sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Peristiwa mengharukan sekaligus menegangkan terjadi di jalur penyeberangan Bali–Banyuwangi, Sabtu sore (28/2).
Seorang bayi laki-laki lahir di atas kapal yang tengah berlayar dari Gilimanuk menuju Ketapang. Bayi tersebut lahir dalam kondisi sehat berkat pertolongan cepat para penumpang dan kru kapal.
Bayi itu merupakan putra pasangan suami istri asal Jember, Alek Komang dan Sumarsih (38).
Proses persalinan berlangsung di atas KMP Satria Nusantara, kapal milik PT Jembatan Nusantara, saat tengah menyeberangi Selat Bali.
Berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rudi Hartono, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 WIB.
Saat itu, Sumarsih yang tengah duduk di kursi penumpang tiba-tiba merasakan kontraksi hebat. Situasi di dalam kapal pun mendadak panik, namun sejumlah penumpang sigap membantu.
Beberapa kru kapal bersama penumpang yang memiliki pengalaman persalinan langsung memberikan pertolongan darurat.
Di tengah pelayaran dari Gilimanuk menuju Ketapang, proses persalinan pun akhirnya terjadi di atas kapal.
Dari proses tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki dengan berat 2.340 gram, panjang badan 47 sentimeter, dan lingkar kepala 31 sentimeter. Tangis pertama sang bayi pecah di tengah laut, disambut rasa haru para penumpang.
Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Kerja Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, laporan diterima dari nakhoda saat kapal masih dalam pelayaran.
“Seluruh proses persalinan dibantu oleh sesama penumpang dan kru kapal. Baru setelah kapal sandar, ada ambulans dari ASDP yang membawa bayi dan ibunya ke klinik terdekat. Semuanya dalam kondisi sehat,” ujarnya.
Setelah kapal merapat di Pelabuhan Ketapang, tim medis langsung bersiaga. Petugas dari Balai Kekarantinaan Kesehatan dan instansi terkait segera melakukan penanganan lanjutan.
Kepala Wilayah Kerja (Kawilker) Tanjung Wangi Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Probolinggo, dr. Nungki Najfaris Alami, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan serta operator kapal sebelum kapal sandar.
Page 2
“Untuk petugas yang melaksanakan penanganan kegawatdaruratan ada satu dokter, dua perawat, dan satu sanitarian,” jelasnya.
Setibanya di pos kesehatan pelabuhan, petugas segera memotong tali pusat bayi yang sebelumnya telah dilahirkan di atas kapal.
Bayi kemudian mendapatkan penanganan untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat dan stabil.
Sementara itu, sang ibu langsung dirujuk ke klinik persalinan terdekat dari Pelabuhan Ketapang untuk proses pengeluaran plasenta yang masih tertinggal di dalam kandungan.
“Kami larikan ke klinik persalinan di sekitar Pelabuhan Ketapang agar mendapatkan penanganan lebih cepat,” imbuh Nungki.
Usai mendapat penanganan medis, kondisi ibu dan bayi dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.
Bayi tersebut kemudian diberi nama yang unik dan penuh makna: Satria Nusantara Ramadhani, mengambil nama kapal tempat ia dilahirkan serta tambahan “Ramadhani” karena lahir di pertengahan bulan Ramadan.
Bayu menambahkan, terdapat pula petugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang membantu penanganan penumpang setelah turun dari kapal.
Berdasarkan alamat yang diberikan, keluarga bayi diketahui berasal dari Puger Karetan Rejeng 2, Kabupaten Jember.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi calon penumpang, khususnya ibu hamil dengan usia kandungan di atas 36 minggu, untuk mempertimbangkan kembali perjalanan jarak jauh.
“Kami mengimbau calon penumpang, terutama ibu hamil di atas 36 minggu, untuk menunda perjalanan. Perlu pemeriksaan kesehatan rutin untuk memastikan kondisi kehamilan baik sebelum bepergian,” tegas Nungki.
Ia juga mengingatkan seluruh penumpang agar menjaga kondisi kesehatan, mencukupi kebutuhan cairan dan gizi, serta tidak ragu menghubungi awak kapal (ABK) jika membutuhkan bantuan medis selama pelayaran. Petugas kesehatan, lanjutnya, juga siaga 24 jam di Pelabuhan Ketapang.
Kelahiran Satria Nusantara Ramadhani di tengah pelayaran menjadi kisah langka di jalur penyeberangan Selat Bali.
Di tengah riuh mesin kapal dan debur ombak, seorang bayi lahir membawa harapan baru—sebuah cerita yang tak akan terlupakan bagi seluruh saksi mata di atas kapal sore itu. (fre/sgt)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Peristiwa mengharukan sekaligus menegangkan terjadi di jalur penyeberangan Bali–Banyuwangi, Sabtu sore (28/2).
Seorang bayi laki-laki lahir di atas kapal yang tengah berlayar dari Gilimanuk menuju Ketapang. Bayi tersebut lahir dalam kondisi sehat berkat pertolongan cepat para penumpang dan kru kapal.
Bayi itu merupakan putra pasangan suami istri asal Jember, Alek Komang dan Sumarsih (38).
Proses persalinan berlangsung di atas KMP Satria Nusantara, kapal milik PT Jembatan Nusantara, saat tengah menyeberangi Selat Bali.
Berdasarkan laporan nakhoda kapal, Rudi Hartono, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 WIB.
Saat itu, Sumarsih yang tengah duduk di kursi penumpang tiba-tiba merasakan kontraksi hebat. Situasi di dalam kapal pun mendadak panik, namun sejumlah penumpang sigap membantu.
Beberapa kru kapal bersama penumpang yang memiliki pengalaman persalinan langsung memberikan pertolongan darurat.
Di tengah pelayaran dari Gilimanuk menuju Ketapang, proses persalinan pun akhirnya terjadi di atas kapal.
Dari proses tersebut lahirlah seorang bayi laki-laki dengan berat 2.340 gram, panjang badan 47 sentimeter, dan lingkar kepala 31 sentimeter. Tangis pertama sang bayi pecah di tengah laut, disambut rasa haru para penumpang.
Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Kerja Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, laporan diterima dari nakhoda saat kapal masih dalam pelayaran.
“Seluruh proses persalinan dibantu oleh sesama penumpang dan kru kapal. Baru setelah kapal sandar, ada ambulans dari ASDP yang membawa bayi dan ibunya ke klinik terdekat. Semuanya dalam kondisi sehat,” ujarnya.
Setelah kapal merapat di Pelabuhan Ketapang, tim medis langsung bersiaga. Petugas dari Balai Kekarantinaan Kesehatan dan instansi terkait segera melakukan penanganan lanjutan.
Kepala Wilayah Kerja (Kawilker) Tanjung Wangi Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Probolinggo, dr. Nungki Najfaris Alami, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan serta operator kapal sebelum kapal sandar.








