga menyemb3l!h langsung di lokasi untuk dijual dalam bentuk daging eceran.
“Iya, karena harga kambing murah, selain jual kambing hidup, saya juga jual dagingnya. Disemb3l!h di sini,” tutur Nisam.
Menurutnya, saat harga kambing berada di titik tertinggi, satu ekor bisa mencapai Rp1 juta. Namun kini, harga kambing hanya berkisar Rp250 ribu per ekor. Dengan menjual dalam bentuk daging, Nisam justru mampu meraup keuntungan lebih besar. Ia menjual daging kambing seharga Rp50 ribu per 800 ons, yang dinilainya jauh lebih menguntungkan dibanding menjual kambing hidup.
Pantauan di lokasi, pasar kambing tampak lengang dari pembeli. Para pedagang terlihat lebih banyak berkumpul, berbincang santai, bahkan ada yang mengisi waktu dengan bermain kartu sambil menunggu datangnya calon pembeli.
Kondisi ini mencerminkan realitas pasar tradisional yang tengah diuji oleh penurunan daya beli, namun sekaligus menunjukkan kreativitas pedagang dalam menyiasati keadaan demi mempertahankan penghasilan. (Venus Hadi)





