Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Pakai Kayu Jati, Suhu Bara Api Lebih Stabil: Hasil Roasting Bhayangkari Polresta Banyuwangi Lebih Maksimal Saat Lomba Sangrai Kopi

pakai-kayu-jati,-suhu-bara-api-lebih-stabil:-hasil-roasting-bhayangkari-polresta-banyuwangi-lebih-maksimal-saat-lomba-sangrai-kopi
Pakai Kayu Jati, Suhu Bara Api Lebih Stabil: Hasil Roasting Bhayangkari Polresta Banyuwangi Lebih Maksimal Saat Lomba Sangrai Kopi
Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda

Radarbanyuwangi.id – Salah satu faktor keberhasilan mendapatkan cita rasa kopi yang sesungguhnya adalah keberhasilan saat sangrai kopi. Dan sangrai kopi secara tradisional diyakini masih menjadi salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kopi berkualitas tinggi saat ini.

Dan faktor pendukung sangrai kopi secara tradisional tersebut diantaranya terletak pada penggunaan kayu sebagai bahan bakar. Ada tiga kayu terbaik yang biasa digunakan untuk sangrai kopi. Diantaranya kayu cengkeh, kayu kopi, dan kayu jati.

Sekadar tahu saja, proses penyangraian memberikan andil besar dalam menentukan kualitas kopi. Dimana 60 persen kualitas kopi ditentukan di kebun, yakni mulai varietas kopi yang ditanam, ketinggian lahan, pengolahan tanah, waktu panen, hingga proses pengeringan atau penjemuran kopi.

Biji kopi yang baik adalah biji kopi yang memiliki kadar air sebesar 12 persen atau kurang. Selebihnya, kualitas kopi juga ditentukan dalam proses sangrai alias roasting dan cara penyajian kopi tersebut.

Versi pakar kopi, proses roasting memberikan andil 30 persen terhadap kualitas kopi. Sedangkan 10 persen sisanya dipengaruhi cara penyajian kopi tersebut. Berkaitan dengan proses roasting, khususnya roasting kopi secara tradisional, pakar kopi tingkat dunia asal Banyuwangi, Setiawan Subekti mengatakan ada beberapa hal yang sangat menentukan. Salah satunya kayu yang digunakan untuk pembakaran.

Pak Iwan –sapaan karib Setiawan Subekti— menuturkan untuk proses pembakaran sebaiknya menggunakan kayu yang bersifat keras. Contohnya kayu cengkih, dan sebagainya. ”Supaya temperatur yang dihasilkan pada proses pembakaran stabil,” ujar pemilik Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tersebut.

Iwan menambahkan, dalam proses roasting kopi secara tradisional, yang dibutuhkan bukanlah nyala api, melainkan bara. ”Karena suhu bara api juga lebih stabil,” kata dia.

Masih menurut Iwan, menyangrai kopi sebaiknya tidak menggunakan kompor berbahan bahan bakar gas. ”Sebab, aroma gas bisa masuk ke kopi yang disangrai sehingga berpengaruh pada kualitas kopi yang dihasilkan,” pungkasnya.

Hal inilh yang juga tampak dalam kegiatan Nyangrai Kopi Radar Banyuwangi Bersama Polresta Banyuwangi Sabtu (22/6). Dalam kegiatan itu, digunakan kayu jenis jati sebagai bahan bakarnya. Hasilnya, peserta mampu menyajikan hasil sangrai kopi terbaiknya. (*)