detik.com
Dishub Jatim memastikan, kapal cepat Express Bahari rute Banyuwangi-Denpasar (Bali) pulang-pergi akan beroperasi normal kembali. Beberapa hari ini, kapal cepat tidak beroperasi karena cuaca ekstrem.
“Akan beroperasi lagi, hanya saja kami dapat arahan dari BMKG bahwasannya untuk tanggal 26-29 Januari ini gelombang masih tinggi, jadi sementara kita menunggu cuaca baik untuk beroperasi lagi,” kata Kadishub Jatim Nyono saat dikonfirmasi detikJatim, Senin (26/1/2026).
Nyono mengatakan, operasional kapal cepat Banyuwangi-Denpasar untuk tahun 2026 ini sangat siap. Apalagi, pada akhir tahun 2025 lalu kapal telah di-docking.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Nyono membeberkan jadwal terbaru kapal cepat Banyuwangi-Denpasar untuk tahun 2026. Di mana kapal cepat beroperasi pada hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Untuk keberangkatan dari Pelabuhan Boom Marina Banyuwangi pukul 10.00 WIB, sedangkan dari Pelabuhan Serangan Denpasar pukul 15.00 WITA.
“Untuk durasinya, perjalanan dari Banyuwangi menuju Denpasar atau sebaliknya hanya menempuh waktu sekitar 3 jam,” tambah Nyono.
Nyono juga membeberkan rencana integrasi layanan kereta api dengan kapal cepat Banyuwangi-Denpasar sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan penumpang sekaligus memperkuat sektor pariwisata. Apalagi, kata Nyono, tren penumpang kapal cepat Banyuwangi-Denpasar menunjukkan potensi besar untuk terus dikembangkan.
“Pertumbuhan penumpang kapal cepat ini kita dorong dengan kerja sama bersama PT KAI. Kita minta PT KAI untuk menyiapkan trayek Surabaya-Denpasar,” ujarnya.
Dalam skema yang dirancang, penumpang dari Surabaya akan menggunakan kereta api menuju Stasiun Banyuwangi. Dari titik tersebut, pemerintah daerah akan menyiapkan layanan shuttle untuk mengantar penumpang menuju pelabuhan, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kapal cepat ke Denpasar. Pola yang sama juga akan diterapkan untuk perjalanan sebaliknya atau pulang-pergi (PP).
“Nanti dari stasiun Banyuwangi kita angkut dengan shuttle, diteruskan dengan kapal cepat ke Denpasar. Begitu juga sebaliknya, dari kapal cepat kembali ke Stasiun Banyuwangi,” jelasnya.
Nyono menegaskan, integrasi moda ini menjadi kunci utama untuk meningkatkan volume penumpang kapal cepat. Menurutnya, kemudahan akses dan kepastian perjalanan akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin bepergian dari Jawa Timur ke Bali tanpa harus menggunakan jalur darat yang padat.
Dari sisi tarif, saat ini tiket kapal cepat Banyuwangi-Denpasar dipatok sebesar Rp 225.000. Namun, Dishub Jatim berharap harga tersebut bisa ditekan lebih murah apabila integrasi dengan kereta api Surabaya-Banyuwangi telah terealisasi.
“Tiketnya sekarang Rp 225 ribu. Harapan kita, kalau nanti sudah terintegrasi dengan PT KAI dari Surabaya sampai Denpasar, bisa lebih murah,” kata Nyono.
Tak hanya berhenti pada aspek transportasi, Pemprov Jatim juga mengaitkan proyek integrasi ini dengan pengembangan pariwisata unggulan. Salah satu rencana yang disiapkan adalah menghubungkan Pelabuhan Boom Banyuwangi dengan kawasan wisata Ijen melalui angkutan pemadu moda.
Dishub Jatim berencana memasukkan Pelabuhan Boom sebagai bagian dari rute DAMRI Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Dengan skema tersebut, wisatawan dari Bali yang tiba di Banyuwangi dapat langsung melanjutkan perjalanan ke kawasan Ijen untuk menyaksikan fenomena alam Blue Fire yang mendunia.
“Kita integrasikan angkutan pemandu moda dari Boom Banyuwangi ke Ijen. Ini supaya wisatawan dari Bali bisa melihat Blue Fire di Ijen, termasuk lewat jalur Bondowoso,” terang Nyono.
Ia menilai, integrasi transportasi dan pariwisata ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas, tidak hanya bagi Banyuwangi, tetapi juga daerah sekitar seperti Bondowoso. Arus wisatawan diharapkan tidak lagi terpusat di Bali, melainkan menyebar ke wilayah tapal kuda Jawa Timur.
(auh/hil)







