TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus bergerak masif dalam mencetak generasi emas yang berkarakter.
Melalui sinergi bersama Ikatan Guru (IG) PAUD Muslimat NU dan Majlis Silaturrahmi TPQ, YPMNU menggelar dua agenda strategis untuk memperkuat kapasitas pendidik di Bumi Blambangan.
Dua agenda besar tersebut mengusung misi utama, meneguhkan implementasi Deep Learning berbasis Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) bagi guru PAUD dan mencetak generasi Qur’ani melalui upgrading guru ngaji.
Deep Learning : Memanusiakan Manusia Sejak Usia Dini
Agenda pertama adalah Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning berbasis Aswaja. Bertempat di Aula Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi, kegiatan ini diikuti oleh 125 guru PAUD Muslimat NU yang mewakili 52 lembaga se-Kabupaten Banyuwangi.
Kepala Dispendik Banyuwangi, Suratno, S.Pd, MM, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Kabid Dikmas) Dispendik Banyuwangi, Lina Kamalin, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, penguatan nilai Aswaja sangat relevan dengan kebijakan peningkatan mutu pendidikan anak usia dini saat ini.
YPMNU Teguhkan Deep Learning Berbasis Aswaja dan Generasi Qur’ani di Banyuwangi. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)
Ketua YPMNU Banyuwangi, Dr Emi Hidayati, M Si, yang juga menjadi narasumber menjelaskan bahwa Deep Learning sebenarnya merupakan konsep lama yang lahir sejak dekade 1980-an. Fokusnya adalah memanusiakan manusia.
“Deep learning bukan sekadar formalitas administrasi atau mengejar kelulusan. Ini adalah tentang menghadirkan proses belajar yang bermakna (meaningful), menggembirakan (joyful), dan sadar penuh (mindful),” katanya, Minggu (4/1/2026).
Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya diasah kognitifnya, tetapi diperlakukan sebagai subjek utuh yang memiliki akal, rasa, dan ruh. Nilai-nilai Aswaja seperti kejujuran, sikap santun, dan riyadhoh yang selama ini menjadi ciri khas Muslimat NU, kini diteguhkan secara konseptual agar selaras dengan standar pendidikan nasional.
Mencetak Generasi Qurani Melalui 14.000 Guru Ngaji
Tak berhenti di level PAUD, YPMNU juga menyasar garda terdepan pendidikan spiritual masyarakat, yakni guru ngaji. Agenda kedua berupa Upgrading Guru Ngaji Binaan YPMNU Banyuwangi yang melibatkan tim profesional dari LP4Q–JQHNU Jawa Timur.
Langkah ini sangat krusial, mengingat YPMNU Banyuwangi, menaungi sekitar 14.000 guru ngaji yang tersebar di berbagai TPQ, masjid, musholla, hingga rumah warga. Fokus upgrading ini meliputi penguatan makharijul huruf, tajwid, ghoibul Qur’an, hingga metode tartila bil qolam.
YPMNU Teguhkan Deep Learning Berbasis Aswaja dan Generasi Qur’ani di Banyuwangi. (Foto : Dokumentasi TIMES Indonesia)
“Guru ngaji adalah penjaga tradisi keilmuan umat. Mereka bukan hanya mengajar baca tulis Al-Qur’an, tapi juga pendidik adab dan akhlak bagi generasi masa depan,” tandasnya.
Sinergi Merawat Peradaban
Melalui dua kegiatan ini, YPMNU Banyuwangi, berharap tercipta sinergi yang kokoh antara pengurus Muslimat NU di semua tingkatan, mulai dari Ranting hingga Cabang.
Pendidikan yang berakar pada nilai-nilai luhur dan ditopang oleh pendidik yang kompeten diyakini menjadi kunci utama dalam menyiapkan masa depan umat dan bangsa yang beradab. YPMNU Banyuwangi membuktikan bahwa menjaga tradisi Aswaja bisa berjalan beriringan dengan inovasi metode pendidikan modern. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Ronny Wicaksono |








