Anak-Anak Segobang Belajar Jaranan Barong Cilik “Kasmaran”

0
743

pak-kumis54-bersama-anak-didiknya-saat-mengiringi-barong-menari-di-desa-segobang-kecamatan-licin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Berguru ke Pak Kumis, Berlatih dari Kaset dan Tontonan

DESA Segobang secara turun-temurun dikenal memiliki kesenian barong yang sudah mengakar di tengah masyarakat. Hingga kini, ada empat kesenian barong yang masih eksis menghibur masyarakat di desa yang memiliki sumber air yang melimpah  ruah tersebut.

Di antara empat grup seni barong dewasa itu ada satu grup barong cilik  atau biasa disebut barong anakan  yang anggotanya berisi anak-anak usia SD hingga SMP. Grup barong yang diberi nama “Kasmaran” tersebut  dipimpin oleh seorang pria yang akrab disapa Pak Kumis, 54.

Jawa Pos Radar Banyuwangi sempat bertemu Pak Kumis saat dirinya sedang berlatih bersama anak-anak asuhnya di Kedawung Adventure, Desa Segobang, Kecamatan Licin. Saat itu, pria  bernama asli Sutoyo itu sedang mengajar anak asuhnya untuk bersiap belajar  gamelan.

Terlihat alat musik seperti gong, kenong  dan kendang berjejer di sekeliling pria berambut panjang itu. Begitu tahu ada tamu, dia pun langsung meminta agar anak-anak asuhnya melanjutkan latihan. Sambil duduk bersila di atas rumput, Pak  Kumis mengajak saya ngobrol.

Sambil menghidupkan rokok  kretek yang dari tadi diselipkan di telinganya Pak Kumis mengajak saya berbincang. Tak lama obrolan kami mengarah pada cerita tentang asal muasal barong cilik yang dikelolanya. Pak Kumis mengatakan, grup ini baru berusia sekitar enam bulan.

Loading...

Awalnya ada beberapa anak usia sekolah dasar yang datang ke  rumahnya untuk minta diajari   bermain alat musik tradisional. Meski Pak Kumis bukanlah orang asli Segobang, tetapi anak-anak kecil  itu senang datang ke rumahnya. Setelah diajari bermain alat  musik, anak-anak itu kembali  mengajukan permohonan lagi  kepadanya. Kali ini anak-anak yang berjumlah tujuh orang itu  ingin dibuatkan grup barong. Pak Kumis pun memutar otak mencari cara untuk mewujudkan permintaan anak-anak itu.

“Saya  ini aslinya Tenggarong, Kalimantan. Jadi tidak punya darah Oseng. Tapi saya tahu anak-anak ini keinginannya kuat. Harus bisa diakomodasi,” kata Pak Kumis.  Karena ingin mewujudkan keinginan anak-anak, Pak Kumis  pun akhirnya berusaha mencari  referensi. Beberapa jenis kaset kese nian barong dibelinya. Kemudian selama beberapa kali, tiap  kali ada kesenian barong Pak Kumis   akan datang dan menyaksikan.

“Anak-anak saya suruh latihan  alat musik. Latihan kompak, begitu  sudah kompak, kita mulai pakai barong,” kata kakek satu cucu itu. Tak lama, anak-anak yang diasuhnya mulai berlatih kesenian barong. Berbekal apa yang dilihatnya selama ini, Pak Kumis mulai memainkan pitik-pitikan dan barong yang diiringi musik gamelan. Pesertanya semua anak-anak, mulai usia 9 tahun  sampai 14 tahun.

“Mereka latihannya semakin rajin. Sekarang, selain alat musik, mereka sudah bisa tari garida, tari yaok, tari  pitik tarung, tari padang bulan, tari bali dan tari macan tawur,” jelas Pak Kumis. Anak-anak yang ingin ikut grup barongnya kemudian semakin  banyak.

Dari tujuh anak yang pertama ikut, sekarang sudah ada 25 anak yang bergabung dengan  kesenian barong milik Pak Kumis. Dia juga rela mendatangi sekolah-sekolah anak asuhnya untuk mengizinkan jika sewaktu-waktu ada tanggapan barong.

“Gurunya mendukung semua. Bahkan ada yang ikut nonton waktu latihan. Mereka senang ada regenerasi  seni Barong,” ujar Pak Kumis sembari membuka bungkus permen yang baru dibawakan salah satu anak asuhnya.  Sambil mengunyah permennya, Pak Kumis mengatakan jika hampir semua biaya dipenuhi sendiri.

Barong, macan-macanan dan pitik-pitikan berukuran anak-anak  dibuat sendiri oleh Pak Kumis. kemudian alat musik seperti kempul, kendang dan saron ada   yang membeli dan membuat sendiri. Sedangkan yang lainnya seperti ceng-ceng (sejenis logam pipih yang biasanya digunakan  dalam seni barongsai) dan reong masih harus menyewa. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :