Doa di Makam Buyut Cili, Lalu Selamatan Pecel Pitik

0
583

doaBuku berjudul “Kemiren” karya Aekanu memang cukup kental nuansa global. Cerita dalam buku tersebut disajikan dalam tujuh bahasa. Uniknya, peluncuran awal buku tersebut justru dilakukan dengan sangat sederhana di areal pemakaman.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

KESENIAN barong benar-benar mengakar di dalam kehidupan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Saking cintanya terhadap kesenian yang sudah muncul berabad-abad silam itu, pertunjukan barong se akan menjadi “menu” wajib saat ada warga Desa Kemiren yang menggelar hajatan, baik khitanan maupun perkawinan. Tidak hanya itu, rasa cinta juga di tunjukkan para pelaku kesenian barong kemiren. Saat menggelar pertunjukan, prioritas utama mereka bukanlah materi.

Lebih dari itu, mereka lebih mementingkan kelestarian kesenian barong. Ka rena itu, para pelaku kesenian barong tidak pernah membedakan apakah mereka akan menggelar pertunjukan di panggung megah ataukah manggung lesehan di atas tanah. Itulah yang mendasari keputusan se orang pemerhati budaya, Aekanu Hariyanto, menulis buku berjudul Kemiren (Kisah Barong Jakripah dan Paman Iris) tersebut. Bahkan, buku yang diangkat dari cerita rakyat yang menyebar secara turun-te murun melalui lisan (folklore) itu juga menarik minat pemerhati bu daya dari berbagai negara untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa masing-masing.

Jadilah buku yang bercerita tentang kisah hewan Singobarong, seorang wanita cantik bernama Jakripah, dan pria sakti bernama Paman Iris. Buku ini ditulis dalam tujuh bahas Yakni Indonesia, Osing, Inggris, Belanda, Prancis, Jawa, dan Italia. “Di Indonesia ada beberapa jenis barong. Tetapi, barong ke miren memiliki ciri yang spesifi k, yakni bersayap dan bermahkota,” ujar Aekanu. Meski sedikit-banyak buku yang dia tu lis sudah mendapat “pengakuan” dari warga asing, Aekanu tidak pongah. Dia memilih melakukan soft launching buku tersebut dengan cara yang sangat se der hana.

Dengan mengundang sejumlah peng giat kesenian barong, peluncuran awal buku yang dia susun selama lima ta hun itu dilakukan di Petilasan Buyut Cili yang berlokasi di sekitar persawahan Du kuh Sukosari, Dusun Kedaleman, Desa Ke miren. Oleh Masyarakat Kemiren, Buyut Cili diyakini sebagai sosok yang bisa menangkal pengaruh jahat terhadap masyarakat desa se tempat. “Terserah mau dipersepsikan se perti apa. Yang jelas, kami menghormati ke yakinan masyarakat bahwa Buyut Cili adalah sosok yang mengayomi dan menjembatani doa mereka kepada Tuhan,” ujar Aekanu.

Suasana soft launching buku yang diterbitkan oleh Lembaga Kajian Pendidikan Adat Budaya dan Lingkungan Kiling Osing Banyuwangi itu benar-benar sederhana. Di awali doa bersama di makam Buyut Cili, acara dilanjutkan dengan penyerahan buku dari Aekanu kepada juru kunci barong tuwek kemiren, Sapi’i. Setelah itu, rangkaian acara dilanjutkan dengan se lamatan nasi pecel pitik pethetheng. Sekadar tahu, buku karya Aekanu itu di terjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Rachel Lovelock, editor bahasa Belanda-nya ialah Clemy Balvers, Gaelle De Boishebert menerjemahkan ke dalam bahasa Prancis, dan editor bahasa Italia-nya adalah Lara Abraham.

Untuk bahasa Osing, orang yang menerjemahkannya adalah Djohadi Timbul dan Tahyat, sedangkan editor bahasa Jawa-nya adalah Pradji Wijono dan Heru Widodo. Illustrator buku tersebut adalah pemuda asli Osing berusia 25 tahun, yakni Aris Siswanto. Bakat melukis alami yang dimiliki Aris terlihat sejak pemuda asli Desa Kemiren itu masih anak-anak. Darah seni Aris di wariskan oleh kakeknya yang hingga kini masih aktif sebagai pemain teater tradisional Osing kebanggaan warga Desa Kemiren tersebut. “Kami melibatkan warga asli Kemiren karena ada potensi yang bisa dikembangkan dari mereka.

Salah satunya adalah Aris. Jika di wadahi dengan baik, bakat melukis Aris bisa berkembang, sehingga ekonominya akan terangkat. Saat ini Aris bekerja membantu ayahnya sebagai tukang batu,” papar Aekanu. Sementara itu, soft launching buku karya Aekanu kemarin juga dihadiri seorang pen cinta budaya, Setiawan, seorang editor bahasa Osing buku tersebut, Djohadi Timbul. Sahek, salah satu pemain barong tertuam juga hadir dalam acara tersebut. Hadir juga Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi A. Choliq Baya dan anggota DPRD Banyuwangi Ridwan. Dia adalah menantu mantan bupati Samsul Hadi. “Buku ini diharapkan bermanfaat bagi pendidikan dan budaya di seluruh dunia,” harap timbul. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :