Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Upacara Adat tujuh bulanan Nusantara

upacara-adat-tujuh-bulanan-nusantara
Upacara Adat tujuh bulanan Nusantara

Banyuwangi, Jurnalnews.com – Pasangan hafidz Muhammad Haidar Rosyid dan Fani Faizah Hurriyatul Alawiyah Hasan yang menikah awal Oktober 2024 di Sidodadi Wongsorejo, menyelenggarakan ritual adat tradisional nusantara menandai kehamilan tujuh bulanan. Acara tersebut dilaksanakan di Gang Garuda V Katesan Prejengan 1 Rogojampi, Selasa (6/1/26).

Rosyid asli suku Using dan Fani dari suku Madura melakukan ritual mitoni atau tingkeban dipimpin Bu Mumun dari suku Sunda. Diantara undangan yang terlibat suku minang. Adapun pemandu acara Bung Aguk Darsono yang pengurus Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Banyuwangi dari unsur suku Jawa. Pranoto acara mengenakan baju surjan galur merah dan kopyah batik khas Jogokariyan Yogya Istimewa.

Prosesi dibuka dengan bacaan ummul kitab yakni surat Al Fatihah. Selanjutnya calon ayah ibu mohon maaf dan restu kepada kedua orang tua. Dilanjutkan secara bergiliran 2 keluarga serta tokoh agama dan masyarakat memasukkan air dari tujuh sumber ke belanga. Diantara 7 sumber itu didapat dari sumber saat pekan lalu Rosyid ziarah wali mulai makam pengasuh Pondok Salafafiyah Sukorejo Asembagus hingga makam aulia di pulau garam Madura. Sukorejo sendiri merupakan tempat Rosyid menuntut ilmu saat SMA hingga sarjana dan hafal Al Quran 30 juz

Selanjutnya kembang setaman dimasukkan ke belanga air oleh ibunda dari Rosyid dan kakak dari Fani, Lisa Zakiyah. Dikandung maksud acara mitoni merupakan krenteg hajad untuk keselamatan dan kesejahteraan anak mantu serta kegangsaran kelahiran cucu pertamanya. Fani sendiri adalah hafidzah di Ponpes Yogyakarta. Istimewanya, Rasyid dan Fani melangsungkan akad nikah dipimpin langsung oleh KH Azaim cucu KH As’ad Syamsul Arifin pada 5 Oktober 2024 bakdha Maghrib.

Calon ayah ibu siap disiram air bunga setaman dengan berbusana taqwa dan gamis. Diawali dililitkan kain putih ke calon ibu dilanjut ritual melepas telur, menggendong dan melepas kelapa cengkir gading yang telah dihias sosok wayang Arjuna dan Srikandi. Lalu melepas ikatan janur diperut. Yang semuanya untuk kelancaran kelahiran jabang bayi dan ibu selamat serta suami siaga.

Siraman diawali calon kakek dari pihak perempuan H. Hasan Basori yang guru agama dan ketua Asosiasi BPD Se Wongsorejo. Dilanjut ibu pihak laki Asmiyati. Dilanjut Bu Mumun serta sesepuh keluarga dan ditutup ayah pihak laki, Muhammad Nur, yang sehari-hari pengrajin souvenir, plakat dan kaligrafi.
Lalu Rosyid menyiram istrinya dengan air kendi. Lanjut kendi dijatuhkan hingga pecah berkeping-keping. Kepingan kereweng tanah liat ini diperebutkan tetangga dan kerabat untuk “membeli” dawet dan rujak pasrah jualan calon ayah ibu.

Setelah Rosyid dan Fani berganti busana muslim lagi yang kering, bu Mumun menempelkan tujuh kain batik bermotif gajah oling, karapan potre kuning, sido mukti dari kraton Surakarta pageran dan sembrung cacing. Setelah enam motif dinilai kurang pantas, pilihan ke -7 di dianggap anggun berwibawa yakni kain parang parung.
Dengan berselempang batik parang parung, mulai Fani berjualan rujak dan dawet dengan laris manisnya. Dilanjutkan berbagi jenang merah putih dan nasi tumpeng berkat yang dipungkasi doa syukur dan selamat dipimpin H. Hasan Basori.

Acara yang dimulai usai sholat asyar tuntas hingga waktu samarwulu dan masjid besar Baturahim gemakan sholawat.

Rangkaian selamatan dan tasyarakuran hamil tujuh bulan ini dilanjutkan bakdha maghrib yakni jamaah tahlilan dipimpin kepala Dusun Prejengan 1 M. Basunii. Diantara 33 jamaah ada yang baca surat Yusuf. Maryam, Muhammad dan Lukman serta Al Ikhlas 99 kali. Surat Yasin dibaca bareng yang tak ditugasi baca surat-surat itu. “Semoga keluarga Rosyid dan Fani menjadi keluarga yang samawa yang melahirkan generasi qur’ani yang berbakti pada orangtua, sumber kebahgiaan kakek nenek serta berguna bagi agama, bangsa dan negara! ” tutur M. Basuni yang diamini jamaah dan jamaah pulang dengan senyum bawa berkatan untuk yang di rumah. (Yeti Chotimah/AWN/JN-SC)