TIMES BANYUWANGI, PACITAN – IAI Attarmasi Pacitan mendorong penguatan integrasi madrasah diniyah (Madin) dengan sekolah formal sebagai upaya membangun generasi yang tak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Wakil Rektor Pelaksana Harian IAI Attarmasi, Dr. Ali Mufron, menegaskan bahwa pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum justru menjadi salah satu sumber persoalan dalam dunia pendidikan.
“Ilmu tanpa nilai akan kehilangan arah. Sebaliknya, agama tanpa penguatan nalar juga tidak cukup. Keduanya harus berjalan bersama,” ujarnya saat mengisi materi diskusi publik Rumah Jurnalis Pacitan, Kamis (29/1/2026).
Menurut Ali Mufron, integrasi iman dan sains sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Ali Imran ayat 191. Ayat tersebut menggambarkan manusia beriman sebagai pribadi yang selalu berdzikir sekaligus berpikir.
“Di situ jelas, Islam tidak mengajarkan memilih salah satu. Berdzikir dan berpikir harus seimbang,” katanya.
Ia menjelaskan, berdzikir merepresentasikan hubungan manusia dengan Allah, sementara berpikir menjadi sarana memahami realitas melalui akal dan pengalaman. Keduanya, kata dia, menjadi fondasi utama pendidikan yang utuh.
Sejarah peradaban Islam, lanjut Ali Mufron, juga menunjukkan kuatnya tradisi integrasi ilmu. Pada masa kejayaan Islam, para ilmuwan Muslim mampu mengembangkan berbagai disiplin ilmu tanpa melepaskan nilai ketauhidan.
“Mereka meneliti, menulis, dan berinovasi, tetapi tetap berangkat dari iman,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan berbasis integrasi tidak hanya bertujuan mencetak lulusan pintar, tetapi juga membentuk karakter yang berakhlak.
“Ilmu harus menjadi jalan ibadah, bukan sekadar alat mencari status atau kekuasaan,” tegasnya.
Di tingkat SMP, konsep ini dapat diterapkan dengan mengaitkan materi pelajaran umum dengan nilai keislaman, membiasakan siswa berpikir kritis, serta menanamkan kesadaran bahwa belajar adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.
Melalui integrasi Madin dan sekolah formal, IAI Attarmasi berharap lahir generasi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial.
“Target akhirnya adalah membentuk manusia yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |







