Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

PBB Nyatakan Dunia Sudah Memasuki Era Kebangkrutan Air Global – TIMES Banyuwangi

pbb-nyatakan-dunia-sudah-memasuki-era-kebangkrutan-air-global-–-times-banyuwangi
PBB Nyatakan Dunia Sudah Memasuki Era Kebangkrutan Air Global – TIMES Banyuwangi

Jumat, 23 Januari 2026 – 05:34

TIMES BANYUWANGI, JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan sebua peringatan keras. Kini dunia telah memasuki sebuah era kebangkrutan air global (Global Water Bankruptcy). PBB menggambarkan kondisi sumber daya air di banyak wilayah penjuru dunia sudah terlalu parah dirusak sehingga tidak mungkin lagi pulih seperti semula.

Laporan terbaru dari United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) menyebut, kondisi ini lebih buruk dari sekadar krisis air atau stres air. Banyak sistem air di seluruh dunia sudah melewati titik puncak dan memasuki fase kerusakan permanen.

Apa Itu Kebangkrutan Air?

Menurut definisi ilmiah dalam laporan berjudul “Global Water Bankruptcy: Living Beyond Our Hydrological Means in the Post-Crisis Era” tersebut, kebangkrutan air terjadi ketika:

  1. Penarikan air dari sungai, danau, dan tanah secara terus-menerus melebihi kemampuan alam mengisinya kembali.

  2. Modal alam yang menghasilkan air, seperti gletser, lahan basah, dan akuifer, telah rusak secara irreversibel atau biaya perbaikannya sangat mahal.

Laporan setebal 72 halaman itu juga memaparkan data-data mengkhawatirkan yang menggambarkan betapa kritisnya situasi:

  • Separuh danau besar dunia menyusut sejak 1990-an, mengancam 25% populasi global yang bergantung padanya.

  • 70% sumber air tanah utama (akuifer) mengalami penurunan jangka panjang dan berkelanjutan.

  • Lahan basah seluas Uni Eropa (410 juta hektar) telah hilang dalam 50 tahun terakhir.

  • 4 miliar orang menghadapi kelangkaan air akut setidaknya satu bulan setiap tahunnya.

  • 2,2 miliar orang masih kesulitan mendapatkan air minum bersih yang aman.

Penyebab Utama: Ulah Manusia

Laporan tersebut juga menegaskan, akar masalahnya bukan hanya alam. Namun terutama aktivitas manusia:

  • Pertanian berlebihan: Menyerap 70% air tawar global, seringkali dengan mengeksploitasi air tanah hingga habis.

  • Polusi: Mencemari sumber air yang tersisa, mengurangi persediaan air bersih.

  • Degradasi lahan: Mengurangi kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air.

  • Krisis iklim: Memperparah pola hujan dan mempercepat pencairan gletser.

Dampak Rantai ke Pangan dan Keamanan

Krisis air ini langsung berimbas pada ketahanan pangan. Sekitar 170 juta hektar lahan pertanian irigasi (seluas gabungan Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia) berada di bawah tekanan air yang ekstrem. Jika pertanian tidak segera bertransformasi, kekurangan pangan global bisa memburuk.

Oleh karena itu, para peneliti PBB menyerukan perubahan radikal dalam mengelola air:

  1. Berhenti merusak: Lindungi sisa akuifer, lahan basah, dan gletser yang masih ada.

  2. Atur ulang pembagian air: Hak dan kebutuhan atas air harus disesuaikan dengan ketersediaan riil yang sudah menciut.

  3. Transformasi pertanian: Beralih ke pola tanam dan irigasi yang lebih hemat air.

  4. Jadikan air sebagai pemersatu: Isu air harus jadi jembatan kerja sama global, mengatasi perpecahan politik.

“Ini bukan pernyataan putus asa, tapi seruan untuk jujur dan berubah,” tegas Prof. Kaveh Madani, pemimpin penelitian ini, Selasa (20/1/2026).

“Kita tidak bisa mengembalikan gletser yang sudah hilang. Tapi kita bisa mencegah kerusakan lebih jauh dan belajar hidup dalam batas kemampuan air yang baru,” imbuhnya.

Kaveh Madani menegaskan, laporan ini akan menjadi landasan untuk Konferensi Air PBB 2026 mendatang. Konferensi itu diharapkan bisa menggeser paradigma global dari sekadar mengatasi krisis menjadi mengelola kebangkrutan yang sudah terjadi. (*)

Pewarta : Faizal R Arief
Editor : Faizal R Arief