Bayar Retribusi Pasar Bisa Nontunai

0
348
Bupati Anas memantau transaksi pembayaran retribusi pasar secara elektronik di Pasar Blambangan, kemarin.

Bupati Anas Launching Program e-RPas


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI – Untuk meningkatkan optimalisasi penerimaan pendapatan asli daerah (PAD), Bupati Abdullah Azwar Anas melakukan soft launching sistem pembayaran retribusi pasar berbasis teknologi infomasi (TI), e-Retribusi Pasar alias e-RPas.

Peluncuran digelar di Pasar Blambangan, Banyuwangi, kemarin (17/9). Khusus di Pasar Blambangan, Pemkab Banyuwangi menggandeng Bank Jatim. Lewat program e-RPas, pedagang tidak perlu repot membayar retribusi pasar dengan uang tunai.

Pembayaran retribusi tersebut cukup dilakukan dengan menggunakan kartu ATM. Meski baru diluncurkan kemarin, jumlah pedagang Pasar Blambangan yang memanfaatkan program e-RPas sudah mencapai 209 orang. Angka ini setara dengan 34,83 persen di antara total 600-an pedagang yang berjualan di pasar tradisional itu.

Bupati Anas mengatakan, program e-RPas merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan transparansi pendapatan daerah, khususnya pendapatan yang bersumber dari retribusi.

“Program ini berangkat dari banyaknya berita tentang pungutan liar di pasar. Nah, dengan pembayaran berbasis TI, pendapatan kita lebih transparan. Uang pembayaran retribusi dari pedagang tidak perlu masuk ke kantong petugas pungut terlebih dahulu, tetapi langsung tercatat di sistem,” ujarnya.

Anas menambahkan, program e-RPas juga bermanfaat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Pemkab Banyuwangi. Dijelaskan, lantaran uang pembayaran retribusi langsung tercatat di sistem, pedagang tidak perlu khawatir uang tersebut diselewengkan petugas pemungut retribusi pasar.

Loading...

“Sebelumnya uangnya dititipkan ke petugas yang keliling. Kalau petugasnya nakal, uang pembayaran retribusi bisa diselewengkan. Sedangkan dengan sistem ini, petugas pungut tidak bisa lagi melakukan penyelewengan,” jelasnya.

Selain meningkatkan transparansi dan mencegah kebocoran, imbuh Anas, program e-RPas juga bermanfaat memberikan kemudahan bagi pedagang. “Pedagang diberi kemudahan untuk bayar retribusi. Tinggal menggesek kartu ATM,” katanya.

Anas menuturkan, pada 2016 retribusi pasar menyumbang pendapatan daerah sebesar Rp 5 miliar. Sedangkan di tahun ini, retribusi pasar diharapkan naik menjadi Rp 5,8 miliar. Sekadar diketahui, setiap pedagang yang menjadi nasabah Bank Jatim dibekali kartu ATM.

Penarikan retribusi dilakukan petugas pasar didampingi petugas Bank Jatim yang berkeliling ke stan-stan pedagang setiap hari. Pedagang tinggal menggesek kartu ATM tersebut ke mesin electronic data capture (EDC) yang dibawa petugas pasar tersebut.

“Alhamdulillah, ternyata transformasi perilaku bisa bertahap kita lakukan, dari transaksi uang tunai menjadi nontunai, ini sesuai target besar Presiden Jokowi mewujudkan cashless society dalam Gerakan Nasional Non-Tunai,” kata Anas.

Kepala Cabang (Kacab) Bank Jatim Banyuwangi, Arief Wicaksono, mengatakan dengan memanfaatkan sistem ini, perolehan retribusi pasar dapat dipantau secara realtime. “Pihak Pemkab bisa memantau pembayaran retribusi pasar hanya dengan mengakses alamat internet bank-ing Bank Jatim,” jelasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi, Ketut Kencana, mengatakan Pasar Blambangan merupakan pilot project pelaksanaan e-Retribusi Pasar. Seraya terus disempurnakan berdasar masukan pedagang, sistem ini secara bertahap akan diterapkan di semua pasar milik daerah.

“Sekarang pedagang yang memanfaatkan sistem ini sebanyak 209 orang. lni terus kita tingkatkan, terus kami sosialisasikan,” ungkapnya. Salah seorang pedagang, Puji, mengaku senang dengan sistem pembayaran elektronik ini karena lebih efisien.

“Para pedagang juga tidak khawatir uangnya bocor karena langsung masuk ke sistem,” pungkas pedagang perabot dapur tersebut. (radar)

Loading...