sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran dinilai tidak akan serta-merta mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Broto Wardoyo, memprediksi garis konservatif yang akan dipertahankan Mojtaba akan membuat ketegangan dengan AS dan Israel sulit mereda dalam waktu dekat.
“Jika rezim Iran masih konservatif seperti yang sekarang, ya konflik masih akan berlanjut. Hanya saja, apakah akan tetap memakai cara-cara perang terbuka seperti sekarang, masih menjadi pertanyaan,” ujar associate professor FISIP UI tersebut kepada Republika, Senin (9/3/2026).
Broto menjelaskan bahwa perang ini sejak awal didorong oleh kepentingan strategis Israel dan AS untuk mengubah rezim di Tehran menjadi pemerintahan yang lebih bersahabat dengan Barat.
Bagi Israel, perubahan rezim dinilai dapat memperlemah dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok seperti Hezbollah, Hamas, dan Houthi.
Sementara bagi AS, pergantian rezim berpotensi membuka konsesi energi dan memperkuat posisi Washington menghadapi pengaruh China di kawasan.
Pakar ini juga menyoroti potensi ancaman dari kelompok Kurdi yang tersebar di Turki, Irak, Suriah, dan Iran.
Ketidakpastian politik di Iran, menurutnya, bisa dimanfaatkan kelompok-kelompok tersebut untuk memperjuangkan aspirasi mereka.
“Ini bukan hanya di Iran. Terakhir di Suriah mereka juga melakukan hal yang sama,” kata Broto.
Ia mengingatkan bahwa instabilitas berkepanjangan di Iran memiliki dampak langsung terhadap keamanan energi global, mengingat posisi strategis negara itu di dekat Selat Hormuz.
“Penting untuk diingat bahwa stabilitas di Iran menentukan kendali atas Selat Hormuz. Dan selat ini sangat menentukan harga minyak dunia,” tegasnya, seraya mendorong Indonesia untuk berhitung cermat dalam menyikapi dinamika geopolitik yang terus berkembang ini.








