Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Jelang Nyepi 2026, Ribuan Warga dan Wisatawan ‘Eksodus’ dari Bali ke Jawa untuk Hindari Penutupan Total Pulau

jelang-nyepi-2026,-ribuan-warga-dan-wisatawan-‘eksodus’-dari-bali-ke-jawa-untuk-hindari-penutupan-total-pulau
Jelang Nyepi 2026, Ribuan Warga dan Wisatawan ‘Eksodus’ dari Bali ke Jawa untuk Hindari Penutupan Total Pulau

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi 2026, fenomena perpindahan warga dan wisatawan dari Bali menuju Pulau Jawa kembali terjadi.

Ribuan orang memilih meninggalkan Bali sebelum perayaan Nyepi dimulai untuk menghindari penutupan total aktivitas selama 24 jam.

Perayaan Nyepi tahun ini jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026 dan berlangsung mulai pukul 05.59 WITA hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA.

Selama periode tersebut, seluruh aktivitas di Bali dihentikan total sebagai bagian dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian.

Akibatnya, sejumlah warga non-Hindu, pekerja, hingga wisatawan domestik memilih bepergian ke luar pulau, terutama menuju wilayah Jawa Timur yang menjadi destinasi terdekat dari Bali.

Banyuwangi Jadi Tujuan Favorit

Wilayah Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, menjadi salah satu tujuan utama bagi warga yang meninggalkan Bali menjelang Nyepi.

Kota yang berada tepat di seberang Selat Bali itu dinilai paling mudah diakses melalui jalur penyeberangan laut.

Arus perpindahan tersebut umumnya melalui jalur penyeberangan antara Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Ketapang.

Setiap menjelang Nyepi, jalur ini biasanya dipadati kendaraan pribadi, bus pariwisata, hingga wisatawan backpacker yang ingin menyeberang ke Jawa sebelum akses pelabuhan ditutup.

Banyuwangi dipilih karena lokasinya yang dekat serta memiliki banyak destinasi wisata yang bisa menjadi tempat menghabiskan waktu selama Bali menjalani masa hening.

Bali Tutup Total Selama 24 Jam

Selama perayaan Nyepi berlangsung, Bali benar-benar berada dalam kondisi hening total. Semua aktivitas masyarakat dihentikan, termasuk kegiatan ekonomi, transportasi, hingga pariwisata.

Bandara utama di Bali, yakni Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, juga menutup operasional penerbangan selama satu hari penuh.


Page 2

Daihatsu Perkuat Layanan After Sales

Kamis, 12 Maret 2026 | 14:56 WIB


Page 3

Tidak ada pesawat yang mendarat atau lepas landas selama Nyepi berlangsung. Selain itu, pelabuhan penyeberangan laut juga menghentikan layanan transportasi.

Penutupan jalur laut di Selat Bali biasanya dimulai H-1 Nyepi pada sore hari, sehingga masyarakat yang ingin keluar dari Bali harus menyeberang sebelum waktu tersebut.

Setelah itu, tidak ada lagi aktivitas transportasi hingga masa Nyepi selesai.

Catur Brata Penyepian Berlaku untuk Semua

Selama Nyepi, seluruh warga yang berada di Bali, termasuk wisatawan, wajib mematuhi aturan Catur Brata Penyepian.

Empat pantangan utama tersebut meliputi:

  • Amati Geni: tidak menyalakan api atau lampu
  • Amati Karya: tidak bekerja atau beraktivitas
  • Amati Lelungan: tidak bepergian keluar rumah
  • Amati Lelanguan: tidak melakukan hiburan

Seluruh aturan ini diawasi oleh petugas keamanan adat Bali yang dikenal sebagai pecalang, yang berjaga di berbagai wilayah untuk memastikan ketertiban selama Nyepi.

Pada malam hari, Bali bahkan akan terlihat sangat gelap karena penggunaan cahaya dibatasi untuk menjaga kesunyian.

Bukan “Melarikan Diri”, Tapi Pilihan Aktivitas

Meski sering disebut sebagai fenomena “eksodus” atau “melarikan diri”, perpindahan warga dari Bali menjelang Nyepi sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai pilihan perjalanan atau wisata.

Sebagian warga non-Hindu atau wisatawan yang sedang berada di Bali memilih pergi ke daerah lain agar tetap bisa beraktivitas seperti biasa selama 24 jam tersebut.

Di luar Bali, seperti di Jawa atau Lombok, aktivitas masyarakat tetap berjalan normal tanpa pembatasan seperti saat Nyepi.

Karena itu, banyak orang memanfaatkan momen tersebut untuk bepergian sementara waktu.

Wisatawan Domestik Ikut Memanfaatkan

Fenomena ini juga banyak dimanfaatkan oleh wisatawan domestik yang ingin menikmati liburan tanpa harus berada dalam suasana hening total seperti di Bali saat Nyepi.