Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Warga Ringinagung Banyuwangi Tolak Keras Eksplorasi Tambang PT BSI di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur

warga-ringinagung-banyuwangi-tolak-keras-eksplorasi-tambang-pt-bsi-di-petak-56-gunung-gede-dan-gunung-kucur
Warga Ringinagung Banyuwangi Tolak Keras Eksplorasi Tambang PT BSI di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Eksplorasi penambangan yang dilakukan PT Bumi Suksesindo (BSI) di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur mendapat penolakan keras dari masyarakat sekitar.

Eksplorasi itu dilakukan di kawasan yang berada di wilayah Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Ekspansi di Petak 56 yang dilakukan sejak November 2025, pasca mengikis Gunung Tumpang Pitu tersebut, dihadang warga lantaran mengancam hajat hidup ribuan warga Ringinagung.

Sebagai gambaran, saat ini ada 300 kepala keluarga (KK) yang menggarap lahan di hutan tersebut.

Jauh sebelum PT Indonesia Mining Nusantara (IMN) atau kini PT BSI datang, hampir seluruh warga Dusun Ringinagung menggantungkan penghasilan mereka di pegunungan Petak 56 itu.

“Warga kami mayoritas petani. Ada yang menanam alpukat, buah naga, jagung, dan lainnya. Di sana juga ada penambangan rakyat,” kata koordinator aksi penolakan, Katoyo, 54.

Katoyo menyebut, warga mengkhawatirkan nasib anak-cucu mereka apabila penambangan di dua pegunungan itu dilanjutkan.

“Sekarang ini warga khawatir. Bahkan di majelis-majelis (pengajian, Red) kami saling menguatkan, kami saling bertukar informasi terkait dampak penambangan. Ini agar kami semua satu suara (menolak),” terangnya.

Warga juga belajar dari kondisi yang saat ini terjadi di sekitar Gunung Tumpang Pitu di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Menurutnya, aktivitas penambangan pada akhirnya memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

“Saat ada blasting (peledakan), pasti debu akan ke mana-mana. Jelas mencemari tanaman buah kami,” katanya.

Terlebih, lanjut Katoyo, titik eksplorasi tersebut hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lahan dan permukiman warga. Area itu bisa saja bertambah seiring berjalannya proses penambangan.

“Ini yang membulatkan tekad kami menolak. Kami sebisa mungkin kondusif, tidak akan ada perusakan. Tapi kami minta solusi. Solusi dimaksud ya agar Petak 56 tidak ditambang,” sambungnya.

Katoyo yang merupakan warga asli Dusun Ringinagung mengaku, ia bersama warga saat ini masih khawatir sewaktu-waktu eksplorasi kembali dilakukan.


Page 2


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Eksplorasi penambangan yang dilakukan PT Bumi Suksesindo (BSI) di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur mendapat penolakan keras dari masyarakat sekitar.

Eksplorasi itu dilakukan di kawasan yang berada di wilayah Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Ekspansi di Petak 56 yang dilakukan sejak November 2025, pasca mengikis Gunung Tumpang Pitu tersebut, dihadang warga lantaran mengancam hajat hidup ribuan warga Ringinagung.

Sebagai gambaran, saat ini ada 300 kepala keluarga (KK) yang menggarap lahan di hutan tersebut.

Jauh sebelum PT Indonesia Mining Nusantara (IMN) atau kini PT BSI datang, hampir seluruh warga Dusun Ringinagung menggantungkan penghasilan mereka di pegunungan Petak 56 itu.

“Warga kami mayoritas petani. Ada yang menanam alpukat, buah naga, jagung, dan lainnya. Di sana juga ada penambangan rakyat,” kata koordinator aksi penolakan, Katoyo, 54.

Katoyo menyebut, warga mengkhawatirkan nasib anak-cucu mereka apabila penambangan di dua pegunungan itu dilanjutkan.

“Sekarang ini warga khawatir. Bahkan di majelis-majelis (pengajian, Red) kami saling menguatkan, kami saling bertukar informasi terkait dampak penambangan. Ini agar kami semua satu suara (menolak),” terangnya.

Warga juga belajar dari kondisi yang saat ini terjadi di sekitar Gunung Tumpang Pitu di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Menurutnya, aktivitas penambangan pada akhirnya memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

“Saat ada blasting (peledakan), pasti debu akan ke mana-mana. Jelas mencemari tanaman buah kami,” katanya.

Terlebih, lanjut Katoyo, titik eksplorasi tersebut hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lahan dan permukiman warga. Area itu bisa saja bertambah seiring berjalannya proses penambangan.

“Ini yang membulatkan tekad kami menolak. Kami sebisa mungkin kondusif, tidak akan ada perusakan. Tapi kami minta solusi. Solusi dimaksud ya agar Petak 56 tidak ditambang,” sambungnya.

Katoyo yang merupakan warga asli Dusun Ringinagung mengaku, ia bersama warga saat ini masih khawatir sewaktu-waktu eksplorasi kembali dilakukan.