Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Atraksi Tradisi Tumpeng Sewu Masyarakat Osing Desa Kemiren

atraksi-tradisi-tumpeng-sewu-masyarakat-osing-desa-kemiren
Atraksi Tradisi Tumpeng Sewu Masyarakat Osing Desa Kemiren
10 menit lalu10 Juni 2024oleh administrator

Banyuwangi, Jurnalnews – Desa Kemiren, kembali menggelar tradisi Tumpeng Sewu yang dilakukan setiap bulan haji atau bulan Dzulhijah. Pada tahun 2024, tradisi ini diadakan pada Minggu 9 Juni 2024, dan diikuti oleh ribuan warga yang memadati jalan utama desa Kemiren dengan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi warisan nenek moyang mereka.Tumpeng Sewu digelar setiap tahun seminggu sebelum Idul Adha.

Sejak pukul 18.00 WIB, jalan utama menuju Desa Adat Kemiren ditutup untuk menghormati ritual adat ini. Masyarakat yang berkunjung harus berjalan kaki.Desa Kemiren, yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Tumpeng Sewu yang dilakukan setiap bulan haji atau bulan Dzulhijah. Pada tahun 2024, tradisi ini diikuti oleh ribuan warga yang memadati jalan utama desa Kemiren dengan berjalan kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi warisan nenek moyang mereka.

Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren Banyuwangi menggelar ritual adat Tumpeng Sewu. Suku Osing adalah suku asli Banyuwangi. Tumpeng Sewu ini merupakan tradisi turun temurun makan bersama dengan menggelar seribu tumpeng di pinggir jalan.

Dalam tradisi Tumpeng Sewu ini, seluruh warga Desa Kemiren menyuguhkan makanan khas mereka, pecel pitik, sambil menyapa para tamu yang datang untuk menikmati hidangan tersebut. Tradisi Tumpeng Sewu dinamai demikian karena melibatkan banyak hidangan nasi tumpeng. Tradisi ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan bagaimana masyarakat Kemiren menjalankan kenduri massal di tepi jalan desa.

Orang-orang duduk bersila di atas tikar atau karpet yang tergelar di halaman rumah, tepat di tepi jalan. Beberapa obor dinyalakan untuk menciptakan cahaya temaram.

“Ini merupakan wujud syukur kami kepada Tuhan, dan doa agar kami selalu diberi keselamatan dan dihindari dari bala,” jelas Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.

Prosesi ritual dimulai pada pagi hari dengan tradisi menjemur kasur berwarna khas merah hitam di depan rumah masing-masing. Tradisi ini memiliki makna filosofis untuk membersihkan rumah dan energi negatif dengan mengusir warna hitam, sementara warna merah melambangkan semangat dan keberanian dalam menjalani kehidupan. Kasur tersebut juga memiliki makna yang mendalam sebagai pemberian orang tua kepada anak gadis yang akan menikah.

“Kasur kembali dimasukkan ke dalam rumah masing-masing sekitar pukul 13.00 WIB setelah dianggap bersih,” kata Arifin.

Dalam ritual ini, warga menyuguhkan ribuan tumpeng di sepanjang jalan. Dilengkapi lauk khas osing, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Pecel pitik merupakan hidangan ayam kampung panggang dengan parutan kelapa dan bumbu khas Osing. Menu ini wajib ada dalam setiap tumpeng masyarakat Osing.

Usai salat magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Warga dan pengunjung duduk bersila di atas tikar yang digelar di depan rumah rumah-rumah warga. Suasana guyub, kebersamaan dan keakraban semakin terasa dengan pencahayaan api dari obor. Meskipun banyak yang baru kali pertama bertemu

Sebelum menyantap tumpeng, iring-iringan barong cilik dan barong lancing melakukan Ider Bumi dengan melintasi jalan desa. Barong diarak dari dua sisi timur dan barat, lalu bertemu di titik utama di depan Balai Desa Kemiren. Setelah itu, warga diajak berdoa bersama agar dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman, mengatakan, tradisi dan budaya turun-temurun di Banyuwangi terus tumbuh dan berkembang, hingga menjadi atraksi wisata yang diminati wisatawan.

Saat ini banyak atraksi budaya di Banyuwangi menjadi paket wisata travel agent. Salah satunya Tumpeng Sewu ini.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi, ” ujarnya.

Sementara menurut Suhaimi, sesepuh Desa Kemiren, Tumpeng Sewu adalah tradisi adat suku Osing, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang dilaksanakan pada awal Idul Adha.

“Kami terus melestarikan adat dan tradisi budaya yang sudah berusia ratusan tahun. Semoga kegiatan ini menjauhkan warga Kemiren dari mara bahaya, “pungkas Suhaimi. (Ilham Triadi)

Arsip Pilih Bulan Juni 2024 Mei 2024 April 2024 Maret 2024 Februari 2024 Januari 2024 Desember 2023 November 2023 Oktober 2023 September 2023 Agustus 2023 Juli 2023 Juni 2023 Mei 2023 April 2023 Maret 2023 Februari 2023 Januari 2023 Desember 2022 November 2022 Oktober 2022 September 2022 Agustus 2022 Juli 2022 Juni 2022 Mei 2022 April 2022 Maret 2022 Februari 2022 Januari 2022 Desember 2021 November 2021 Oktober 2021 September 2021 Agustus 2021 Juli 2021 Juni 2021 Mei 2021 April 2021 Maret 2021 Februari 2021 Januari 2021 November 2020 Oktober 2020 September 2020 Agustus 2020 Juli 2020 Juni 2020 Mei 2020 April 2020 Maret 2020 Februari 2020 Januari 2020 Desember 2019 November 2019 Oktober 2019 September 2019 Agustus 2019 Juli 2019 Juni 2019 Mei 2019 April 2019 Maret 2019 Februari 2019 Januari 2019 Desember 2018 November 2018 Oktober 2018 September 2018 Agustus 2018 Juli 2018 Juni 2018 Mei 2018 April 2018 Maret 2018 Februari 2018 Januari 2018 Desember 2017 November 2017 Oktober 2017 September 2017 Agustus 2017 Juli 2017 Juni 2017 Mei 2017 April 2017 Januari 2013 Desember 2012 Januari 1970