Difabel Tak Pernah Lelah Meraih Pendidikan

0
274

 


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Teguh Kuliah Manajemen, Wahyu Teknik Informatika

BANYUWANGI tercatat banyak memiliki kampus yang berorientasi kepada bidang teknis dan IT. Namun, belum semua kampus tersebut bisa menerima keberadaan mahasiswa difabel (different ability/kemampuan berbeda).

Di antara kampus yang kini memiliki mahasiswa dengan kondisi khusus adalah Stikom Banyuwangi. Di antara mahasiswa difabel adalah Teguh Mulyanto, 22. Warga Jambesari ini merupakan mahasiswa D3 jurusan Manajemen Informatika semester 6. Suasana kuliah dan kekerabatan yang baik membuat dirinya betah dan senang menimba ilmu di Stikom. “Semua mendukung, baik-baiklah di sini,” terangnya.

Untuk tugas akhirnya kali ini, Teguh yang menderita tunadaksa berusaha membuat sebuah aplikasi pemasaran produk kerajinan. Ide yang dia kerjakan ini bermula dari keresahannya melihat produk kerajinan siswa-siswi SLB kurang dikenal pembeli.

“Saya ingin buat aplikasi pemasaran karya tangan SLB, untuk jualan karya teman-teman SLB,” terang alumni SLB Negeri Banyuwangi ini.

Tidak hanya mengasah kemampuan kognitif saja, ruang belajar yang ada di Stikom juga memberinya kesempatan berorganisasi dan belajar hidup dalam kelompok. Terhitung, sejak masuk hingga hari ini, ada dua Unit Kegiatan mahasiswa (UKM), yakni UKM fotografi dan kerohanian. “Saya sekarang ikut Rohisti, saya bagian keamanan,” terangnya.

Selain Teguh, penderita tunadaksa yang baru saja mengikuti wisuda adalah Wahyu Riyanto, 23. Sarjana S1 Teknik Informatika asal Kabat ini mantap menimba ilmu di Stikom setelah upayanya masuk ke sejumlah kampus terpaksa gagal.

“Dulu saya daftar di kampus negeri, ternyata di sana tidak ada kelas inklusinya, akhirnya saya disarankan guru saya saat di MAN untuk ke sini (Stikom, Red),” terangnya.

Oleh pihak kampus, keberadaan mahasiswa difabel ini diperlakukan layaknya mahasiswa lain. Seperti diungkapkan Kabag Kerja Sama 8a Alumni Yoyon Arie Budi S. ST MKom. Dikatakan, Stikom selama ini terbuka dalam menerima mahasiswa difabel.

Hal ini terkait penyediaan akses pendidikan kepada semua warga negara Indonesia. “Kampus ini terbuka, semua punya hak, ramah difabel,” ucapnya.

Lingkungan kampus, terutama hubungan komunikasi antar-sivitas akademika dibangun cukup baik, termasuk menjalin komunikasi dan dukungan kepada mahasiswa difabel.

Yoyon mengakui jika fasilitas penunjang seperti bangunan memang belum secara khusus tertuju untuk difabel. Namun, hal ini tidak mengurangi komitmen untuk bersama-sama memajukan pendidikan termasuk hak difabel untuk mendapat hak pendidikan.

“Secara infrastruktur memang belum, tapi kami membuka tangan. Kita sampaikan sejak awal kepada mereka,” jelasnya.

Dukungan ini tidak berhenti dalam hal wilayah kognitif saja, kampus juga melakukan bimbingan dalam bentuk penguatan kemampuan mahasiswa di segala bidang, termasuk mengasah kemandirian dan kewirausahaan sejak mahasiswa.

“Kita tidak membedakan yang difabel atau tidak, kita tanamkan entrepreneur saat mahasiswa,” terangnya.

Bahkan, komunikasi yang dibangun juga dilanjutkan pasca mereka lulus. Yakni melalui forum alumni yang didirikan untuk memudahkan dan meningkatkan SDM alumni.

“Kita punya alumni Stikom, info kerja dan lain disampaikan di situ. Kemarin Mas Wahyu juga daftar,” jelasnya.

Loading...