Pedagang Sepeda Ontel Bekas Lesu

0
116
As’ad mencari rangka sepeda bekas sesuai pesanan pelanggan di gudang miliknya, kemarin (23/10).

SEMPU–Tukang servis sepeda pancal bekas, kini mengalami masa yang sulit. Warga yang datang untuk memperbaiki sepedahnya yang rusak, menurun drastis. Sepeda pancal bekas yang dijual, juga sepi peminat.

Itu seperti yang dirasakan oleh As’ad, 52, warga Dusun Nganjukkan, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu. Selain tukang servis, dia juga memperbaiki sepeda bekas yang tidak layak dan dijual lagi. Untuk memperbaiki itu, butuh waktu dan ketelitian agar sepeda bisa enak dinaiki. Dalam satu hari, bisa memperbaiki tiga unit sepeda. “Harganya jauh lebih murah dibanding di toko,” ujar As’ad ditemui dibengkelnya kemairn (23/10).

Loading...

Sepeda pancal bekas yang diperbaiki itu, terang dia, didapatkan dari warga yang sengaja menjual  ke bengkelnya. Sebagian juga ada yang tukar tambah dengan sepeda yang sudah diperbaiki dengan ukuran berbeda. Jumlah sepeda bekas miliknya, kini mencapai ribuan dengan berbagai ukuran dan bentuk. Sepeda pancal yang disediakan di bengkel miliknya itu mulai anak-anak hingga dewasa, dan orang tua. “Rata-rata pembelinya kalangan menengah ke bawah, kalau menengah ke atas pasti beli baru di toko,” jelasnya

Untuk harga sepeda pancal, lanjutnya, dijual mulai Rp 75 ribu hingga Rp 3 juta, tergantung jenis, ukuran, dan merek dari sepeda. Hampir setiap hari selalu ada warga yang datang untuk membeli sepeda pancal ke bengkelnya. “Dulu paling sepi sehari bisa terjual tiga unit, tetapi sekarang peminat sepeda gayuh berkurang,” cetusnya.

Semua sepeda bekas di bengkelnya, terang dia, dipercantik agar mudah dijual dengan harga yang tinggi. “Untuk menarik pembeli saya garansi service setahun, tapi tetap saja yang membeli sepi,” ungkapnya.

Tukang servis sepeda lainnya, Mahsud, mengaku di bulan ini peminat sepeda pancal berkurang. Diduga, itu karena banyak anak-anak yang sudah biasa naik motor. “Sudah mulai berkurang, banyak yang memakai sepeda motor,’’ kata lelaki yang berusia 50 tahun tersebut.

Mahsud menambahkan para pelajar sekarang kebanyakan sudah membawa kendaraan bermotor. Padahal itu sangat berbahaya untuk keselamatannya. Tetapi karena diizinkan oleh orang tuanya, maka anak merasa nyaman dan tenang. “Orang tuanya yang salah, memperbolehkan anak membawa kendaraan bermotor,’’ pungkasnya. (radar)

loading...