Abdul Rifai, Kolektor Barang Antik di Kemiren

0
400
Abdul Rifai dan mobil antik di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Usia Abdul Rifai sudah 61 tahun. Memang tidak muda lagi. Tetapi hobi dan pekerjaannya adalah mengumpulkan dan memakai barang-barang yang berusia lebih tua dari umurnya.

KRIDA HERBAYU, Glagah

RUMAH kuno milik Rifai di Dusun Kemiren Barat, kawasan adat Desa Kemiren itu sering dikunjungi oleh para pemburu barang antik. Berbagai jenis barang antik mulai dari lampu kuno, mobil, lemari, kursi, pusaka, pistol, lukisan, hingga korek api tahun 1930, ada di dalam rumah itu.

Pria pensiunan PNS Dinas Pendidikan Banyuwangi itu, memang gemar mengoleksi benda antik sejak masih duduk di bangku kuliah. Sejak tahun 1980, sambil kuliah, dia memang bekerja sebagai makelar jual beli barang antik. Dan kini, pekerjaan tersebut menjadi hobi yang tidak bisa dia tinggalkan.

Barang antik yang didapatkannya itu memang bukan berasal dari Bumi Blambangan. Hanya beberapa benda kuno asli suku Oseng yang dia miliki. Beberapa koleksinya yaitu ani-ani Suku Oseng, sumpit panah Suku Oseng, kiling Oseng, dan Gaman Oseng.

Benda tersebut dia dapatkan dari peninggalan leluhurnya. Banyak pemburu barang antik yang datang ke rumahnya untuk membeli beberapa koleksinya. Barang yang sering menjadi incaran pembeli adalah lampu kuno yang dibuat sejak abad ke-19.

Harga yang ditawarkan oleh Rifai bervariasi, tergantung dari kualitas dan juga umur benda antik tersebut. Salah satu barang antik yakni lampu kuno miliknya pernah ditawar pembeli Rp 75 juta, namun Rifai belum mau melepaskan lampu kuno tersebut karena masih memiliki nilai histori yang tinggi.

Tidak hanya lampu kuno saja, mobil sedan VW tahun 1971 yang dimilikinya sekarang juga tidak luput dari tawaran pemburu barang antik. Mobil berwarna krem tersebut pernah ditawar dengan harga Rp 120 juta. Namun kali ini, Rifai juga belum bisa melepaskan mobil tersebut. Mobil kodok tersebut masih setia menemaninya saat berjalan mengelilingi kota.

“Masih sering saya pakai keliling untuk jalan-jalan. Saya masih belum bisa menjualnya,” ujar pria kelahiran 20 Mei 1956 itu.

Pistol tembaga buatan USA tahun 1870.

Selain itu, juga masih banyak benda antik koleksinya. Salah satunya adalah pistol kuno buatan USA tahun 1870. Pistol tersebut dia dapatkan dari salah seorang temannya di Surabaya.

Pistol dengan berat setengah kilogram dan terbuat dari bahan tembaga itu, juga sudah banyak yang menawar tapi belum juga dilepas oleh Rifai. “Harganya masih belum sesuai dengan nilai histori pistol kuno itu,” ucap bapak dua anak itu.

Pria yang juga gemar memakai topi koboi itu mengaku, untuk saat ini peminat benda antik tidak seramai dulu. Orang-orang yang datang ke tempatnya kebanyakan adalah pejabat dan budayawan. Untuk orang awam dan anak-anak muda jarang sekali yang datang untuk menawar benda kuno koleksinya.

“Saya hanya menjual barang yang menurut saya layak untuk dijual. Jika benda tersebut memiliki nilai histori yang tinggi saya lebih baik menyimpannya,” ungkap pria yang pensiun pada tahun 2015 itu.

Beberapa barang antik koleksinya pun pernah diborong oleh turis asal Inggris. Warga Inggris bernama Mr Andrew itu memborong perabotan rumah tangga seperti dipan Oseng, lampu kuno, dan meja kuno.

“Saya juga pernah diajak ke Inggris tapi saya menolak karena masih terikat dengan pekerjaan PNS,” papar dosen yang masih mengajar di Universitas Terbuka (UT) Banyuwangi itu.

Untuk saat ini, semua barang koleksi antik miliknya masih layak pakai dan terawat dengan baik. Rifai juga masih ingin mencari beberapa koleksi barang antik lainnya. “Saya masih ingin melengkapi koleksi barang antik. Karena hobi saya memang senang dengan berbagai barang antik dan kuno,” tandas Rifai.(radar)

Loading...